0
Wednesday 9 July 2025 - 06:14

Ketika Gaza Dibom, Orang-orang Ini Berlari Menyelamatkan Nyawa

Story Code : 1219556
Ketika Gaza Dibom, Orang-orang Ini Berlari Menyelamatkan Nyawa
Ketiga profesi ini menjadi tumpuan warga Gaza yang kini menghadapi genosida dan kelaparan.

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, militer Israel telah membunuh setidaknya 113 petugas pertahanan sipil, sekitar 228 jurnalis, dan sedikitnya 1.411 tenaga medis sejak 7 Oktober 2023.

Berikut salah satu kisah mereka:
Nooh Al-Shaghnobi, petugas pertahanan sipil di Gaza, sering kali pergi menjalankan misi tanpa tahu apakah ia akan pulang. Banyak rekannya yang terluka, hilang, atau bahkan tewas — seringkali secara sengaja ditarget — dalam menjalankan tugas mereka. Mereka menghadapi kekurangan tenaga, peralatan, dan kendaraan penyelamat.

“Pekerjaan kami melibatkan keputusan hidup dan mati. Kami harus memprioritaskan yang hidup, bahkan saat kami diserang langsung,” katanya. “Kami tidak bisa membiarkan orang hidup terjebak di bawah reruntuhan, meskipun itu membutuhkan waktu berjam-jam.”

“Perang ini telah membuktikan pada kami bahwa tidak ada lagi yang namanya hak asasi di dunia ini.”

Rekannya, Ali Omar, tewas saat mencoba menyelamatkan seorang perempuan hamil. Ali, yang tergantung di tali penyelamat, menjadi target langsung dan dihantam roket. Yang tersisa hanyalah tangannya — masih digenggam oleh rekan sesama petugas. 

“Apa yang terjadi pada kami ini benar-benar tidak normal,” kata Al-Shaghnobi, tubuhnya gemetar saat mengenang roket yang mengubah Ali dan perempuan itu menjadi serpihan. “Saya begitu terpukul, sampai-sampai saya mencium telapak tangan Ali yang terputus oleh roket Israel.”

“Di mana perlindungan internasional kami?” tanya Al-Shaghnobi. Tim pertahanan sipil telah berkali-kali dibunuh, tetapi dunia tetap diam.

Ia mengenang sebuah operasi memilukan lainnya: delapan jam menggali untuk menyelamatkan seorang bayi dari bawah reruntuhan, sementara tembakan Israel menghujani mereka. Mereka mendengar tangisan bayi itu, tetapi terbatasnya peralatan membuat penyelamatan gagal. 

“Di mana kemanusiaan? Di mana dunia? Di mana hak anak-anak?” tanya Al-Shaghnobi. Ia mengaku masih mendengar tangisan bayi itu dalam mimpinya, sebuah luka batin yang tak sembuh. Ia jarang bisa tidur. Pemandangan tubuh yang terpotong-potong, jeritan kesakitan, dan aroma kematian telah mencabik-cabik jiwanya.

Setelah pengeboman sekolah Fahmi al-Jarjawi, ia menyaksikan tubuh-tubuh meleleh dalam api. Ia mencoba mendekat, tapi panasnya hampir membakar tubuhnya. Salah satu jasad yang ia tarik keluar sudah hangus tak dikenali. Seorang anak perempuan berusia 7 tahun, leleh di bawah reruntuhan — hanya dikenali dari tulang kakinya. Namun ada juga momen keajaiban: gadis kecil bernama Ward, tertimbun reruntuhan namun hidup, dikelilingi jasad seluruh keluarganya.

Dr. Tiziana Roggio, ahli bedah plastik asal Italia yang datang dari London, menjadi sukarelawan di Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, pada Mei 2025. Pengalamannya di Gaza begitu mengguncang.

 “Apa yang saya alami di Gaza berada pada skala yang benar-benar berbeda,” katanya. “Jumlah kasus trauma, parahnya luka, minimnya persediaan dasar, dan begitu banyak anak-anak yang menjadi korban — tidak ada bandingannya.”

Hari-hari Roggio adalah siklus tak berujung: 12 hingga 14 jam operasi setiap hari, sering kali untuk anak-anak yang kekurangan gizi, dengan luka bakar hebat, cedera ledakan, patah tulang terbuka, dan kerusakan jaringan lunak parah. Amputasi dan luka pecahan bom menjadi pemandangan rutin.

Ahmad Alnajar, jurnalis untuk Press TV, menjalani hidup di tengah genosida yang ia laporkan. Konsep keselamatan baginya hampir mustahil. Rompi pers miliknya, alih-alih melindungi, sering menjadi sasaran. 

“Saat berdiri di depan kamera, saya selalu merasa, ini mungkin detik terakhir saya,” ujarnya. 

Beban mentalnya luar biasa. “Apa yang kami saksikan selama genosida ini cukup untuk membuat siapa pun kehilangan kewarasan,” kata Alnajar. Namun, warga Gaza tak punya waktu untuk berkabung. Kesedihan mereka selalu tertunda oleh serangan berikutnya.

Kini jurnalis bekerja dari tenda, karena kantor-kantor mereka telah dihancurkan. Mereka mengandalkan listrik dari rumah sakit atau panel surya seadanya. Tapi semangat mereka tak padam. “Kami tidak akan berhenti, karena pendudukan Israel pun tidak pernah berhenti,” tegasnya.

Ia mengenang pembantaian para paramedis di Rafah pada hari pertama Idulfitri 2025 — “Pemandangan paling mengerikan: para penyelamat yang datang untuk menyelamatkan, justru kembali dalam kantong jenazah.”

Alnajar merindukan orang-orang yang telah tiada. “Segala bangunan bisa dibangun kembali, tapi bagaimana cara membawa kembali saudara perempuanmu, pamanmu, temanmu? Allah merahmati mereka,” katanya lirih. 

Ia menutup dengan seruan: “Tolong bangun dan bertindak sebelum semuanya terlambat. Bayangkan jika ini terjadi pada kalian, atau anak kalian. Apakah kalian akan menerimanya?”[IT/AR]
Comment