0
Monday 24 March 2025 - 11:42
Iran - Amerika Serikat

Araghchi: Menolak Berunding Langsung dengan AS adalah Taktik, Bukan Strategi

Story Code : 1198246
Mevlut Cavusoglu, Turkish Foreign Minister
Mevlut Cavusoglu, Turkish Foreign Minister
Dalam wawancara dengan khabaronline.ir, Araghchi mengatakan negosiasi yang sedang berlangsung antara Iran dan tiga negara Eropa, Prancis, Jerman, dan Inggris, pada dasarnya adalah pembicaraan tidak langsung dengan Amerika Serikat.
 
“Mengatakan bahwa, sebagai strategi, kami tidak akan berunding… bukan seperti itu kenyataannya. Kami telah berunding berkali-kali (sebelumnya), termasuk baru-baru ini. Pembicaraan kami yang sedang berlangsung dengan tiga negara Eropa, pada kenyataannya, merupakan semacam negosiasi tidak langsung atas program nuklir kami,” kata Araghchi dalam wawancara yang dipublikasikan pada hari Minggu (23/3) tersebut.
 
“Format negosiasi selalu relevan dalam hubungan diplomatik, baik kedua belah pihak berbicara secara langsung maupun tidak langsung. Untuk saat ini, taktik dan metode kami adalah melakukan negosiasi tidak langsung,” tambahnya.
 
Araghchi merujuk pada penolakan Pemimpin Revolusi Islam Imam Ali Khamenei untuk berunding dengan Amerika Serikat di bawah tekanan dan mengingat pengkhianatan Washington di masa lalu, dan mengatakan kebijakan itu masuk akal. “Dalam keadaan di mana ada ‘tekanan maksimum,’ tidak seorang pun yang waras akan melakukan perundingan langsung,” katanya.
 
Presiden AS Donald Trump pada tanggal 4 Februari menandatangani ketetapan presiden untuk memulihkan “tekanan maksimum” pada Republik Islam, meskipun ia menegaskan bahwa ia bersedia untuk menjabat tangan Teheran secara diplomatis.
 
Pada tanggal 12 Maret, Trump mengirim surat ke Iran melalui utusan dari Uni Emirat Arab (UEA). Meskipun isi surat tersebut belum diumumkan secara resmi, Trump mengatakan bahwa ia telah meminta Iran agar negosiasi dibuka menjadi kesepakatan baru.
 
Imam Khamenei telah menegaskan kembali bahwa Iran tidak akan berunding dengan Amerika Serikat karena Teheran tidak percaya bahwa Washington akan mematuhi kewajiban kontrak apa pun.
 
Ditanya bagaimana ia akan menanggapi harapan potensial dari masyarakat Iran agar pemerintah melakukan negosiasi langsung dengan Amerika Serikat, Araghchi mengatakan bahwa penolakan Teheran didasarkan pada pengalaman sejarah dan analisis ahli, "bukan keteguhan hati."
 
"Sebagai seorang ahli, negosiator, dan diplomat, saya katakan bahwa dalam kondisi saat ini (dengan 'tekanan maksimum'), Anda tidak dapat lagi melakukan perundingan dengan Amerika, kecuali ada beberapa hal yang berubah," katanya.
 
Araghchi, yang merupakan salah satu negosiator utama Iran dalam perundingan yang menghasilkan kesepakatan pada tahun 2015, mengatakan bahwa ia yakin JCPOA tidak mungkin dihidupkan kembali sebagaimana adanya.
 
"Menurut pendapat saya, JCPOA, dalam bentuknya saat ini, tidak dapat dihidupkan kembali," ujarnya. “(Menghidupkannya kembali) juga bukan kepentingan kita, karena status nuklir kita sudah jauh lebih maju dan kita tidak bisa lagi kembali ke ketentuan JCPOA. Begitu pula sanksi oleh pihak lain. Mereka telah menetapkan banyak sanksi baru dan ketentuannya telah berubah,” imbuhnya.
 
Ia menambahkan bahwa Trump adalah Presiden AS yang menarik diri dari perjanjian tersebut. Karena itu, Araghchi mengatakan bahwa “keinginan AS untuk menghidupkan kembali JCPOA bukanlah hal yang realistis.”
 
Namun, kesepakatan Iran dapat menjadi model untuk setiap perjanjian potensial di masa mendatang.
 
“Program nuklir kami sepenuhnya damai. Kami sendiri meyakini harusnya program nuklir yang damai. Kami siap untuk meningkatkan kepercayaan orang lain, untuk menyetujui pembatasan tertentu pada persediaan kami dan tingkat kemurnian pengayaan selama lima atau sepuluh tahun, seperti yang kami lakukan di bawah JCPOA,” katanya. [IT/G]
Comment