Media Israel: Hubungan ‘Israel’-Suriah Membawa Perkembangan Dramatis di Timur Tengah
Story Code : 1220108
The Syrian flag
Hubungan Zionis Israel-Suriah, meskipun dramatis jika dinormalisasi, merupakan topik yang paling jarang dibicarakan secara terbuka.
Meskipun absen dari wacana publik, surat kabar tersebut menggambarkan topik tersebut sebagai salah satu arus bawah yang paling signifikan dan dramatis dalam diplomasi terkini. Menurut laporan tersebut, upaya untuk menormalisasi hubungan antara Tel Aviv dan Damaskus dapat memungkinkan para pemimpin Suriah untuk mengklaim sebuah terobosan politik besar di hadapan rakyatnya.
Surat kabar tersebut mengklaim bahwa normalisasi, meskipun terbatas, dapat berfungsi sebagai batu loncatan untuk stabilitas regional yang lebih luas dan bertindak sebagai katalisator untuk "perundingan damai" yang diperbarui di Timur Tengah. Laporan tersebut berspekulasi bahwa dinamika yang berkembang pada akhirnya dapat mengarah pada rekonfigurasi parsial hubungan antara Zionis "Israel" dan rezim pascakonflik Suriah.
Salah satu gestur potensial yang disebutkan adalah pengembalian jenazah mata-mata Zionis Israel Eli Cohen, yang dieksekusi di Suriah pada tahun 1965, sebagai bagian dari serangkaian langkah membangun kepercayaan bersama.
"Mengapa pertemuan ini dapat mengubah aturan main?" tanya laporan tersebut, menyoroti potensi dramatisitas diplomasi semacam itu.
Lebih lanjut, Ynet menyarankan Zionis "Israel" mungkin mempertimbangkan untuk menarik diri dari zona penyangga demiliterisasi dengan imbalan jaminan keamanan yang kuat dari AS, bukan PBB. Hal ini, menurut laporan tersebut, akan memungkinkan "Israel" untuk bertindak "preemptif" jika ada informasi intelijen yang menunjukkan adanya pergerakan militer di dekat perbatasan, serupa dengan ancaman yang dihadapinya dari Hizbullah di Lebanon.
Dari diplomasi ke investasi
Laporan tersebut lebih lanjut mencatat bahwa langkah-langkah tersebut dapat membuka jalan bagi perluasan proses diplomatik, dimulai dengan formalisasi hubungan bilateral, diikuti oleh reformasi sistem pendidikan Suriah, dan bahkan dukungan Israel untuk pengembangan pertanian di wilayah perbatasan.
Menurut Yedioth Ahronoth, "Jika upaya perdamaian antara Zionis Israel dan Suriah berjalan lancar dan hubungan stabil, negara-negara Sunni moderat seperti Arab Saudi, Yordania, dan Uni Emirat Arab akan lebih cenderung berinvestasi di Suriah tanpa dibayangi rasa takut akan perang." Hal ini, pada gilirannya, akan secara signifikan mengurangi risiko keuangan yang terkait dengan investasi besar.
Surat kabar tersebut juga mengaitkan potensi mencairnya hubungan Zionis "Israel"-Suriah dengan ambisi AS yang lebih luas di kawasan tersebut. Surat kabar tersebut berpendapat bahwa dorongan Trump untuk memperluas apa yang disebut "Kesepakatan Abraham" dapat memperkuat statusnya, menempatkannya sebagai kandidat terdepan untuk Hadiah Nobel Perdamaian, yang ada dalam daftarnya.
Kemenangan diplomatik semacam itu, menurut artikel tersebut, akan menjadi landasan agenda Trump untuk "Membuat Amerika Hebat Kembali", baik dengan menegaskan kembali pengaruh AS di Timur Tengah maupun memposisikan Amerika Serikat sebagai pemain sentral dalam rekonstruksi dan pembangunan Suriah pascaperang.[IT/r]