0
Wednesday 9 July 2025 - 07:20

Mantan Komandan IRGC: Iran Telah Buktikan Mampu Hadapi AS dan Israel Secara Bersamaan

Story Code : 1219562
Mantan Komandan IRGC: Iran Telah Buktikan Mampu Hadapi AS dan Israel Secara Bersamaan
Dalam wawancara televisi pada Selasa (8/7), Rezai menyebut serangan tersebut sebagai manifestasi nyata dari kekuatan militer dan strategis Republik Islam. “Iran telah menunjukkan bahwa kami bisa secara efektif menantang Washington dan Tel Aviv pada saat yang sama,” ujarnya.

Rezai, yang pernah memimpin Pasukan Quds IRGC pasca Revolusi Islam 1979 dan kini menjadi anggota Dewan Kebijaksanaan yang memberi nasihat kepada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, menyebut bahwa keberhasilan Iran ini mengingatkannya pada pernyataan Letjen Qassem Soleimani, "Sayalah yang dapat menantang Anda."

Serangan Balasan: Presisi dan Daya Hancur Tinggi
Serangan balasan Iran dilakukan setelah Israel melancarkan serangan udara pada 13 Juni terhadap sejumlah target di Iran, dengan dukungan militer dan intelijen penuh dari Amerika Serikat.

Iran merespons dengan cepat melalui manuver pertahanan dan kemudian melancarkan serangan balik besar-besaran bertajuk Operasi True Promise III. Serangan tersebut menghantam target vital militer, nuklir, dan industri di wilayah Palestina yang diduduki dengan presisi tinggi. Ratusan rudal balistik — banyak di antaranya supersonik dan dilengkapi beberapa hulu ledak — serta kawanan drone bersenjata menghujani kota-kota strategis seperti Tel Aviv, Haifa, dan Be’er Sheva.

Menurut Rezai, dampak dari operasi ini “menghancurkan mitos ketakterkalahan Israel, mempermalukan Barat, dan memperkuat posisi Poros Perlawanan di kawasan.”

Gagalnya Tujuan Strategis AS dan Israel
Serangan Iran memaksa Israel untuk mengupayakan gencatan senjata hanya 12 hari setelah operasi dimulai, meskipun telah menggunakan sistem pertahanan rudal tercanggihnya dan bahkan melibatkan sistem buatan Amerika. Salah satu sistem anti-rudal AS dilaporkan habis oleh hujan rudal Iran selama konflik.

Media Israel juga mencatat bagaimana kota Bat Yam di pesisir Mediterania mengalami kerusakan parah, menyamai kehancuran yang biasa terlihat di Jalur Gaza.

Lebih jauh, Iran juga menargetkan pangkalan udara al-Udeid di Qatar — basis militer utama AS di kawasan — sebagai respons terhadap keterlibatan Washington dalam serangan terhadap fasilitas nuklir Iran. Rezaei menekankan, “Tidak ada negara yang berani melakukan serangan seperti itu — bahkan Tiongkok pun tidak.” Ia membantah klaim AS yang menyebut hanya satu rudal menghantam pangkalan itu, dengan mengutip laporan dari Qatar bahwa terdapat lima hingga enam ledakan.

Kegagalan Total dan Biaya Besar
Rezaei juga mengungkapkan bahwa AS dan Israel telah merancang agresi ini selama lebih dari satu tahun, termasuk melakukan latihan di Yunani dan Laut Mediterania. Namun, mereka gagal dalam mencapai sasaran utama: merugikan pemimpin Iran, menciptakan kekacauan internal, memicu pemberontakan di Teheran, dan menghancurkan infrastruktur militer strategis.

“Bahkan penguasaan wilayah udara Iran pun gagal mereka capai,” tegasnya.

Ia menambahkan, perang ini telah menelan biaya sekitar $20 miliar bagi Israel, sekaligus menguras stok rudal pencegat buatan AS yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diproduksi. “Semua kekalahan Israel adalah kemenangan bagi kami,” ucap Rezai, menyoroti kehancuran sistem keamanan musuh dan kegagalan mereka dalam mencapai tujuan akhir.

Kredibilitas Iran di Mata Kawasan Meningkat
Rezai menyimpulkan bahwa keberhasilan ini meningkatkan reputasi Iran sebagai kekuatan yang dapat diandalkan. “Ini adalah unjuk kekuatan, dan bukti bahwa Iran adalah negara yang tak bisa diremehkan,” katanya.

Namun, ia mengingatkan bahwa perjuangan belum selesai. “Kita telah memulai pendakian menuju puncak. Tapi yang paling penting adalah jangan berhenti, meskipun AS dan Israel berupaya keras untuk menghentikan kita.”[IT/AR]
Comment