0
Thursday 14 August 2025 - 03:02
Politik AS:

NI: Mengapa Strategi AS Saat Ini Gagal di Asia Barat

Story Code : 1226798
A group of Palestinians sit in the shade of their tent amid destroyed buildings on a hot summer day in Gaza City
A group of Palestinians sit in the shade of their tent amid destroyed buildings on a hot summer day in Gaza City
Seiring negosiasi gencatan senjata antara Perlawanan Palestina dan Zionis "Israel" terus menemui jalan buntu, dengan Amerika Serikat menarik tim negosiasinya dari Qatar, sebuah pola yang familiar muncul dalam diplomasi AS di Asia Barat. Leon Hadar, seorang Peneliti Senior di Foreign Policy Research Institute, berpendapat dalam The National Interest bahwa siklus ini mengungkap kelemahan yang mengakar dalam kebijakan AS di Gaza dan strategi Amerika di Asia Barat.

Inti dari kritik Hadar terletak pada kontradiksi fundamental dalam kebijakan luar negeri AS di Asia Barat: AS menampilkan dirinya sebagai mediator netral antara "Israel" dan Perlawanan Palestina, sementara memberikan dukungan politik dan militer tanpa syarat kepada satu pihak.

Hal ini menimbulkan pertanyaan kunci: bagaimana Washington bisa menjadi perantara yang jujur sementara memveto resolusi Dewan Keamanan PBB untuk gencatan senjata permanen dan mendukung operasi militer Zionis Israel tanpa syarat?

Bagi Hadar, hal ini mencerminkan kebingungan strategis yang lebih mendalam tentang peran AS dalam urusan global, bukan inkonsistensi taktis. Keyakinan bahwa setiap konflik regional menuntut solusi Amerika, dan bahwa solusi-solusi ini secara inheren lebih unggul daripada alternatif lokal, telah berulang kali membawa diplomasi AS ke jalan buntu.

Perundingan gencatan senjata Gaza dan ilusi kendali
Hadar menekankan bahwa para pembuat kebijakan AS masih beroperasi dengan asumsi-asumsi usang tentang pengaruh mereka. Kegagalan perundingan gencatan senjata Gaza di Doha menggambarkan bahwa AS bukan lagi kekuatan penentu dalam membentuk peristiwa di kawasan tersebut, sebuah kebenaran pahit yang dibantah Washington.

Hal ini terlihat jelas ketika membandingkan perspektif para pejuang dengan kerangka kerja para negosiator AS. Bagi Perlawanan, bertahan hidup setelah berbulan-bulan berperang sambil mempertahankan kehadiran di Gaza merupakan bentuk kemenangan, terlepas dari kerugian materi.

Sementara itu, diplomasi AS berfokus pada jadwal waktu yang terperinci, seperti jadwal pembebasan tawanan 60 hari, yang mencerminkan prioritas birokrasi alih-alih taruhan eksistensial yang mendorong para pejuang Perlawanan.

Solusi regional harus diprioritaskan
Dengan menempatkan perang di Gaza dalam konteks keamanan yang lebih luas, Hadar berpendapat bahwa kekerasan yang berulang bermula dari masalah struktural regional yang seringkali diabaikan oleh kebijakan AS. Gencatan senjata sementara yang diikuti oleh pertempuran baru lebih dari sekadar gejala pendudukan Israel atas Palestina, tetapi juga ketidakmampuan Washington untuk menciptakan kerangka kerja regional yang berkelanjutan, menurut Hadar.

Kesepakatan normalisasi, catatnya, menunjukkan apa yang dapat dicapai diplomasi AS dengan kejelasan strategis, yang memungkinkan normalisasi Arab-Israel tanpa menyelesaikan masalah Palestina. Namun, perang yang sedang berlangsung di Gaza menunjukkan keterbatasan pendekatan tersebut, karena sengketa yang belum terselesaikan terus memicu ketidakstabilan.

Hadar mengusulkan pergeseran ke arah apa yang disebutnya "realisme strategis" dalam kebijakan AS di Gaza dan strategi Asia Barat yang lebih luas. Ini melibatkan tiga perubahan besar.

Yang pertama melibatkan pemberdayaan aktor regional, seperti Mesir, Yordania, Arab Saudi, dan Turki, untuk memimpin pemerintahan dan rekonstruksi Palestina. Perubahan kedua mencakup membangun kemitraan ekonomi antara Palestina dan negara-negara Arab tetangga untuk mengurangi ketergantungan pada bantuan Israel dan internasional, serta mendorong stabilitas jangka panjang. Dan ketiga, Hadar berpendapat AS harus memfokuskan sumber daya diplomatik pada situasi di mana Washington memiliki pengaruh dan kepentingan strategis yang nyata.

Biaya Inkoherensi Strategis
Hadar yakin bahwa pendekatan AS saat ini, yang menggabungkan dukungan militer tanpa syarat untuk Zionis "Israel" dengan seruan retorika untuk menahan diri secara kemanusiaan, tidak memuaskan logika strategis maupun kejelasan moral. Hal ini mengasingkan mitra regional Washington dan gagal memenuhi tujuan kemanusiaan.

Dengan menghindari pertanyaan mendasar tentang tata kelola jangka panjang dan pengaturan keamanan, Washington melanggengkan siklus konflik dengan mengabaikan akar permasalahan dan hanya menangani gejalanya. Dengan demikian, gencatan senjata menjadi sekadar jeda dalam kekerasan, bukan langkah menuju resolusi.

Hadar tidak menyerukan penarikan AS dari Asia Barat. Sebaliknya, ia menganjurkan keterlibatan selektif, fokus pada tujuan yang dapat dicapai yang didasarkan pada penilaian realistis terhadap pengaruh AS. Hal ini membutuhkan pemahaman tentang apa yang dapat dan tidak dapat dikendalikan oleh AS. Tanpa "realisme" semacam itu, kegagalan diplomatik seperti perundingan gencatan senjata Gaza baru-baru ini akan tetap menjadi hal yang biasa.

Meskipun berfokus pada krisis Gaza, analisis Hadar memiliki implikasi yang lebih luas. Asumsi keistimewaan diplomatik AS, gagasan bahwa solusi yang dipimpin AS secara inheren lebih unggul, telah menyebabkan kemunduran berulang di seluruh dunia.

Perang di Gaza menjadi studi kasus tentang batas-batas kekuatan AS dan perlunya kebijakan yang menghormati realitas regional, menurut analisis Hadar. Kemampuan para pembuat kebijakan Amerika untuk beradaptasi dengan lanskap multipolar ini akan menentukan apakah diplomasi Asia Barat di masa depan dapat menghindari pengulangan kesalahan masa lalu.[IT/r]
Comment