Guncangan Mamdani: Bagaimana Seorang Pemberontak Sayap Kiri Mengalahkan AIPAC dan Menulis Ulang Aturan New York
Story Code : 1245531
Zohran Mamdani declared victory in the Democratic mayoral primary
Ketika hasil pemilihan mulai masuk di Queens Night Market, arah perlombaan sudah terlihat jelas: anggota Majelis Negara Bagian, Zohran Mamdani, menyatakan kemenangan dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat pada bulan Juni, lebih cepat dari perkiraan banyak pihak.
Menurut CBS News New York, ia mengalahkan mantan Gubernur Andrew Cuomo melalui sistem pemungutan suara berperingkat (ranked-choice voting) di kota tersebut, menarik perhatian publik secara luas. Dalam pemilihan umum bulan November, ia kemudian memenangkan jabatan tertinggi di kota itu, menjadi wali kota ke-111 New York City. The Guardian melaporkan bahwa kemenangan mengejutkan ini mengguncang Partai Demokrat baik di tingkat lokal maupun nasional.
Kelompok pro-“Zionis Israel” menghabiskan jutaan dolar untuk iklan negatif yang menargetkan Mamdani, tetapi para pendukungnya mengatakan upaya itu justru berbalik arah. Menurut Al Jazeera, serangan tersebut memicu semangat pemilih muda dan relawan baru, alih-alih menurunkan partisipasi. Hasil jajak pendapat keluar menunjukkan bahwa pemilih berusia di bawah 35 tahun mendukungnya secara besar-besaran, dan sebagian pemilih Yahudi juga memberikan suara untuknya meski berbeda pandangan soal “Zionis Israel.”
Dari Kampala ke Balai Kota
Zohran Mamdani lahir di Kampala, Uganda, dari keluarga Muslim keturunan India, dan pindah ke New York pada usia tujuh tahun. Ia pernah bekerja sebagai konselor perumahan sebelum memenangkan kursi di Majelis Negara Bagian New York. Profil publik menggambarkannya sebagai seorang Muslim taat dan sosialis demokrat yang pandangan dunianya dipengaruhi oleh sejarah keluarganya dalam perjuangan antikolonial.
Kampanyenya menitikberatkan pada keterjangkauan perumahan, transportasi bus gratis, dan upah minimum $30 per jam pada tahun 2030—kebijakan yang menurutnya akan menguntungkan kelas pekerja New York. Menurut situs resmi kampanyenya, misinya adalah “membangun martabat dan peluang bagi komunitas yang selama ini terpinggirkan oleh status quo.”
Koalisi yang Tak Mengingat Rabin
Mamdani membangun koalisi lintas ras, agama, usia, dan wilayah. Di Jackson Heights, relawan membagikan selebaran dalam bahasa Hindi, Bangla, dan Spanyol; sementara di Astoria, kelompok Yahudi progresif mengadakan makan malam Shabbat yang sekaligus berfungsi sebagai pusat panggilan pemilih (phone bank), demikian dilaporkan The Guardian.
Generasi muda Yahudi, menurut Pew Research, kini jauh lebih sedikit yang menganggap “Zionis Israel” sebagai inti identitas mereka—pergeseran yang oleh Ester Fuchs dari Universitas Columbia disebut sebagai “pemisahan antara ke-Yahudi-an dan Zionisme.” Perubahan itu, kata para pendukungnya, melemahkan kekuatan jaringan lobi pro-“Zionis Israel” tradisional di kota tersebut.
Ketukan Pintu Mengalahkan Donatur
Kampanye Mamdani digerakkan oleh energi akar rumput, bukan oleh sumbangan besar. Reuters melaporkan bahwa relawan kampanyenya melakukan kontak tiga kali lebih banyak dibanding tim Cuomo.
Donasi mikro dengan rata-rata di bawah $50 dan kampanye media sosial yang viral mendorong momentum. Manajer kampanye Andi Novick mengatakan kepada Los Angeles Times bahwa operasi mereka “berfungsi seperti organisme terdesentralisasi yang bergerak lebih cepat daripada super-PAC mana pun.”
Hasilnya: kemenangan telak yang menegaskan posisinya sebagai kekuatan progresif besar baru.
Luka yang Ditimbulkan AIPAC Sendiri
Peran American “Israel” Public Affairs Committee (AIPAC) dalam pemilihan ini mendapat sorotan tajam. Menurut Politico, jajak pendapat internal menunjukkan bahwa sebagian besar intervensi AIPAC justru meningkatkan partisipasi pendukung Mamdani—seorang ahli strategi bahkan menyebutnya, “Kami menjadi penjahat dalam filmnya.”
The Guardian menggambarkan gelombang iklan serangan tersebut sebagai langkah keliru di sebuah kota di mana generasi muda Yahudi dan Muslim sedang mencari aliansi politik baru. Uang pro-“Israel” semata ternyata tak mampu melindungi kandidat mapan dari kekuatan organisasi akar rumput dan perubahan generasi.
Norma Baru
Dalam pidato kemenangannya, Mamdani mengutip pahlawan kemerdekaan Ghana, Kwame Nkrumah: “Kami lebih memilih pemerintahan sendiri yang penuh bahaya daripada perbudakan dalam ketenangan.” Massa pun meneriakkan “Bebaskan Palestina!”, namun pesan itu melampaui isu kebijakan luar negeri—kemenangannya menunjukkan lahirnya generasi baru yang menantang struktur kekuasaan lama di Amerika.
Mark Mellman dari kelompok pro-“Zionis Israel” Democratic Majority for Israel memperingatkan bahwa “tidak ada petahana yang aman” jika Partai Demokrat membiarkan sayap progresifnya menentukan arah kebijakan. Sementara itu, Alexandra Rojas dari Justice Democrats mengatakan bahwa Mamdani telah membuktikan “bahwa Anda bisa menang dengan platform menaikkan pajak bagi orang kaya, menghapus utang sewa, dan menggerakkan mesin politik multiras.”
Apa Artinya
Kemenangan Mamdani lebih dari sekadar peristiwa lokal—ia mungkin menandai titik balik dalam politik Amerika. Kemenangan ini menunjukkan bahwa kandidat bisa sukses tanpa bergantung pada jaringan donor tradisional atau daya tarik identitas kelompok tertentu. Ia juga menandakan bahwa pemilih muda, baik Yahudi maupun non-Yahudi, kini lebih memprioritaskan keadilan domestik, perumahan, dan biaya hidup, ketimbang kesetiaan otomatis pada kebijakan luar negeri.
Bagi AIPAC dan organisasi lobi lainnya, pesannya jelas: pengaruh yang dibangun atas dasar uang dan identitas tak lagi menjamin kendali di tengah bangkitnya pemilih progresif muda. Ketika Washington memperhatikan, satu hal pasti—aturan permainan politik Amerika sedang berubah.[IT/r]