Dua Anggota IRGC Tewas Saat Membersihkan Bahan Peledak setelah Perang Israel
Story Code : 1219163
Smoke rises up after an explosion in Tehran, Iran
Dua anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran tewas pada hari Minggu (6/7) saat berupaya menjinakkan bahan peledak di Iran bagian barat, wilayah yang dilanda serangan udara Israel bulan lalu, media Iran melaporkan.
Insiden itu terjadi setelah perang Zionis "Israel" yang tak beralasan selama 12 hari yang dilancarkan terhadap Iran pada tanggal 13 Juni, yang memicu serangan balasan dari Tehran.
Mengutip pernyataan dari IRGC, Tasnim News melaporkan bahwa kedua pengawal itu tewas di Khorramabad saat bekerja membersihkan persenjataan yang belum meledak "yang ditinggalkan oleh agresi rezim Zionis."
Serangan Zionis Israel dilaporkan menewaskan pejabat militer, ilmuwan nuklir, dan warga sipil.
Dalam laporan terpisah, kantor berita Fars mengonfirmasi kematian seorang tentara Iran di Yazd, Iran tengah, akibat luka-luka yang diderita dalam serangan Zionis Israel sebelumnya.
Perang tersebut menewaskan lebih dari 900 warga Iran di seluruh negeri. Sebagai balasan, Tehran meluncurkan rentetan rudal yang menewaskan sedikitnya 28 pemukim di wilayah pendudukan sebelum gencatan senjata dilaksanakan pada tanggal 24 Juni.
Laporan:Zionis 'Israel' menyembunyikan kerusakan yang ditimbulkan oleh Iran dalam perang
Rezim Zionis Israel dilaporkan menyembunyikan tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan rudal Iran pada lima fasilitas militernya selama perang 12 hari baru-baru ini, menurut sebuah laporan yang diterbitkan Sabtu oleh The Telegraph, mengutip data satelit radar dari para peneliti di Oregon State University.
Data tersebut menunjukkan bahwa enam rudal Iran berhasil mengenai target militer di wilayah utara, tengah, dan selatan Palestina yang diduduki, termasuk pangkalan udara Tel Nof, lokasi logistik, dan pusat intelijen.
Laporan tersebut menggarisbawahi tantangan yang semakin besar yang dihadapi oleh sistem pertahanan udara pendudukan Zionis Israel, yang, meskipun diduga mencegat sebagian besar rudal yang masuk, tampaknya semakin dapat ditembus selama delapan hari pertama pertukaran tersebut.
Menurut The Telegraph, undang-undang sensor militer yang ketat yang dikeluarkan oleh rezim Zionis Israel berkontribusi terhadap penekanan informasi mengenai serangan dan tingkat kerusakan.
Militer Zionis Israel sejauh ini menolak berkomentar mengenai intersepsi rudal atau kerusakan fasilitas tersebut.[IT/r]