0
Tuesday 8 July 2025 - 10:07
Iran - Israel

Pezeshkian: Iran Siap Kembali ke Meja Perundingan Jika Israel Hentikan Agresi

Story Code : 1219382
Pezeshkian: Iran Siap Kembali ke Meja Perundingan Jika Israel Hentikan Agresi
Dalam wawancara eksklusif dengan pembawa acara konservatif asal Amerika Serikat, Tucker Carlson, Presiden Pezeshkian menyampaikan harapan bahwa setelah krisis ini berlalu, Iran dapat kembali ke meja perundingan — dengan satu syarat: jaminan kepercayaan. Tidak boleh ada lagi serangan Israel selama proses negosiasi berlangsung.

Dalam wawancara virtual yang dirilis pada Senin (7/7), Pezeshkian menegaskan bahwa Iran bukan pihak yang memulai perang. Sejak menjabat, ia mengaku telah mengusung semangat perdamaian dengan negara-negara tetangga dan dunia. Ia menyebut bahwa Amerika Serikat, sebagai sekutu Israel, tidak boleh membiarkan Tel Aviv memicu perang baru di kawasan.

Menanggapi pertanyaan Carlson terkait program nuklir Iran, Pezeshkian menyatakan bahwa Iran tidak pernah, tidak sedang, dan tidak akan pernah mengejar senjata nuklir. Ia menyebut bahwa larangan berprinsipnya itu ditegaskan dalam fatwa Pemimpin Tertinggi Iran. Lagipula, Iran telah membuka akses penuh kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sebelum serangan Israel mengacaukan kerja sama tersebut. Iran menjadi satu-satunya negara dengan program nuklir paling transparan di dunia.

Presiden Iran juga menyampaikan kekhawatiran bahwa IAEA menjadi media infiltrasi oleh intelijen Israel, yang kemudian menggunakan informasi inspeksi tersebut untuk menyerang fasilitas nuklir Iran. Ia menyayangkan bahwa badan tersebut tidak mengecam serangan Israel terhadap situs yang berada di bawah pengawasannya sendiri. Hal ini memperdalam ketidakpercayaan masyarakat Iran terhadap lembaga internasional itu.

Terkait peluang dimulainya kembali dialog dengan AS, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran selalu siap berdialog. Namun ia menilai upaya diplomasi sebelumnya dihancurkan oleh serangan militer Israel yang terjadi saat proses negosiasi masih berlangsung. Ia menegaskan bahwa kesuksesan diplomasi bergantung pada kepercayaan dan penghentian agresi oleh Israel.

Saat ditanya tentang dugaan upaya pembunuhan terhadap dirinya, Pezeshkian mengungkapkan bahwa upaya itu ada dan pelakunya adalah Israel. Ia menceritakan bahwa gedung tempatnya melakukan rapat pernah menjadi sasaran serangan bom yang dilakukan menggunakan informasi dari jaringan mata-mata Israel. Namun ia menegaskan bahwa selama Tuhan tidak menghendaki, maka tidak ada yang terjadi. Dan jika Tuhan menghendaki, maka seseorang bisa meninggal walaupun sedang berjalan. Meski begitu, ia menegaskan bahwa dirinya dan bangsa Iran tidak takut mati dalam membela kedaulatan negaranya.

Presiden Iran juga menepis anggapan bahwa warga Iran di AS adalah ancaman. Ia menyebut warga Iran di luar negeri dikenal karena kontribusi mereka dalam ilmu pengetahuan, empati, dan peradaban — bukan aksi teror. Ia mengkritik narasi yang dibentuk oleh Israel dan pihak-pihak yang ingin menciptakan ketakutan dan mendorong AS ke dalam perang.

Dalam penutupnya, Pezeshkian menegaskan bahwa Iran siap membuka kerja sama ekonomi dengan AS jika sanksi dicabut. Ia menyebut bahwa keputusan untuk menciptakan perdamaian atau memperluas perang ada di tangan Presiden AS. Jika AS ingin menghindari perang berkepanjangan, maka harus mampu menahan ambisi agresif Netanyahu yang disebutnya sebagai “aspirasi setan.” [IT/G]
Comment