Kepala UNRWA: Kita Tidak Bisa Benjadi Mitra dalam Pengungsian Paksa di Gaza
Story Code : 1219752
The United Nations Relief and Works Agency for Palestine Refugees (UNRWA)
Komisaris Jenderal Badan Bantuan dan Pekerjaan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), Philippe Lazzarini, menyatakan bahwa "kita tidak bisa tinggal diam atau menjadi mitra dalam pengungsian paksa skala besar di Jalur Gaza."
Nakba Kedua?
Para pejabat Zionis Israel menyatakan mereka merencanakan pengungsian massal lainnya bagi rakyat Palestina di #Gaza menuju Rafah.
Hal ini secara de facto akan menciptakan kamp konsentrasi besar-besaran di perbatasan dengan Mesir bagi warga Palestina, yang terus-menerus mengungsi lintas generasi.…
— Philippe Lazzarini (@UNLazzarini) 9 Juli 2025
Pernyataan Lazzarini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran internasional atas bencana kemanusiaan yang terjadi di Gaza, di mana lebih dari 1,9 juta warga Palestina telah mengungsi akibat agresi Zionis "Israel" yang terus-menerus selama lebih dari dua puluh bulan.
Ia menekankan bahwa tidak ada alternatif selain gencatan senjata permanen, pembebasan tawanan, masuknya bantuan kemanusiaan, dan komitmen terhadap solusi dua negara.
UNRWA Melaporkan Kondisi Lapangan yang Memprihatinkan
UNRWA telah memperingatkan bahwa keluarga-keluarga di Gaza sangat membutuhkan bantuan, dengan penduduk yang menghadapi kekurangan pangan ekstrem. Badan tersebut mencatat bahwa warga sipil telah diserang dan tertabrak saat mencoba mengakses pasokan makanan yang terbatas.
Insiden-insiden ini menyoroti meningkatnya bahaya bagi penduduk Gaza karena kondisinya semakin memburuk setiap harinya. Badan tersebut terus mendokumentasikan pelanggaran terhadap warga sipil yang berupaya mendapatkan bantuan kemanusiaan dasar, dengan Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan 773 orang gugur syahid dan 5.101 orang terluka saat mereka berupaya mendapatkan bantuan.
Bencana Kemanusiaan yang Semakin Dalam
Perang yang sedang berlangsung telah mengakibatkan pengungsian lebih dari 1,9 juta warga Palestina, serta kerusakan infrastruktur Gaza yang meluas, termasuk fasilitas kesehatan, sekolah, dan layanan penting.
Organisasi-organisasi kemanusiaan secara konsisten menyuarakan peringatan atas krisis kemanusiaan di Gaza, memperingatkan bahwa operasi militer yang berkelanjutan berisiko mendorong wilayah tersebut ke dalam kehancuran yang tak terelakkan.
Di #Gaza, anak-anak mengantre truk air yang seringkali tak kunjung tiba.
Alih-alih pergi ke sekolah atau bermain seperti seharusnya, mereka menunggu di bawah terik matahari.
Inilah masa kanak-kanak di Gaza.
Lebih dari 90% keluarga kekurangan air minum bersih karena kekurangan bahan bakar melumpuhkan sistem air.
Angkat… pic.twitter.com/BCMdkdVDpC
— UNRWA (@UNRWA) 9 Juli 2025
UNRWA hampir kolaps secara finansial
Pada tahun 2025, UNRWA menghadapi apa yang digambarkannya sebagai krisis keuangan kritis. Badan ini memulai tahun dengan nol cadangan keuangan dan utang sebesar $35 juta. Situasi ini semakin rumit dengan meningkatnya kebutuhan kemanusiaan akibat perang "Israel" yang sedang berlangsung di Gaza.
Kebutuhan anggaran UNRWA untuk tahun 2025 mencapai $1,7 miliar, tetapi pendanaan masih jauh di bawah ambang batas ini. Pada awal tahun 2024, 16 negara donor, termasuk AS, Jerman, dan Inggris, menangguhkan kontribusi menyusul tuduhan Israel terhadap staf UNRWA, yang mengakibatkan kerugian sebesar $438 juta, lebih dari separuh dana yang diharapkan untuk badan tersebut.
Meskipun beberapa donor, seperti Jerman, Inggris, dan Uni Eropa, telah melanjutkan dukungan parsial setelah tinjauan internal PBB, kekurangan dana terus mengancam operasi inti, termasuk layanan pangan, kesehatan, dan pendidikan.
Perang juga telah menimbulkan kerugian besar bagi staf dan infrastruktur UNRWA, dengan lebih dari 270 staf tewas dan lebih dari 200 fasilitas rusak atau hancur sejak Oktober 2023. Dengan pembatasan Zionis "Israel" yang terus berlanjut terhadap masuknya bantuan dan pergerakan operasional, badan tersebut memperingatkan kemungkinan pemotongan layanan atau bahkan keruntuhan jika dana darurat tidak dijamin.
#GencatanApiSekarang #Gaza pic.twitter.com/7hvlYOzxJJ
— Philippe Lazzarini (@UNLazzarini) 7 Juli 2025
UNRWA di bawah tekanan
UNRWA masih berada di bawah tekanan yang sangat besar akibat pembatasan Israel terhadap operasinya dan upaya politik yang terus-menerus untuk melemahkan legitimasinya. Para pengamat memperingatkan bahwa ini adalah bagian dari rencana yang lebih luas untuk membubarkan badan tersebut dan menghapus isu pengungsi Palestina dari agenda internasional.
Meskipun menghadapi tantangan-tantangan ini, Lazzarini menegaskan kembali komitmen teguh badan tersebut terhadap pengungsi Palestina dan menyerukan kepada komunitas internasional untuk bertindak segera guna mencegah memburuknya kondisi di Gaza.[IT/r]