Dokter Bedah Amerika Berbicara kepada Press TV: Israel, AS ‘Dengan Sengaja’ Hancurkan Sistem Kesehatan Gaza
Story Code : 1199587
Dr. Feroze Sidhwa, who is a trauma, critical care and acute care surgeon based in California
Dr. Feroze Sidhwa, seorang ahli bedah trauma, perawatan kritis, dan perawatan akut yang berbasis di California, menyampaikan komentar tersebut dalam sebuah wawancara eksklusif dengan program Face to Face di Press TV. Saat ini, ia sedang menjalani misi relawan keduanya di Gaza dan bekerja di Kompleks Medis Nasser di kota Khan Younis, Jalur Gaza bagian selatan.
Sidhwa menekankan bahwa Tel Aviv telah berulang kali menargetkan rumah sakit dalam 17 bulan terakhir dan melakukan kekejaman massal terhadap pasien Palestina serta mereka yang mencari perlindungan di fasilitas medis—yang seharusnya dilindungi oleh hukum internasional.
"Tidak Diperbolehkan Mengatakan Kebenaran yang Jelas"
Menyoroti sikap diam negara-negara Barat dan Eropa terhadap pemboman Zionis Israel yang tak terkendali terhadap rumah sakit di Jalur Gaza, Sidhwa mengatakan, “Anda tidak diperbolehkan untuk sekadar mengatakan kebenaran yang sederhana dan jelas.”
“Orang-orang Israel secara sengaja menghancurkan sistem kesehatan dengan dukungan dari Amerika Serikat dan Eropa… siapa pun dengan sedikit akal sehat bisa mengetahuinya, tetapi Anda tidak boleh mengatakannya,” katanya.
Dokter bedah Amerika ini mengecam pemerintahan AS karena telah memberikan bantuan militer, intelijen, dan finansial kepada Tel Aviv dalam melakukan kekejaman di wilayah Palestina yang terkepung.
AS dan Zionis Israel Bersama-sama Melakukan Kejahatan
“Saat saya kembali ke Amerika Serikat, saya bisa memberi tahu orang-orang tentang pekerjaan profesional yang saya lakukan, tetapi saya juga ingin mereka memahami bahwa kita sedang melakukan kejahatan di Gaza,” katanya.
Ia menambahkan bahwa banyak yang mengatakan Amerika turut bersekongkol dalam kejahatan ini, tetapi menurutnya pernyataan itu tidak sepenuhnya benar. “Itu mengisyaratkan bahwa Zionis Israel melakukan kejahatan dan kita hanya berada di latar belakang. Tidak demikian. AS dan Zionis Israel bersama-sama melakukan kejahatan di Gaza,” ujar Sidhwa kepada Press TV.
“Itu adalah pesawat Amerika, itu adalah helikopter Amerika, itu adalah bom Amerika. Bahkan tank-tank Merkava itu dibuat di Amerika Serikat. Saya tidak menerima kenyataan bahwa pemerintah saya harus terlibat dalam melakukan kejahatan terhadap orang-orang yang tidak pernah menyakiti kita.”
Zionis Israel Melanggar Kesepakatan Gencatan Senjata
Dalam wawancara tersebut, Sidhwa juga membahas pelanggaran gencatan senjata oleh Israel yang mulai berlaku pada pertengahan Januari serta serangannya terhadap rumah sakit di Gaza—yang sebagian besar kini tidak berfungsi akibat pengeboman tanpa henti.
“Gaza masih tidak memiliki koneksi normal ke dunia luar bahkan selama gencatan senjata,” katanya.
Menurutnya, selama periode gencatan senjata, Zionis Israel tidak pernah mengizinkan masuknya tenda dan rumah-rumah sementara seperti yang seharusnya. Mereka juga tidak mengizinkan jumlah truk bantuan yang sesuai, membatasi evakuasi orang-orang yang terluka, serta menghalangi masuknya tenaga medis asing.
Rezim Zionis Israel terpaksa menyetujui perjanjian gencatan senjata dengan Hamas pada Januari setelah gagal mencapai tujuannya, termasuk “menghilangkan” gerakan perlawanan Palestina atau membebaskan para tahanan Zionis Israel yang ditawan.
Tahap pertama gencatan senjata yang berlangsung selama 42 hari, yang dipenuhi dengan berbagai pelanggaran oleh Israel, berakhir pada 1 Maret. Namun, Zionis Israel menolak untuk kembali ke meja perundingan untuk tahap kedua dari perjanjian tersebut.
Sejak melancarkan kampanye genosida di Gaza pada 7 Oktober 2023, rezim Zionis Israel telah membantai lebih dari 50.200 warga Palestina dan melukai setidaknya 114.000 lainnya, menurut data dari Kementerian Kesehatan Palestina.[IT/r]