0
Wednesday 13 May 2026 - 00:38
"Lili Saleh", Peneliti Sosial Lebanon, dalam Wawancara dengan Islam Times:

Wanita Masa Kini Adalah Penjaga Identitas dan Pilar Utama Kekuatan Lunak dalam Poros Perlawanan

Story Code : 1279785
Wanita Masa Kini Adalah Penjaga Identitas dan Pilar Utama Kekuatan Lunak dalam Poros Perlawanan
Islam Times.com' target='_blank'>Islam Times - Dalam beberapa tahun terakhir, literatur tentang transformasi sosial di kawasan telah bergerak semakin menuju pendefinisian ulang peran kelompok-kelompok sosial dalam membentuk stabilitas dan ketahanan masyarakat. Dalam hal ini, pembahasan tentang peran perempuan tidak lagi terbatas pada kerangka tradisional atau semata-mata keluarga, tetapi telah mencapai tingkat analisis sosial dan budaya makro di mana perempuan dikaji sebagai salah satu elemen berpengaruh dalam produksi makna, transmisi nilai, dan pemantapan identitas kolektif. Perubahan perspektif ini merupakan hasil dari pengalaman hidup masyarakat yang terlibat dalam krisis politik, perang, rekonstruksi, dan konflik identitas, di mana tindakan-tindakan lunak dan bertahap telah menemukan peran yang setara dengan tindakan keras dan di lapangan. Dalam konteks seperti ini, mengkaji posisi perempuan bukan hanya isu gender, tetapi merupakan bagian dari pemahaman mekanisme kekuasaan, budaya, dan kelangsungan sosial.

Peran Perempuan di Semua Medan, Setara dengan Pahlawan Pria
Lili Saleh
, peneliti sosial Lebanon, dalam wawancara dengan Islam Times.com' target='_blank'>Islam Times menegaskan bahwa di Palestina, Lebanon, Yaman, Iran, Irak, dan semua medan, perempuan telah masuk ke dalam medan budaya. Mereka hadir secara aktif dan efektif dalam menjelaskan fakta-fakta dan membangun narasi-narasi perlawanan dan kemenangan. Mereka berpartisipasi dalam demonstrasi, mengorganisir perkumpulan, dan menorehkan epik-epik yang tidak kalah dengan epik yang ditorehkan para pria di medan militer.

"Prajurit Tak Dikenal" dan "Pemandu yang Penuh Syukur"
Mengenai sejauh mana peran perempuan dalam mendidik generasi perlawanan sebagai faktor fundamental dalam kelangsungan perlawanan, Lili Saleh menjelaskan bahwa perempuan dalam poros perlawanan adalah "prajurit tak dikenal" dan "pemandu yang penuh syukur" yang telah mengubah pertempuran menjadi sebuah kinerja yang terintegrasi antara pria dan wanita. Ia menegaskan bahwa perlindungan darah para syuhada dengan kesabaran dan kesadaran yang ditunjukkan oleh para ibu memastikan bahwa darah para syuhada tidak sia-sia dan jalan terus berlanjut.
Ia juga menambahkan bahwa di Gaza, Lebanon, dan Iran, perempuan dengan mengubah kondisi sulit dan "kelemahan" menjadi "kekuatan" menunjukkan bahwa pembantaian massal tidak mampu melumpuhkan masyarakat. Seruan "Hasbunallah wa ni'mal wakeel" (Cukuplah Allah bagi kami dan Dia sebaik-baiknya pelindung) telah menjadi simbol global perlawanan dan pada saat yang sama, mengungkap kerapuhan hegemoni sombong para penindas dan rezim Zionis yang kriminal.

Kemampuan Mengelola Krisis di Bawah Bom
Saleh selanjutnya merujuk pada kemampuan perempuan dalam mengelola krisis; melalui pemberdayaan keluarga dalam mengatur urusan kehidupan sehari-hari di bawah bombardir, yang dengannya mereka menjaga kelangsungan hidup meskipun ada operasi teror, penghancuran, dan genosida yang meluas, hingga sampai pada melembagakan nilai-nilai jihad dan kesabaran serta mentransfer memori kolektif kepada generasi baru.

Perempuan Iran Pasca-Revolusi: Lompatan Kualitatif dan Harmoni Peran Unik
Dalam lanjutan wawancara ini, diajukan pertanyaan apakah perempuan dapat dianggap sebagai tiang kemah dalam ketahanan budaya dan ideologis poros perlawanan? Kemudian pembahasan beralih ke perempuan Iran pasca-revolusi dan perubahan apa yang terjadi pada cara pandang dunia terhadap "perempuan Muslim" pasca-revolusi. Lili Saleh menjawab bahwa sejak kemenangan Revolusi Islam, peran dan posisi perempuan di segala bidang, terutama bidang politik, mengalami lompatan kualitatif, sedemikian rupa sehingga peran perempuan dalam pengambilan keputusan di semua tingkat menjadi nyata.

Ia melanjutkan, Imam Khomeini (semoga Allah meridhainya), pendiri Revolusi Islam, memandang perempuan sebagai pemimpin dan pelopor revolusi. Hal ini menjadi motivasi bagi masuknya perempuan ke semua bidang. Perempuan Iran, di bawah naungan revolusi Islam, ditempatkan di banyak posisi di dewan kota, pemerintahan daerah, dan jabatan administratif, sehingga ia mendapatkan andil dalam proses pengambilan keputusan.

Peneliti sosial Lebanon ini menambahkan bahwa upaya dilakukan oleh hegemoni Barat untuk mendistorsi citra perempuan Iran pasca-revolusi agar peran aktifnya di semua bidang tersembunyi. Namun, perempuan Iran menghadirkan sebuah teladan yang menunjukkan bahwa ia dapat memiliki aktivitas sosial yang positif dan sekaligus menjalankan tugas-tugasnya di dalam keluarga. Perubahan yang dilakukan perempuan pasca-revolusi adalah semacam "koordinasi dalam peran unik" nya, seperti yang digambarkan oleh Pemimpin Revolusi. Koordinasi antara tanggung jawab dalam keluarga yang tidak bertentangan dengan kehadirannya di masyarakat. Peran perempuan dalam keluarga adalah peran yang unik, dan peran yang ia mainkan di masyarakat juga unik, dan tidak seorang pun selain perempuan yang dapat melakukannya. Dengan demikian, wajar jika teladan baru perempuan ini tidak dapat diterima oleh masyarakat Barat, karena ini akan menghancurkan semua rencana mereka. Perempuan Iran ingin bersinar di beberapa bidang dengan tanggung jawab yang beragam, dan ia benar-benar telah melakukannya, sehingga banyak penemu, inovator, penulis, dan profesor universitas di negeri ini adalah perempuan.

Peran Kunci Perempuan Iran dalam Mendukung Revolusi
Menjawab pertanyaan tentang peran terpenting perempuan Iran dalam mendukung revolusi, ia menjelaskan bahwa peran terpentingnya adalah partisipasi lapangan yang aktif. Ribuan perempuan turun ke jalan dan berpartisipasi dalam demonstrasi besar-besaran melawan sistem Shah, memecahkan ketakutan. Kehadiran mereka di lapangan menjadi penopang legitimasi populer yang luas bagi revolusi.
Saleh melanjutkan bahwa pembentukan "kekuatan lapangan dan aktif di kancah" dalam demonstrasi juga menjadi sorotan; partisipasi perempuan digambarkan sebagai "kekuatan baru dan berpengaruh" yang mendampingi para pria.
Ia menegaskan bahwa perempuan aktif di semua bidang dan juga memikul peran-peran langsung, termasuk:
  1. Penyampaian pesan dan informasi: Perempuan menyebarkan selebaran, pesan, dan pengumuman politik yang mendukung revolusi. Hari ini pun mereka hadir dengan kuat di media perlawanan. Kehadiran media perempuan terlihat nyata ketika menyempurnakan berita saat penyerangan terhadap gedung media.
    Dukungan logistik bagi para pejuang: Perempuan berperan dalam mengatur penyediaan makanan bagi pasukan, mentransfer peralatan militer, melakukan peran intelijen, dan bahkan berpartisipasi dalam beberapa pertempuran. Mereka masih melanjutkan peran ini di medan perang ketiga yang dipaksakan terhadap Iran, di mana perempuan dalam sel-sel krisis di rumah mereka memberikan dukungan logistik bagi para pejuang melalui penyediaan makanan untuk garis depan.
    Komitmen terhadap slogan perempuan revolusioner: Perempuan mengadopsi jilbab (cadar) sebagai simbol identitas Islam dan perlawanan terhadap westernisasi.
Perang Media Melawan Citra Perempuan Iran
Lili Saleh menambahkan bahwa ada perang media besar-besaran untuk menggunakan perempuan sebagai alat memajukan rencana-rencana curiga, termasuk contoh seperti "Mahsa Amini" , tetapi perempuan Iran dalam berbagai konferensi di Iran menunjukkan citra dirinya yang sebenarnya melalui pengenalan pencapaian-pencapaiannya di semua bidang dalam mendukung revolusi dan melindungi sistem politik dari dominasi dan kesombongan global.

Transmisi Konsep Revolusi ke Generasi Muda oleh Perempuan Iran
Mengenai bagaimana perempuan Iran mentransmisikan konsep-konsep revolusi ke generasi muda, ia menjawab bahwa perempuan mentransmisikannya melalui beberapa jalur utama:
  • Pendidikan dan pengajaran: Menekankan peran perempuan sebagai "pembangun manusia" pasca-revolusi, dan meninjau ulang program-program pendidikan untuk memperkuat identitas agama dan revolusioner.
    Pendidikan tinggi: Peningkatan yang mencolok dalam jumlah mahasiswi pasca-revolusi, sehingga proporsinya mencapai lebih dari 50%, memungkinkan budaya revolusioner menyebar di lingkungan universitas.
    Lembaga-lembaga budaya dan perempuan: Mendirikan lembaga-lembaga untuk menyebarkan kesadaran budaya dan politik berdasarkan nilai-nilai Islam.
    Pengajaran dan dakwah: Partisipasi perempuan dalam kelas-kelas pemberantasan buta huruf dan pendidikan agama, yang memungkinkan transmisi konsep-konsep revolusi ke berbagai generasi.
    Teladan praktis: Perempuan yang hadir dalam revolusi menjadi teladan bagi generasi muda dan menunjukkan bahwa seorang perempuan dapat menggabungkan antara nilai-nilai agama (kesucian dan martabat) dengan kehadiran aktif dalam ilmu pengetahuan dan politik.
Mengapa Perempuan Iran Menjadi Pusat Perhatian di Poros Perlawanan?
Mengenai pengaruh lintas-nasional dan mengapa perempuan Iran menjadi pusat perhatian perempuan di negara-negara poros perlawanan lainnya, ia menjelaskan bahwa dunia saat ini memperhatikan peran perempuan dalam revolusi Iran. Perempuan Iran menjadi pusat perhatian dan rasa hormat perempuan di negara-negara poros perlawanan (Lebanon, Yaman, Irak, Suriah) karena alasan-alasan ideologis, struktural, dan perjuangan. Perhatian ini bukan hanya karena kehadirannya dalam struktur politik, tetapi karena perannya dalam menghadapi tantangan.

Ia kemudian menyebutkan beberapa alasan terpenting untuk perhatian ini:
  1. Teladan "perempuan pejuang dan pelopor": Perempuan Iran, terutama dalam pandangan Wilayah (kepemimpinan), dilihat sebagai teladan yang menggabungkan antara jilbab dan komitmen agama dengan kehadiran yang kuat di masyarakat. Ia dikenal sebagai "guru kedua perempuan dunia setelah perempuan di awal masa keislaman" .
    Partisipasi aktif dalam kehidupan politik dan sosial: Perempuan pasca-revolusi Islam di Iran hadir dalam manajemen administratif, perwakilan parlemen, dan jabatan-jabatan politik.
    Peran pelopor dalam mendidik generasi perlawanan: Perempuan Iran memiliki peran fundamental sebagai pendidik generasi pejuang dan syuhada.
    Ketahanan dan menghadapi krisis: Perempuan Iran memainkan peran menonjol dalam menghadapi tekanan ekonomi dan perang, termasuk perang Iran-Irak.
    Keunggulan ilmiah dan universitas: Perempuan Iran memiliki kehadiran luas di universitas dan bidang-bidang ilmiah, terutama kedokteran dan teknik.
Karakteristik Perempuan Iran: Perpaduan Autentisitas dan Kemajuan
Mengenai karakteristik terpenting perempuan Iran, ia menjawab bahwa perempuan Iran adalah perpaduan antara autentisitas budaya dan agama dengan kemajuan dan modernitas. Ia memiliki karakteristik seperti ilmu, budaya, perlawanan, partisipasi sosial, kombinasi tradisi dan modernitas, kepribadian yang kuat, dan kreativitas artistik.
Ia menegaskan bahwa pengalaman perempuan Iran telah menciptakan harapan dan keberanian bagi perempuan di negara lain, karena telah menunjukkan bahwa seorang perempuan dapat memiliki peran efektif dalam kondisi tersulit sekalipun.

Perempuan sebagai Kekuatan Lunak (Soft Power)
Mengenai konsep "perempuan sebagai kekuatan lunak", peneliti sosial ini menjelaskan bahwa perempuan dengan peran mereka dalam politik, masyarakat, budaya, media, pendidikan, dan ekonomi adalah pembentuk arus.

Ia menjelaskan bahwa kekuatan lunak perempuan terletak pada kemampuannya untuk mempengaruhi secara halus dan meyakinkan, bukan melalui paksaan. Peran ini terlihat jelas dalam bidang pendidikan dan pengasuhan generasi, karena perempuan memiliki kemampuan untuk mengelola nuansa perilaku dan emosi, dan hal ini menyebabkan fleksibilitas dalam perilaku sosialnya.

Ia juga menjelaskan bahwa perempuan dapat berperan melalui kata-kata, seni, dan aktivitas budaya. Dengan memanfaatkan karakteristik psikologis-emosionalnya, ia berperan dalam menyebarkan nilai-nilai moral dan kemanusiaan seperti pengorbanan, altruisme, dan kerjasama sosial. Dalam menghadapi pandangan materialistis dan berbasis kepentingan, perempuan sering memainkan peran fundamental dalam menghasilkan karya-karya sastra, seni, dan budaya.

Saleh melanjutkan bahwa salah satu dimensi terpenting dari kekuatan lunak perempuan adalah perannya dalam menciptakan kohesi keluarga dan sosial melalui manajemen keluarga dan menciptakan ketenangan dalam ruang rumah, terutama di masa krisis. Hal ini membantu memantapkan stabilitas psikologis masyarakat.

Rekomendasi Menghadapi Perang Pemikiran dan Psikologis
Mengenai tantangan yang dihadapi perempuan dalam kondisi saat ini dan rekomendasi terpenting bagi perempuan dalam menghadapi perang pemikiran dan psikologis, Lili Saleh menjelaskan bahwa perempuan saat ini menghadapi semacam perang psikologis dan pemikiran yang bersumber dari tekanan-tekanan ganda, internal dan eksternal, yang dapat mempengaruhi stabilitas psikologis mereka. Ia menegaskan bahwa tantangan-tantangan ini terkadang berasal dari dampak langsung perang, migrasi, kehilangan, ketakutan, ketidakamanan, kelaparan, dan tekanan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan mental dan perilaku.

Ia melanjutkan, perang pemikiran juga beroperasi dengan menargetkan identitas dan nilai-nilai perempuan, terutama perempuan Muslim dan perempuan poros perlawanan, melalui media dan jejaring sosial. Dengan menyebarkan gambar-gambar dan narasi-narasi yang terdistorsi, ia berusaha melemahkan keyakinan.

Menurut Saleh, perang ini telah menyebar dalam bentuk "budaya dangkal" dan "konten ringan dan tidak bermutu" di ruang maya dan telah menjadi arus yang dominan di tingkat global. Ia kemudian menyampaikan serangkaian rekomendasi untuk menghadapi situasi ini, seraya menekankan bahwa dalam kondisi saat ini, rekomendasi-rekomendasi ini penting untuk memperkuat ketahanan perempuan:
  1. Ketahanan Budaya melalui kesadaran dan pembelajaran: Pemahaman yang tepat tentang tren "invasi budaya" dan analisis pola-pola media yang terdistorsi adalah langkah fundamental dalam menjaga identitas.
    Literasi Media dan Digital : Perempuan harus memiliki ketelitian dan kewaspadaan dalam menghadapi informasi di ruang maya, serta menghindari menerima desas-desus dan berita tidak kredibel yang disebarkan dengan tujuan melemahkan semangat.
    Pemberdayaan Psikologis dan Sosial : Pendidikan iman dan spiritual dapat memainkan peran penting dalam kesiapan psikologis menghadapi krisis dan tantangan. Jalur-jalur spiritual dan suluk dapat membantu ketenangan jiwa.
    Kesetiakawanan Sosial dan Ketahanan dalam Peran Pendidikan : Melanjutkan tanggung jawab keluarga dan pendidikan dalam kerangka "tugas Ilahi" adalah bentuk keteguhan yang tenang namun mendalam.
Perempuan Adalah Penjaga Identitas Masyarakat
Di akhir wawancara ini, Lili Saleh kembali menegaskan bahwa perempuan adalah "penjaga identitas" masyarakat. Memperbaiki dan melindunginya, terutama dalam dimensi pemikiran dan psikologis, berarti investasi langsung pada kesehatan, kohesi, dan ketahanan seluruh masyarakat.
Pewawancara: Masumeh Foruzan
Comment