Perbedaan dalam Hubungan Washington-Tel Aviv dalam Kasus Iran | Akhir dari Keistimewaan Israel; Paradigma Baru untuk Kebijakan AS
Story Code : 1258253
Iranian nuclear reactor
Majalah Foreign Affairs dalam laporannya yang menjelaskan bahwa keistimewaan yang dimiliki rezim Zionis dalam hubungan dengan AS telah berakhir, menulis: mendefinisikan ulang hubungan AS-Zionis Israel dapat memberikan alat yang lebih efektif untuk menanggulangi aneksasi Tepi Barat, sekaligus membuka jalur untuk mencegah program nuklir Iran, dengan syarat bahwa aliansi AS-Zionis Israel tidak lagi bersifat "istimewa dan tidak bertanggung jawab."
Majalah Foreign Affairs menerbitkan laporan rinci dengan judul "Akhir dari Keistimewaan Zionis Israel; Paradigma Baru untuk Kebijakan AS" yang pada edisi keempat dan terakhir menyatakan sebagai berikut:
Washington harus bersikeras bahwa AS dan [rezim] Zionis Israel menghindari campur tangan dalam politik pemilu dan afiliasi satu sama lain. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah berulang kali memasuki politik domestik AS untuk memajukan agendanya; misalnya, pada tahun 2012, meskipun tidak secara resmi, ia mendukung calon presiden dari Partai Republik, Mitt Romney, dan pada tahun 2015, atas undangan anggota Republik, ia berpidato di sesi bersama Kongres untuk mengecam kesepakatan nuklir Iran.
Pemerintah AS juga telah terlibat dalam politik domestik Zionis Israel, meskipun dengan frekuensi yang lebih sedikit; contoh paling mencolok adalah upaya pemerintah Bill Clinton untuk memperkuat pesaing Netanyahu dalam pemilu perdana menteri 1996, yaitu Shimon Peres, ketika beberapa waktu sebelum pemilihan, ia diundang ke Gedung Putih.
Campur Tangan Partisan Zionis Israel dalam Politik AS dan Erosi Aliansi Bilateral
Masalahnya bukanlah ketika sebuah negara (rezim Zionis) memberikan pendapat tentang tindakan negara lain atau bertemu dengan politisi dan pejabat oposisi; masalahnya adalah ketika hal tersebut dilakukan dengan tujuan memperkuat satu partai tertentu. Tidak ada pemerintahan AS yang akan mentolerir campur tangan terbuka yang dilakukan oleh Zionis Israel. Perilaku seperti ini tidak sesuai dengan semangat kerja sama yang seharusnya ada antara sekutu.
Dalam hubungan AS-Zionis Israel, proses ini telah merugikan kedua belah pihak. Dukungan terbuka Netanyahu terhadap Partai Republik tidak hanya memberinya kesempatan untuk melemahkan kebijakan yang didukung mayoritas warga AS, tetapi juga turut mengurangi dukungan dari Partai Demokrat terhadap Zionis Israel. Hubungan diplomatik yang lebih normal tidak dapat berjalan jika salah satu negara berperan sebagai "aktor politik partisan."
Normalisasi Hubungan; Tanpa Melemahkan Kerja Sama dan Tanpa Mengabaikan Tanggung Jawab
Normalisasi hubungan AS-Zionis Israel tidak bisa dan tidak harus mengganggu kerja sama kedua belah pihak di bidang intelijen, teknologi, dan perdagangan; sama halnya seperti tidak seharusnya membebaskan politisi Palestina dari tanggung jawab untuk mereformasi Otoritas Palestina atau membebaskan Hamas dari kesalahannya pada 7 Oktober. Namun, normalisasi ini dapat membuka jalan bagi hasil kebijakan yang lebih baik.
Pertama, AS akan berada dalam posisi yang lebih kuat untuk mencegah aneksasi Tepi Barat oleh Zionis Israel; langkah yang tidak hanya bertentangan dengan kepentingan AS, tetapi juga dengan hak-hak Palestina. Sebuah diskusi proaktif harus memperjelas definisi AS tentang "aneksasi" dan menjelaskan bagaimana Washington akan merespons jika ZionisIsrael mengambil langkah tersebut.
Sebuah kesepahaman bersama yang menyatakan bahwa Washington akan secara serius mempertimbangkan opsi kebijakan yang lebih ketat—seperti kritik publik atau pemotongan bantuan militer ke Zionis Israel—dapat membantu menanggulangi aneksasi.
Sementara itu, penangguhan bantuan militer kepada unit-unit tentara Zionis Israel yang terlibat dalam pembangunan pemukiman di Tepi Barat akan menunjukkan komitmen AS terhadap penghormatan hukum internasional; hukum yang melarang Zionis Israel untuk menetap di wilayah yang didudukinya. Secara keseluruhan, jika hubungan Zionis Israel dengan AS lebih normal, biaya aneksasi Tepi Barat bagi Zionis Israel akan meningkat, dan kemungkinan untuk melakukannya akan berkurang.
Normalisasi Hubungan sebagai Alat untuk Menahan Program Nuklir Iran
Hubungan yang lebih normal antara AS dan Zionis Israel juga dapat menyediakan dasar untuk upaya bersama yang lebih berkelanjutan dalam mencegah program nuklir Iran. Jika Washington dapat mendapatkan persetujuan Zionis Israel untuk menahan diri dari beberapa jenis aksi militer dengan imbalan komitmen bahwa jika Iran melampaui ambang batas yang telah disepakati, AS akan bergabung dalam respons militer, negosiasi nuklir dengan Iran mungkin dapat dimulai kembali.
"Penyanderaan" dapat memainkan peran konstruktif dalam kebijakan ini: AS dapat menghentikan penjualan senjata jika Zionis Israel menyerang tanpa persetujuan AS; atau jika Iran menghidupkan kembali program nuklir atau rudal balistiknya, AS dapat menjanjikan bantuan tambahan untuk pertahanan rudal Zionis Israel. Bahkan, mungkin akan lebih mudah menciptakan dukungan bipartisan di AS untuk tindakan agresif terhadap Iran, jika Israel menahan diri dari campur tangan dalam debat politik domestik AS mengenai isu ini.
Biaya Dukungan Tanpa Syarat dan Kebutuhan untuk Beralih dari Aliansi yang Merusak
Dekade-dekade dukungan tanpa syarat AS terhadap Israel, bukannya memajukan perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah, justru telah melemahkan keduanya. Palestina adalah korban utama dari kegagalan ini, tetapi AS dan Zionis Israel juga telah membayar harganya. Dan selama masalah mendasar dalam hubungan bilateral ini tidak diselesaikan, biaya tersebut hanya akan meningkat. Jika hubungan ini akan bertahan, AS dan Zionis Israel harus menyesuaikan diri dengan kondisi baru dan beralih dari kerjasama yang "istimewa tetapi merusak" menuju hubungan yang lebih normal; hubungan yang masih dapat menjadi dasar bagi sebuah aliansi.
Hambatan Politik untuk Penataan Ulang Hubungan di Era Trump dan Netanyahu
Selama Trump berada di Gedung Putih dan Netanyahu serta koalisi ekstremisnya memegang kendali hubungan ini, tidak mungkin Washington sepenuhnya berkomitmen pada pendekatan baru yang konsisten dan terlembaga. Namun, masih ada waktu untuk mulai memeriksa apa yang salah dan bagaimana harus diperbaiki. Jika kesempatan untuk menata ulang hubungan yang semakin rentan antara AS dan Israel ini terlewatkan, hasilnya akan merugikan warga AS, Zionis Israel, dan Palestina.[IT/r]