0
Saturday 12 July 2025 - 06:55

Kebenaran, Versi Siapa? Israel Rilis Laporan Kekerasan Seksual, Tapi Lupa Bawa Bukti

Story Code : 1220145
Reem Alsalem (MEMO).
Reem Alsalem (MEMO).
Untungnya, dunia masih punya orang waras seperti Reem Alsalem, Pelapor Khusus PBB untuk Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak Perempuan, yang mengingatkan kita bahwa belum ada satu pun badan independen yang bisa memverifikasi tuduhan-tuduhan fantastis tersebut. 

Laporan yang digagas oleh proyek bertajuk Dinah Project itu menyebutkan 17 insiden kekerasan seksual, mencakup pemerkosaan, mutilasi, dan “penghinaan seksual” terhadap sandera. Bahkan mereka menyerukan agar Hamas dicap sebagai organisasi yang menggunakan kekerasan seksual secara sistematis. Terdengar serius, kecuali jika Anda mengingat bahwa bahkan Komisi Penyelidikan PBB pun tidak bisa memeriksa klaim-klaim ini karena Israel tidak mengizinkan mereka menyelidiki.

Tapi jangan khawatir, pemerintah Israel sudah menyiapkan narasi alternatif. Jika Anda tak bisa membuktikan kejahatan musuh, cukup halangi penyelidikan, kemudian teriak, “Kenapa kalian tak percaya kami?”

Sementara itu, Hamas tentu saja menyangkal tuduhan tersebut. Namun dalam pusaran kebisingan propaganda, penyangkalan tak berarti apa-apa jika Anda bukan pihak yang mengendalikan media internasional.

Dan bicara soal kejahatan, Israel seolah lupa cermin saat berbicara soal kekerasan terhadap perempuan. PBB baru-baru ini merilis laporan berjudul “More Than a Human Can Bear”, yang mendokumentasikan kekerasan berbasis gender dan reproduksi yang dilakukan oleh Israel di Gaza. Tapi laporan itu, sayangnya, tak masuk ke daftar bacaan wajib para pendukung “Gaza Riviera.”

Lalu ada fakta menyedihkan yang tak bisa disapu di bawah karpet: lebih dari 57.000 warga Palestina telah tewas sejak 7 Oktober, mayoritas perempuan dan anak-anak. Tetapi jika narasinya tidak cukup laku di media barat, Israel selalu bisa kembali ke naskah lama: “Lihatlah betapa brutalnya musuh kami.”

Sementara itu, dunia diminta untuk percaya bahwa ratusan warga sipil yang terbunuh bukan karena bom, tapi karena kebetulan berada di tempat yang salah saat Hannibal Directive diaktifkan. Siapa butuh keadilan jika ada protokol yang mengizinkan Anda menembaki sandera sendiri?

Pada akhirnya, publik hanya bisa bertanya-tanya: apakah ini sungguh tentang mencari keadilan, atau sekadar melancarkan kampanye propaganda bertabur laporan “ahli” yang tidak bisa diuji? Jika ada satu hal yang pasti, itu adalah: dalam perang informasi, kebenaran sering kali menjadi korban pertama—dan bukti, entah mengapa, selalu ketinggalan.[IT/AR]
Comment