0
Monday 17 March 2025 - 08:04
Gejolak Zionis Israel:

Netanyahu Umumkan Keputusan Memecat Kepala Shin Bet, Namun Ditolak

Story Code : 1196806
Ronen Bar, chief of Israel
Ronen Bar, chief of Israel's Shin Bet security agency, attends a ceremony in occupied Palestine
Situs web Zionis Israel, Ynet, melaporkan pada hari Minggu (16/3) bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah memutuskan untuk memberhentikan Kepala Shin Bet, Ronen Bar, dan telah memanggilnya untuk memberi tahu keputusan tersebut.
 
Kantor Perdana Menteri menyatakan bahwa masalah ini akan diajukan dalam pemungutan suara pada rapat kabinet minggu ini, yang secara efektif akan mengakhiri masa jabatan Bar di badan keamanan internal tersebut. Sumber dari Kantor Perdana Menteri mengindikasikan bahwa Netanyahu telah mendesak Bar untuk mengundurkan diri secara sukarela, tetapi setelah ia menolak, Netanyahu memilih untuk memecatnya.
 
Bar, yang sebelumnya telah mengakui kegagalan Shin Bet dalam mencegah operasi pada 7 Oktober, telah menyatakan niatnya untuk tetap menjabat setidaknya hingga Mei. Ia juga mendorong dibentuknya komisi penyelidikan independen untuk menyelidiki kegagalan kepemimpinan, Pasukan Pendudukan Zionis Israel (IOF), dan badan keamanan—sebuah langkah yang ditentang keras oleh Netanyahu.
 
Dalam pernyataan yang direkam, Netanyahu mengatakan bahwa seiring waktu, ia "semakin kehilangan kepercayaan" terhadap Bar, menekankan bahwa menjaga kepercayaan terhadap kepala badan keamanan sangat penting selama masa perang. Namun, keputusan untuk mencopot Bar kemungkinan akan mendapat tantangan hukum karena adanya kekhawatiran konflik kepentingan.
 
Jurnalis Axios, Barak Ravid, melaporkan bahwa menurut para pembantu Netanyahu, ia memutuskan untuk memecat kepala Shin Bet setelah kunjungannya ke Washington pada awal Februari.
 
Ravid mengutip para pembantu tersebut yang mengatakan bahwa "Netanyahu terinspirasi oleh langkah-langkah yang diambil Trump terhadap 'negara dalam negara' dan keputusannya untuk menunjuk loyalis di semua posisi penting."
 
Dalam pernyataannya, Ronen Bar mengatakan bahwa ia telah memberi tahu Netanyahu bahwa ia memiliki "beberapa penyelidikan sensitif" yang perlu diselesaikan, termasuk upaya membebaskan sandera Zionis Israel, sebelum mengundurkan diri. Ia juga mengusulkan dua kandidat internal untuk menggantikannya.
 
Bar menegaskan bahwa ia tetap bertekad untuk menyelesaikan tugas-tugas ini sebelum mengundurkan diri dan menolak keputusan Netanyahu untuk mencopotnya.
 
Pertarungan Antara Shin Bet dan Netanyahu
Pertarungan kekuasaan antara Netanyahu dan Bar meningkat pekan lalu ketika perdana menteri secara terbuka menuduh kepala Shin Bet melakukan pemerasan. Dalam sebuah pernyataan yang diposting di X, Netanyahu mengklaim bahwa Zionis "Israel" telah melewati "garis merah serius," menuduh bahwa seorang mantan pejabat keamanan—yang diyakini secara luas sebagai mantan kepala Shin Bet, Nadav Argaman—telah mengeluarkan ancaman langsung terhadapnya.
 
Netanyahu lebih lanjut menuduh Bar mengatur kampanye media untuk menekannya dalam pengambilan keputusan terkait kepemimpinan badan intelijen.
 
Pemecatan Bar terjadi saat Shin Bet sedang menyelidiki tuduhan bahwa beberapa penasihat dekat Netanyahu, yang bekerja di Kantor Perdana Menteri, bertindak atas nama Qatar. Selain itu, badan ini juga sedang menyelidiki klaim bahwa seorang juru bicara Netanyahu telah membocorkan informasi palsu kepada media internasional selama perang.
 
Tantangan Hukum terhadap Keputusan Netanyahu
Kantor Kejaksaan Agung telah turun tangan dengan mengeluarkan surat kepada Netanyahu yang menyoroti prosedur hukum yang harus diikuti sebelum Bar dapat diberhentikan. Menurut surat tersebut, perdana menteri harus mengajukan permohonan resmi untuk dipertimbangkan dan memastikan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada bukti yang kuat, bukan pengaruh eksternal.
 
Seorang asisten jaksa agung yang menandatangani surat itu menekankan bahwa meskipun pemerintah memiliki wewenang untuk memberhentikan kepala Shin Bet, prosesnya harus mematuhi norma administratif dan hukum yang telah ditetapkan.
 
Pemecatan Netanyahu Picu Reaksi Keras
Para kritikus berpendapat bahwa pemecatan ini bermotif politik. Pemimpin oposisi, Yair Lapid, menuduh Netanyahu bertindak untuk melindungi lingkaran dalamnya dari pengawasan.
"Bar telah berulang kali mengatakan bahwa ia akan mengundurkan diri dan bertanggung jawab atas kegagalan dalam pembantaian 7 Oktober, setelah para sandera dikembalikan. Ia adalah seorang profesional, telah memimpin negosiasi, dan pemecatannya pada saat ini tidak bertanggung jawab serta mencerminkan kurangnya komitmen terhadap nasib para sandera," kata Lapid.
 
Ia mengecam keputusan Netanyahu, menegaskan bahwa keputusan tersebut mencerminkan kepentingan pribadi di atas keamanan nasional.
"Ini adalah bukti dari kehancuran moral," tambahnya. "Netanyahu sekali lagi menempatkan kepentingan pribadinya di atas kepentingan negara dan keamanannya. Ia tidak akan berhasil melemparkan kesalahan atas kegagalan yang menyebabkan pembantaian kepada badan keamanan. Ia adalah orang yang paling bertanggung jawab."
 
Lapid juga mengonfirmasi bahwa partainya bermaksud untuk mengajukan banding atas pemecatan Bar di pengadilan.
 
Krisis yang Semakin Dalam dalam Kepemimpinan Keamanan Zionis 'Israel'
Krisis politik dan keamanan di pemerintahan Netanyahu semakin memburuk, karena penolakannya untuk membuka penyelidikan resmi terhadap serangan 7 Oktober terus menuai kritik luas. Rapat kabinet yang diperintahkan oleh Mahkamah Agung pada bulan Februari berakhir tanpa tindakan apa pun, yang memicu tuduhan bahwa perdana menteri menghalangi upaya pertanggungjawaban.
 
Mantan kepala Shin Bet, Nadav Argaman, semakin memperumit situasi dengan memperingatkan dalam wawancara dengan Channel 12 Israel bahwa ia akan mengungkap informasi sensitif jika Netanyahu melakukan tindakan ilegal.
 
Sementara itu, keluarga para sandera Zionis Israel, pakar hukum, dan organisasi hak asasi manusia mengecam penolakan Netanyahu untuk menyelidiki kegagalan intelijen, menuduhnya lebih mementingkan kelangsungan politiknya sendiri daripada keamanan nasional.
Di tingkat internasional, tindakan perdana menteri semakin mengisolasi Zionis "Israel", karena rezim ini terus melakukan serangan terhadap Gaza sambil menghindari pertanggungjawaban atas kegagalannya. Pejabat Hamas telah memperingatkan bahwa jika Zionis "Israel" tidak mematuhi perjanjian gencatan senjata, mereka akan "membayar harga yang mahal."[IT/r]
 
 
Comment