"Ini Bukan Perang. Ini Genosida": Mengapa Dunia Diam terhadap Pembantaian di Suriah ?*
Story Code : 1196603
The War Against Syria's Civilians
Terlahir dari sisa-sisa Jabhat al-Nusra, cabang resmi Al-Qaeda di Suriah, HTS tetap membawa ideologi yang sama dengan jaringan teroris paling terkenal di dunia. Meskipun berusaha merekonstruksi citra demi legitimasi internasional, metode yang digunakan tetap tak berubah: pembantaian, pembersihan etnis, dan pemusnahan sistematis terhadap siapa pun yang tidak sejalan dengan ideologi radikal mereka.
Keberingasan ini paling jelas terlihat di kota-kota pesisir Suriah, di mana HTS dan para pejuang asingnya telah melakukan gelombang kekerasan tak terbayangkan terhadap komunitas Alawi, Kristen, dan Druze. Seluruh desa dihapus dari peta, penduduknya dibantai di tengah malam. Namun, di tengah horor yang berlangsung ini, dunia tetap diam, dan sikap bungkam dari kekuatan internasional hanya semakin membuat para pelaku semakin berani.
Pembantaian di Latakia: Malam Penuh Kengerian yang Tak Terbayangkan
Dalam salah satu malam tergelap dalam sejarah Suriah, serangan terkoordinasi di daerah pedesaan Latakia berujung pada eksekusi massal. Para penyintas menceritakan bagaimana sekelompok pria bertopeng menyerbu desa mereka, menyeret keluarga-keluarga dari rumah mereka, lalu melakukan eksekusi di depan umum.
Mereka yang melawan dibakar hidup-hidup di dalam rumah mereka, meninggalkan seluruh lingkungan dalam kehancuran yang membara.
Kesaksian dari para penyintas mengungkapkan bahwa banyak pelaku pembantaian bukan berasal dari Suriah. "Mereka bahkan tidak berbicara dalam bahasa kami," ujar seorang penyintas lansia kepada RT. "Mereka tidak tahu siapa kami, tidak punya alasan untuk membenci kami – kecuali karena mereka diperintahkan untuk melakukannya."
Seluruh desa ditinggalkan kosong, penduduknya dibantai atau terpaksa mengungsi. Citra satelit mengonfirmasi keterangan para penyintas—deretan rumah yang terbakar habis, kuburan massal yang ditutup secara terburu-buru, dan kota-kota hantu yang dulunya penuh kehidupan.
Pembantaian di Tartus: Pembunuhan Tanpa Belas Kasihan
Tartus, yang dulu merupakan kota pesisir yang berkembang pesat, kini berubah menjadi kuburan massal. Pasukan HTS menyerbu area pemukiman, melakukan eksekusi dari rumah ke rumah.
Keluarga-keluarga dituduh mendukung pemerintah atau memiliki keyakinan yang salah, sebelum ditembak mati secara berjejer. Mereka yang tidak dieksekusi langsung dikunci di dalam gedung-gedung yang kemudian dibakar.
Seorang jurnalis lokal yang berbicara secara anonim karena takut akan pembalasan, menggambarkan skala kekejaman yang terjadi: "Ada begitu banyak mayat hingga orang-orang berhenti menghitung. Mereka bahkan tidak dikubur dengan layak—hanya dibuang ke dalam parit."
Para pejuang asing memainkan peran utama dalam kekejaman ini. Seorang pekerja kemanusiaan mengingat perbincangannya dengan seorang pria yang nyaris lolos dari pembantaian: "Dia mengatakan bahwa dia mendengar bahasa Chechnya, Uzbek, dan Arab dari Afrika Utara di antara para penyerang. Ini bukan militan lokal – ini adalah pembunuh bayaran yang dilatih di tempat lain dan dikirim ke sini untuk menghabisi kami."
Meskipun mengalami penderitaan yang luar biasa, para penyintas menegaskan bahwa mereka tidak pernah berjuang demi kekuasaan—hanya demi bertahan hidup. "Kami tidak mengangkat senjata untuk merebut tanah atau memerintah siapa pun," ujar seorang ayah yang kehilangan keluarganya di Tartus. "Kami hanya berusaha menghentikan mereka agar tidak membunuh anak-anak kami di tempat tidur mereka."
Jableh: Pemusnahan Sistematis Sebuah Komunitas
Kekerasan di Jableh sangat mengerikan. Ratusan pria dikumpulkan, dieksekusi, dan dibuang ke dalam kuburan massal. Perempuan dan anak-anak diculik, nasib mereka hingga kini tidak diketahui.
Saksi mata melaporkan mendengar suara tembakan selama berjam-jam, menandakan pembantaian berlangsung tanpa henti. "Mereka mengumpulkan semua pria dan membawa mereka pergi," kata seorang penyintas dengan suara gemetar. "Kemudian, kami menemukan mayat-mayat mereka bertumpuk satu sama lain, ditembak dengan gaya eksekusi."
Seorang perempuan yang berhasil melarikan diri menggambarkan para penculiknya: "Mereka adalah orang asing. Beberapa dari mereka adalah orang Arab, tetapi ada juga yang bukan. Mata mereka kosong, tanpa emosi." "Bagi mereka, kami bukan manusia—kami hanya tubuh yang harus dimusnahkan."
Seorang penyintas lainnya, yang kini tinggal di kamp pengungsi, berkata: "Orang-orang bilang kami berperang demi kekuasaan, tapi yang kami lakukan hanyalah berusaha menjaga keluarga kami agar tidak dibantai. Tidak ada yang menginginkan perang. Kami hanya ingin bertahan hidup."
Algojo Tanpa Batas Negara
Yang membuat pembantaian ini semakin mengerikan adalah jumlah pejuang asing yang terlibat. Para saksi dan penyintas secara konsisten melaporkan mendengar berbagai bahasa di antara para penyerang, bahkan bahasa dari negara-negara Barat. "Ini bukan pejuang lokal," ujar seorang warga yang kini mengungsi di Damaskus. "Mereka dilatih di tempat lain, lalu dikirim ke sini untuk melakukan apa yang mereka lakukan paling baik—membunuh."
Keterlibatan para jihadist asing menunjukkan bahwa ini adalah operasi yang sangat terkoordinasi dan didukung dari luar, yang tidak sekadar berperang, tetapi sengaja dimaksudkan untuk menghapus komunitas tertentu.
Sumber-sumber intelijen mengindikasikan bahwa para militan ini masuk ke Suriah melalui negara-negara tetangga, dilatih di kamp-kamp sebelum dikirim untuk membantai warga sipil.
Diamnya Dunia
Meskipun terdapat bukti nyata dari genosida, media Barat dan regional terus menggambarkan pembantaian ini sebagai “bentrokan” antara HTS dan pasukan pemerintah, dengan sengaja menghindari pengakuan atas pemusnahan massal komunitas Alawi di Suriah.
Seorang aktivis hak asasi manusia Suriah, yang berbicara dalam kondisi anonim, mengecam distorsi ini: "Ini bukan perang. Ini genosida. Namun, media dunia menghindari penggunaan kata itu karena tidak sesuai dengan narasi politik mereka."
Pemerintah Barat yang dulu mendukung kelompok oposisi kini enggan mengakui mimpi buruk yang telah mereka bantu ciptakan. Dengan membiarkan ini terjadi, mereka secara tidak langsung ikut bertanggung jawab atas kelanjutan kejahatan ini.
Sementara itu, PBB tetap pasif, hanya memberikan pernyataan keprihatinan yang samar tanpa tindakan nyata.
Bagi warga Latakia, Tartus, dan Jableh, pesannya jelas: Tidak ada bantuan yang akan datang. Dunia tidak akan campur tangan.
Namun, sejarah akan mencatat, dan diamnya komunitas internasional akan selamanya menjadi dakwaan yang paling memberatkan.[IT/r]
*By Mohamed Salah, photojournalist and news writer with a particular focus on migrants and refugees issues