AS Serang Pelabuhan Bahan Bakar yang 'Dikuasai Houthi' di Yaman
Story Code : 1203244
Ras Isa oil port in Yemen,
Situs tersebut digunakan untuk mendanai "upaya teroris" kelompok pemberontak, kata Komando Pusat Amerika Serikat
"Houthi yang didukung Iran menggunakan bahan bakar untuk mendukung operasi militer mereka, sebagai senjata kendali, dan untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dari penggelapan keuntungan dari impor," kata Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam sebuah pernyataan pada hari Kamis (17/4). Ditambahkannya bahwa kapal-kapal terus memasok bahan bakar melalui pelabuhan tersebut setelah penetapan kelompok militan tersebut sebagai teroris mulai berlaku pada tanggal 5 April.
"Keuntungan dari penjualan ilegal ini secara langsung mendanai dan mendukung upaya teroris Houthi," kata CENTCOM. "Tujuan dari serangan ini adalah untuk melemahkan sumber kekuatan ekonomi Houthi."
Pihak berwenang Houthi mengatakan 38 warga sipil tewas, termasuk lima paramedis, dan 102 lainnya terluka. Mayoritas korban dilaporkan adalah pekerja pelabuhan.
"Kami menegaskan hak hukum Yaman untuk membela diri, dan kejahatan ini tidak akan luput dari hukuman," kata pihak berwenang Houthi, menurut TV Al-Masirah.
Beberapa jam setelah serangan, Pasukan Pertahanan Israel mengatakan mereka mencegat rudal balistik yang diluncurkan dari Yaman pada Jumat pagi.
Houthi menguasai bagian barat Yaman, termasuk ibu kota, Sanaa, dan pelabuhan Hodeidah. Sejak 2023, kelompok itu telah menembakkan drone dan rudal kamikaze ke kapal-kapal komersial untuk mendukung warga Palestina di Gaza. Houthi juga meluncurkan rudal balistik ke Zionis Israel, dengan mengatakan mereka akan menghentikan serangan setelah Israel mengakhiri kampanyenya melawan Hamas di Gaza.
Bulan lalu, Trump menginstruksikan Pentagon untuk meningkatkan serangan di Yaman, dengan memperingatkan bahwa Houthi akan "dimusnahkan sepenuhnya" kecuali mereka berhenti menargetkan pengiriman. Namun, kelompok itu bersumpah untuk tidak tunduk pada tekanan. Sejak itu, Houthi mengklaim telah menyerang kapal perang AS yang berpatroli di wilayah Laut Merah. Pada tanggal 1 April, militan melaporkan telah menembak jatuh pesawat nirawak MQ-9 Reaper milik Amerika.[IT/r]