Bagaimana Pabrik Propaganda Israel Mendaur Ulang Klaim Palsu Soal Intersepsi Rudal Iran
Story Code : 1219078
Israeli propaganda mills recycled fabricated claims of intercepting Iranian missiles
Pekan ini, media Zionis Israel menyebarkan pernyataan dari kementerian perang rezim yang mengklaim bahwa 86 rudal dan 99 persen drone Iran berhasil dicegat selama perang Zionis Israel-Iran pada Juni 2025.
Angka tersebut, menurut mereka, berasal dari 12 hari masa perang, di mana Iran meluncurkan 532 rudal balistik dalam sekitar 42 gelombang serangan yang menargetkan wilayah Palestina yang diduduki. Dari sumber yang sama, sekitar 300 rudal diklaim jatuh di "daerah terbuka", sementara 200 lainnya berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Zionis Israel dan Amerika.
Sistem intersepsi yang disebut meliputi David’s Sling, Arrow 2 dan 3 milik Zionis Israel, serta sistem THAAD dan Aegis milik AS, dengan total biaya sekitar 5 miliar shekel atau hampir $1,5 miliar.
Dalam penilaian penuh kemenangan, kementerian perang Israel mengklaim bahwa intersepsi mereka mencegah kerugian properti senilai lebih dari $15 miliar dan "menyelamatkan banyak nyawa."
Beberapa pejabat Zionis bahkan melangkah lebih jauh, mengklaim bahwa hanya 25 hingga 31 rudal balistik Iran yang benar-benar menghantam target di wilayah pendudukan.
Pola Kesuksesan yang Direkayasa
Ini bukan kejadian yang pertama. Ini adalah kali ketiga rezim Zionis Israel merilis data keberhasilan intersepsi yang jelas-jelas dipalsukan, dan lagi-lagi narasi ini diserap ke dalam diskursus Barat tanpa kritis.
Setelah Operasi Janji Sejati (True Promise) 1 dan 2 oleh Iran pada April dan Oktober tahun lalu, pejabat rezim Zionis Israel kembali membual dengan klaim "99 persen" tingkat keberhasilan. Dalam operasi kedua saja, mereka mengklaim 200 rudal balistik Iran diluncurkan, dan hanya dua yang lolos dari pertahanan mereka.
Namun citra satelit bercerita lain. Di Pangkalan Udara Nevatim—salah satu dari tiga target utama Iran (bersama Pangkalan Udara Tel Nof dan markas Mossad)—33 rudal Iran menghantam langsung, dan 26 di antaranya menyebabkan kerusakan struktural berat, termasuk pada lima hanggar.
Persediaan rudal THAAD AS sangat berkurang selama perang Israel melawan Iran, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai biaya, efektivitas, dan kurangnya kesiapan pertahanan rudal.. https://t.co/aFAbN8RINW
Stok rudal intersepsi THAAD AS habis dalam perang Israel melawan Iran, menimbulkan pertanyaan tentang biaya, efektivitas, dan kesiapan pertahanan rudal.
Citra-citra ini saja cukup untuk membantah klaim Israel yang dilebih-lebihkan, seperti juga rekaman independen dari sumber sipil yang menunjukkan puluhan ledakan langsung—jauh lebih banyak dari "tiga" yang diakui rezim.
Pangkalan Udara Tel Nof terkena serangan langsung yang memicu ledakan sekunder di antara amunisi yang disimpan. Setidaknya dua rudal menghantam area dekat markas Mossad. Secara total, lebih dari 40 rudal Iran berhasil menembus pertahanan Israel dalam Operasi Janji Sejati 2—dua puluh kali lebih banyak dari yang diakui pejabat Zionis Israel.
Jumlah rudal yang dilaporkan juga dilebih-lebihkan. Bukti visual menunjukkan bahwa hanya 53 rudal diluncurkan dalam tiga gelombang: 25 dari Kermanshah, 18 dari Tabriz, dan 10 dari Shiraz. Ini menunjukkan bahwa lebih dari 75 persen rudal Iran mengenai target mereka—angka yang jauh lebih mendekati estimasi Iran sebesar 90 persen daripada klaim Zionis Israel sebesar 1 persen keberhasilan Iran.
Distorsi serupa juga muncul setelah Operasi Janji Sejati 1, dengan Zionis Israel kembali bersikeras bahwa mereka mencegat "99 persen dari 300 rudal dan drone"—angka yang jelas bertentangan dengan bukti video publik yang menunjukkan banyak ledakan langsung.
Putaran Terbaru Penyesatan
Seperti dalam dua operasi balasan sebelumnya, klaim terbaru Zionis Israel—tingkat intersepsi 86 persen, 300 rudal jatuh di area terbuka, dan hanya 30 rudal Iran yang berhasil menghantam—tidak disertai bukti nyata.
Sebagian besar serangan rudal Iran dan upaya intersepsi Zionis Israel terjadi pada malam hari dan direkam dalam berbagai video publik. Video tersebut menunjukkan jejak cahaya rudal yang masuk dan ledakan dampaknya di wilayah pendudukan.
Semua sistem Israel, termasuk David's Sling, Arrow 2/3, dan THAAD, menggunakan teknologi "hit-to-kill", yang berarti intersepsi dilakukan dengan tabrakan langsung di ketinggian dan kecepatan tinggi—yang seharusnya menghasilkan ledakan terang benderang yang terlihat jelas.
Jika Israel benar-benar mencegat 200 rudal balistik seperti yang diklaim, seharusnya ada banjir rekaman kamera pribadi dan keamanan, lengkap dengan cap waktu dan tanggal.
Namun bukti semacam itu tidak tampak. Bahkan militer Israel, yang biasanya cepat memamerkan "keberhasilannya," belum merilis bukti meyakinkan.
Tak ada pula bukti fisik puing rudal dalam jumlah besar di Irak atau Yordania, yang seharusnya ada jika banyak rudal dicegat di wilayah itu.
Kerusakan besar-besaran di Institut Weizmann, tulang punggung teknologi IOF, menyusul serangan rudal balasan Iran
Sebaliknya, ratusan video menunjukkan rudal Iran menembus pertahanan Israel dan meledak di wilayah pendudukan. Jika benar kebanyakan rudal Iran jatuh di zona tak berpenghuni, rezim pasti akan senang merilis gambar sebagai bukti. Namun justru sebaliknya—sensor foto dan video diberlakukan secara ketat.
Skala kehancuran yang terjadi menunjukkan serangan luas terhadap infrastruktur militer Israel, bukan sekadar kawah di lahan pertanian. Media Zionis Israel sendiri memperkirakan kerugian mencapai $12 miliar, dengan proyeksi melonjak ke $20 miliar jika menghitung kerugian tidak langsung.
Angka fantastis ini bertolak belakang dengan klaim bahwa hanya 25–31 rudal menghantam target—kecuali jika dipercaya bahwa tiap rudal menyebabkan kerusakan senilai $500–800 juta, yang jelas tidak masuk akal.
Tingkat keberhasilan 86 persen yang diklaim juga bertentangan dengan pernyataan seorang perwira intelijen Israel kepada media AS, yang mengakui bahwa pada hari ketujuh perang, hanya 65 persen rudal Iran yang berhasil dicegat.
Ia menyebut penurunan efektivitas ini disebabkan oleh rudal-rudal Iran yang lebih cepat, bermanuver tinggi, dan lebih canggih.
Awalnya, Iran menggunakan rudal balistik berbahan bakar cair seperti Shahab-3 yang lambat dan mudah diprediksi—mudah untuk dicegat. Namun model-model usang ini dipasangkan dengan umpan untuk membingungkan sistem pertahanan dan menguras stok interseptor.
Meskipun banyak dokumentasi serangan rudal, belum ada analisis menyeluruh tentang berapa banyak rudal Iran dan interseptor Zionis Israel yang benar-benar digunakan, atau berapa tingkat intersepsi yang sebenarnya.
Analis sumber terbuka mencoba mengestimasinya dengan rekaman malam hari dari fotografer Yordania Zaid M. al-Abbadi, namun rekamannya hanya mencakup sebagian konflik, hanya malam hari, dengan cakupan geografis dan vertikal yang terbatas.
Meski begitu, tren yang jelas terlihat: rudal Iran berhasil menembus pertahanan udara Zionis Israel jauh lebih sering dari yang diakui secara resmi, dan lebih sering daripada jumlah interseptor yang dikerahkan.
Respons cepat dan tepat Iran terhadap agresi Zionis Israel-Amerika mengejutkan banyak orang, terutama di media sosial, karena para pengguna media sosial merasa kagum dengan kemampuan rudal tersebut untuk menembus pertahanan rezim Zionis Israel dan mengenai target mereka.
Pengalihan dan Disinformasi
Selain melebih-lebihkan angka intersepsi, rezim Zionis Israel menggunakan berbagai taktik propaganda untuk menutupi kegagalannya dan mengecilkan keberhasilan Iran.
Selama Operasi Janji Sejati 1, gambar ikonik rudal Iran bersinar di atas Masjid Al-Aqsa dan Kubah Batu di Al-Quds mengejutkan dunia, menjadi simbol kekuatan dan tekad Iran.
Sebagai respons, pejabat Zionis Israel, termasuk duta besar untuk PBB Gilad Erdan, membuat narasi aneh bahwa Zionis Israel sedang "melindungi Al-Aqsa dari rudal Iran," berusaha memecah belah Iran dan dunia Muslim.
Padahal, rudal tersebut ditujukan ke Pangkalan Udara Nevatim, 65 km selatan Al-Quds.
Demikian pula, dalam Operasi Janji Sejati 3, propagandis Zionis Israel mengklaim Iran sengaja menyerang Masjid Al-Jarina di Haifa. Faktanya, rudal menghantam kompleks gedung pemerintahan Sail Tower 50 meter di tenggara, dan masjid hanya mengalami kerusakan ringan akibat gelombang kejut.
Zionis Israel juga salah menyebut serangan Iran mengenai sekolah dan rumah. Namun gambar kerusakan yang dirilis menunjukkan dampak yang lebih sesuai dengan rudal intersepsi Zionis Israel yang gagal meledak tepat sasaran.
Yang paling keterlaluan adalah klaim bahwa Iran menargetkan Rumah Sakit Soroka. Padahal, serangan tersebut mengenai markas intelijen militer C4I di dekatnya. Rezim kerap menempatkan fasilitas militer di dekat area sipil, lalu memanipulasi kerusakan kolateral sebagai bukti "kejahatan" Iran.
Fasilitas seperti markas militer Kirya di Tel Aviv dan Institut Weizmann (yang terkait militer) dipresentasikan sebagai "sipil" dalam narasi resmi. Video serangan rudal Iran di lokasi-lokasi ini sangat disensor, dan menyebarkan rekaman semacam itu berisiko hukuman berat.
Akhirnya, propaganda Zionis Israel juga mengklaim bahwa korban serangan rudal sebagian besar adalah "non- Zionis Israel"—tanpa menyebut bahwa penduduk non-Yahudi sering dilarang masuk tempat perlindungan.
Selama perang terakhir, warga Palestina, pekerja China, dan jurnalis Turki bersaksi bahwa mereka ditolak masuk tempat perlindungan, menyoroti diskriminasi sistemik dan kemunafikan narasi korban ala Zionis Israel.[IT/r]