Israel Buntu di Yaman: Mengapa Sana’a Tak Terkalahkan?
Story Code : 1219968
Sementara perhatian dunia masih tertuju pada konflik berkepanjangan di Gaza, Yaman telah menjelma menjadi front baru yang menantang Israel secara langsung. Pasukan Yaman, yang berada di bawah komando Gerakan Ansarullah, telah melakukan serangkaian serangan yang terkoordinasi dan efektif terhadap kepentingan Israel di Laut Merah dan daratan Palestina pendudukan.
AS Mundur Teratur
Langkah Amerika Serikat yang tiba-tiba menghentikan operasi militer terhadap Yaman menjadi sinyal kuat betapa rumitnya konflik ini. Setelah melancarkan serangan udara sejak 15 Maret lalu, Washington akhirnya mengumumkan gencatan senjata pada 2 Mei setelah melalui mediasi Oman.
Namun, gencatan senjata tersebut hanya berlaku antara AS dan Ansarullah. Yaman secara terbuka menegaskan bahwa mereka akan terus menyerang Israel sebagai bagian dari solidaritas terhadap Gaza. Bahkan ketika AS dan Inggris menggempur Yaman selama 53 hari, hal itu tidak mampu menghentikan serangan rudal dan drone Yaman ke jantung wilayah Israel.
Rudal Jarak Jauh dan Ketangguhan Medan
Salah satu rudal jarak jauh Yaman bahkan berhasil jatuh di dekat Bandara Internasional Ben-Gurion dua bulan lalu, mencederai sejumlah orang dan menimbulkan kepanikan. Meski sistem pertahanan udara Israel mendeteksi rudal tersebut, kegagalan mencegatnya menandai kelemahan serius.
Serangan itu bukan insiden tunggal. Selama 20 bulan terakhir, Ansarullah telah melancarkan berbagai serangan ke pelabuhan selatan Israel dan kapal-kapal Israel di Laut Merah, dengan tujuan memperketat blokade ekonomi terhadap Tel Aviv.
Sebagai balasan, Israel meluncurkan delapan gelombang serangan udara ke wilayah Yaman. Namun, kekuatan udara gabungan Israel, AS, dan Inggris tidak cukup untuk menundukkan kekuatan Yaman—sebuah fakta yang sebelumnya juga dialami oleh koalisi militer pimpinan Saudi selama konflik 2015–2022.
Kekuatan di Balik Pertahanan Yaman
Pertahanan Yaman yang kuat bukan tanpa alasan. Ansarullah telah berhasil mengembangkan rudal balistik dan drone secara mandiri sejak konflik dimulai. Luasnya wilayah Yaman memungkinkan peluncuran rudal dari lokasi-lokasi tersembunyi, yang sulit dilacak maupun dihancurkan.
Selain itu, penguasaan atas teknologi drone, seperti Shahed 136 yang mulai digunakan sejak 2021, menjadikan Yaman sebagai kekuatan tak terduga di kawasan. Meski Israel mengklaim mampu mencegat 95% rudal yang masuk, nyatanya beberapa rudal tetap menghantam sasaran.
Jalan Buntu bagi Invasi Darat
Mengirim pasukan darat ke Yaman bukan pilihan yang realistis bagi Israel atau AS. Sejarah mencatat bagaimana Mesir gagal menaklukkan Yaman pada 1960-an meskipun mengerahkan pasukan dalam jumlah besar. Medan pegunungan yang sulit, jaringan perlawanan yang tersebar, serta pengalaman tempur Yaman selama satu dekade terakhir menjadikan invasi darat sebagai mimpi buruk bagi siapa pun.
Dalam situasi ini, Israel tidak hanya berhadapan dengan satu musuh di Gaza, tetapi kini menghadapi tantangan strategis dari poros perlawanan yang semakin terkoordinasi—dan Yaman berada di garis depan perlawanan itu.[IT/AR]