0
Tuesday 8 July 2025 - 07:27

Ketika Nobel Dijadikan Panggung Politik

Story Code : 1219371
Ketika Nobel Dijadikan Panggung Politik
Netanyahu menyebut Trump layak mendapatkan penghargaan tertinggi dalam bidang perdamaian karena “sedang menempa perdamaian, kawasan demi kawasan.” Pernyataan itu disampaikan tak lama setelah AS, di bawah arahan Trump, melancarkan serangan ke situs nuklir Iran — yang tentu saja, dalam logika tertentu, bisa saja dianggap "pendahuluan menuju kedamaian", jika kita cukup fleksibel dalam menafsirkan makna kata tersebut.

Tentu, tak ada yang melarang seorang pemimpin mencalonkan tokoh politik sahabatnya untuk Nobel. Prosedurnya sah, suratnya resmi, dan fotonya sudah viral. Tapi ketika nominasi tersebut lebih mirip manuver politik ketimbang penghargaan moral, kita patut bertanya: untuk siapa sebenarnya Nobel Perdamaian itu dibuat?

Trump memang telah lama mengincar penghargaan tersebut. Ia mengklaim berbagai pencapaian, dari normalisasi hubungan diplomatik di Timur Tengah hingga tekanan terhadap Korea Utara, sebagai bagian dari “warisan perdamaian” miliknya. Tapi seperti yang ditunjukkan oleh pencabutan nominasi dari seorang pejabat Ukraina beberapa minggu lalu, dunia tak selalu melihat hal yang sama dari sudut pandang Trump — atau Netanyahu.

Kini, dengan konflik di Gaza yang masih jauh dari selesai dan ketegangan regional terus meningkat, penobatan Trump sebagai ikon perdamaian terasa tidak hanya prematur, tetapi juga sinis. Terlebih lagi, ini datang di tengah jamuan makan malam elite di Gedung Putih, seolah-olah mengesampingkan kenyataan di lapangan yang penuh darah dan luka.

Bukan berarti Trump tidak memiliki pencapaian diplomatik. Tapi jika perdamaian diukur dari jumlah ledakan yang "berhasil diredam dengan ledakan lain", maka definisi itu perlu dikaji ulang. Hadiah Nobel bukan sekadar medali; ia adalah simbol moralitas global — atau setidaknya seharusnya demikian.

Nobel Perdamaian tidak boleh menjadi alat legitimasi politik, apalagi dalam konteks yang sarat kekerasan. Jika perdamaian hanya menjadi narasi untuk menyelimuti aksi militer dan intervensi sepihak, maka kita semua harus lebih waspada: bukan hanya terhadap mereka yang menjatuhkan bom, tapi juga terhadap mereka yang memberikan karangan bunga di atas puing-puingnya.[IT/AR]
Comment