8
Sunday 6 July 2025 - 15:11
Gejolak Politik AS:

Zohran Mamdani, “Israel,” dan Masa Depan New York: Kota di Ambang Krisis, Kandidat yang Tengah Bersinar

Story Code : 1219071
Zohran Mamdani
Zohran Mamdani
Sebuah Tonggak Bersejarah di Depan Mata
 
Namun kebangkitannya bukan sekadar simbolik. Di kota yang menghadapi melonjaknya tunawisma, meningkatnya kekerasan seksual, dan kesenjangan sosial yang makin dalam, Mamdani mewakili perubahan generasi: progresif, akar rumput, dan secara terbuka menentang ortodoksi politik lama.
 
Dari Kampala ke Queens: Latar Belakang Seorang Kandidat
Lahir di Kampala, Uganda, pada tahun 1991, Mamdani pindah ke Amerika Serikat pada usia tujuh tahun dan dibesarkan di Queens. Ia adalah putra dari akademisi ternama Mahmud Mamdani dan sutradara terkenal Mira Nair. Ia lulus dari Bronx High School of Science dan Bowdoin College dengan jurusan Studi Afrika. Sebelum terjun ke dunia politik, ia bekerja sebagai konselor perumahan dan juga sebagai artis hip-hop—dua pengalaman yang mengakar kuat pada realitas kelas pekerja.
 
Karier politik Mamdani dimulai pada 2020 ketika ia berhasil mengalahkan petahana empat periode dalam pemilihan Distrik Majelis ke-36 di Queens. Maju sebagai sosialis demokrat, ia terpilih kembali tanpa lawan, dan dengan cepat menjadi bintang baru dalam lingkaran politik kiri New York. Pada 2025, ia kembali mengejutkan dunia politik—mengalahkan mantan Gubernur Andrew Cuomo dalam pemilihan pendahuluan wali kota dari Partai Demokrat dengan kampanye yang digerakkan bukan oleh para donor atau bos partai, tetapi oleh 10.000 relawan dan lebih dari satu juta kunjungan pintu ke pintu.
 
Kota dalam Krisis
Meski beberapa jenis kejahatan menunjukkan penurunan, Kota New York tahun 2025 tengah dalam kondisi krisis. Sementara jumlah pembunuhan dan penembakan turun ke level terendah dalam 30 tahun—hanya 112 kasus pembunuhan dalam lima bulan pertama tahun ini—dampak psikologis dari kekerasan tetap terasa. Serangan di kereta bawah tanah masih terjadi, dan laporan kasus pemerkosaan melonjak.
 
Pada Januari 2025, laporan pemerkosaan meningkat 40%, dengan 149 kasus hanya dalam sebulan. Hingga April, peningkatan dari tahun ke tahun mencapai 30%, sebagian besar karena definisi yang diperluas dan mekanisme pelaporan yang diperbaiki. Di balik angka ini terdapat krisis yang lebih dalam—kekerasan yang selama ini bungkam kini mulai terungkap.
 
Sementara itu, jumlah tunawisma mencapai rekor tertinggi. Per April 2025, lebih dari 108.000 orang tidur di tempat penampungan kota setiap malam—angka tertinggi dalam sejarah modern. Bila dihitung juga warga yang “numpang tinggal” dengan orang lain secara sementara, jumlah warga New York yang mengalami tunawisma melebihi 350.000 orang. Mayoritas dari mereka adalah keluarga dengan anak. Perumahan publik rusak parah. Sistem penampungan kewalahan. Harga sewa terus naik, sementara upah tetap stagnan.
 
Inilah kota yang berjanji akan diperbaiki oleh Mamdani.
 
Zionis “Israel” atau New York? Jawaban yang Menentukan
Selama pemilihan pendahuluan, satu momen menentukan arah kompetisi. Dalam debat yang disiarkan televisi, para kandidat ditanya negara asing mana yang akan mereka kunjungi pertama kali jika terpilih. Satu per satu menjawab: Zionis “Israel.” Kecuali Mamdani. Ia menatap kamera dan menjawab: “New York.”
 
Jawabannya bukan hanya simbolik—tetapi politis. Di saat kota sedang runtuh, penolakannya untuk mengikuti ekspektasi kebijakan luar negeri menyuarakan harapan para pemilih yang sangat membutuhkan kepemimpinan yang fokus pada masalah lokal. Kampanye akar rumputnya menguat—didukung oleh penyewa, imigran, mahasiswa, dan profesional muda yang melihat pada dirinya sesuatu yang sudah lama hilang dari politik kota: seseorang yang mendengarkan—dan berjuang.
 
Prinsip di Atas Politik: Menantang Zionis “Israel” dan Trump
Pandangan Mamdani mengenai isu internasional, terutama kritiknya terhadap Zionis “Israel,” telah menarik perhatian nasional—dan juga serangan keras. Seorang Muslim Syiah Dua Belas Imam yang taat, ia mengecam perlakuan Zionis “Israel” terhadap warga Palestina sebagai apartheid dan berulang kali menolak bantuan militer AS yang menopang tindakan tersebut. Presiden Donald Trump menyerangnya di media sosial, menyebut Mamdani sebagai “radikal berbahaya” dan “ekstremis anti-Zionis ‘Israel’.”
 
Namun Mamdani tidak mundur. Dalam pernyataan yang mengejutkan banyak pengamat politik, ia menyatakan bahwa ia akan memerintahkan penangkapan Perdana Menteri Zionis “Israel” Benjamin Netanyahu jika ia menginjakkan kaki di New York, dengan alasan kejahatan perang dan pelanggaran hak asasi manusia. Meski belum pernah terjadi sebelumnya bagi seorang kandidat wali kota, pernyataan ini justru semakin menguatkan basis pendukungnya dan menandai keteguhannya untuk tidak tunduk pada garis kebijakan luar negeri partai.
 
Platform untuk yang Tersisih
Agenda politik Mamdani sangat dipengaruhi oleh krisis yang terjadi di kota. Ia mendukung kontrol sewa universal, pembekuan sewa, dan kepemilikan utilitas publik untuk mengatasi krisis keterjangkauan. Ia mengusulkan transportasi gratis, toko kelontong publik, dan investasi ulang dalam perumahan rakyat untuk mengurangi beban masyarakat kelas pekerja. Ia juga menyerukan pengalihan dana dari NYPD ke layanan kesehatan mental, perumahan, dan program dukungan masyarakat.
 
Dalam isu ekonomi yang lebih luas, Mamdani mendukung Medicare untuk Semua, kuliah gratis di universitas negeri, dan penghapusan utang mahasiswa. Meski bagi sebagian orang kebijakan ini terdengar ambisius, bagi banyak warga New York, kebijakan ini adalah kebutuhan dasar untuk bertahan hidup. Dengan hampir 1 juta warga Yahudi dan antara 600.000 hingga 1 juta Muslim, demografi kota yang berubah mencerminkan pluralisme yang diwakili oleh pencalonan Mamdani. Ia secara rutin menyelenggarakan buka puasa publik saat Ramadan, mengecam Islamofobia, dan mengangkat suara dari komunitas yang selama ini diabaikan oleh Balai Kota.
 
Di Ambang Sejarah
Zohran Mamdani kini berdiri di ambang sejarah. Jika terpilih, ia bukan hanya akan memecahkan rekor sejarah, tetapi juga membawa ke Balai Kota sebuah gerakan yang didasarkan pada prinsip, urgensi, dan solidaritas. Para pengkritiknya memperingatkan tentang kekacauan. Para pendukungnya mengatakan kekacauan itu sudah lama dibutuhkan.
 
Di kota yang menangis meminta kepemimpinan—di mana para penyintas pemerkosaan mencari keadilan, para tunawisma berdesakan di penampungan, dan ribuan orang terusir dari lingkungan mereka setiap tahun—Mamdani mewakili sesuatu yang langka dalam politik modern: keyakinan.
 
Apakah New York akan menerima visinya masih belum pasti. Namun satu hal yang jelas: politik masa lalu tidak bisa menjawab tuntutan zaman ini. Mamdani tidak menunggu untuk diberitahu soal itu. Ia sudah bertindak seakan masa depan telah tiba.[IT/r]
 
 
Comment