0
Sunday 13 July 2025 - 05:02
AS - Lebanon:

The National: AS Keluarkan Ultimatum kepada Lebanon - ‘Lucuri Senjata atau Runtuh’

Story Code : 1220343
Tom Barrack, The US Special Envoy to Syria
Tom Barrack, The US Special Envoy to Syria
Komentar tersebut disampaikan dalam wawancara dengan The National pada hari Jumat (11/7), mencerminkan tekanan AS yang meningkat terhadap Lebanon untuk membongkar kekuatan perlawanan nasionalnya.

“Kamu punya  Zionis‘Israel’ di satu sisi, Iran di sisi lain, dan sekarang Suriah muncul begitu cepat sehingga jika Lebanon tidak bergerak, maka itu akan menjadi Bilad Al Sham lagi,” ujar Barrack, merujuk pada nama historis untuk Suriah Raya. Ia menambahkan, “Orang Suriah bilang Lebanon itu adalah resor pantai kami. Jadi kita harus bergerak.”
 
Dengan bahasa yang dikritik oleh para pengamat sebagai merendahkan dan intervensif, Barrack memposisikan pelucutan senjata Perlawanan bukan sebagai keputusan domestik Lebanon, melainkan sebagai syarat bantuan finansial dari AS dan negara Teluk.
 
Barrack mengklaim bahwa Amerika Serikat, bersama Arab Saudi dan Qatar, siap mendukung Lebanon secara finansial—namun hanya jika Beirut menyetujui kesepakatan luas yang mencakup "pelucutan penuh senjata Hizbullah" dan pelaksanaan reformasi ekonomi yang ditentukan oleh pihak luar.
 
Bulan lalu, ia mengajukan proposal kepada para pemimpin Lebanon yang mengaitkan bantuan rekonstruksi masa depan dan penghentian agresi militer Zionis Israel dengan pembongkaran infrastruktur militer Perlawanan. Rencana tersebut dipandang oleh para pengkritik sebagai upaya memanfaatkan krisis ekonomi Lebanon untuk memaksakan konsesi politik dan militer.
 
Zionis Israel Tetap Menyerang Meski Ada Gencatan Senjata
Meskipun pasukan Perlawanan telah menarik pejuangnya dari garis depan di Lebanon selatan setelah kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi AS pada bulan November, Zionis “Israel” tetap menuntut pelucutan senjata total di seluruh Lebanon, yang pada praktiknya akan menghilangkan kemampuan negara tersebut untuk memiliki kekuatan penangkal.
 
Sementara itu, pasukan pendudukan Israel terus melanggar gencatan senjata, dengan terus menyerang desa dan kota di Lebanon Selatan dan wilayah Bekaa, serta wilayah Suburban Selatan Beirut, dan masih menduduki lima titik strategis di wilayah selatan.
 
Hari ini, seorang warga menjadi martir akibat serangan drone Israel yang menghantam rumah tinggal di al-Khiam, Lebanon selatan, menurut pernyataan Kementerian Kesehatan Lebanon.
 
Pejabat Lebanon Tolak Tekanan AS
Sebagai tanggapan, pejabat Lebanon menyerahkan dokumen tujuh halaman yang menuntut penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah Lebanon yang diduduki, termasuk Peternakan Shebaa, dan menegaskan kembali kedaulatan negara atas kepemilikan senjata. Namun, dokumen tersebut tidak secara eksplisit mendukung pelucutan senjata nasional secara penuh.

Barrack mengakui tanggapan itu, namun menyatakan bahwa AS akan terus mendorong lebih jauh:
“Ada isu-isu yang harus kita ‘adu kekuatan’ bersama untuk mencapai kesimpulan akhir.”
 
Ia juga mengkritik apa yang dilihatnya sebagai sejarah Lebanon dalam “mengabaikan kesepakatan internasional”.
“Kami punya kesepakatan… itu adalah kesepakatan yang hebat. Masalahnya, tidak ada yang menjalankannya.”
 
Barrack juga menolak “keengganan” Presiden Lebanon Joseph Aoun untuk secara terbuka berkomitmen pada tenggat pelucutan senjata, dengan alasan bahwa sang presiden takut pada potensi ketidakstabilan dalam negeri, dan menuduh:
“Dia tidak ingin memulai perang saudara.”
 
Barrack menyebut bahwa Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF) bisa menjadi alat pelaksana rencana pelucutan senjata, namun mengakui bahwa mereka saat ini kekurangan dana dan peralatan.
“Kami tidak punya cukup tentara di lapangan agar LAF bisa melakukannya sekarang, karena mereka tidak punya uang. Mereka menggunakan peralatan berusia 60 tahun,” katanya.
 
Ia mengusulkan agar Hizbullah menyerahkan senjata berat, drone, roket, dan sistem misil ke depo internasional yang diawasi oleh AS, Prancis, “Israel,” dan LAF, namun menekankan bahwa LAF tidak dapat menegakkan rencana tersebut sendirian.

Campur Tangan Asing
Barrack juga secara terbuka menyesalkan minimnya dukungan Teluk untuk LAF, menuduh kelelahan donor akibat skandal korupsi sebelumnya.
“Kenapa mitra Teluk tidak mau bantu? Karena mereka sudah memberi begitu banyak uang ke Lebanon di masa lalu, dan semuanya jatuh ke tangan pemimpin korup. Jadi mereka bilang, ‘Kami sudah selesai,’” ujar Barrack.
 
Meski mengakui korupsi sebagai masalah besar, Barrack menegaskan bahwa pembongkaran Hizbullah dan restrukturisasi kekuasaan internal Lebanon tetap menjadi prioritas utama.
“Kita perlu memperkuat LAF,” pungkasnya. “Kita bisa melakukannya bersama negara Teluk, bersama UNIFIL, sambil kita redefinisi terus peran mereka.”

Nada AS Berubah saat Lebanon Bertahan
Ancaman ini berbanding terbalik dengan pernyataan Tom Barrack di awal minggu, di mana ia menyampaikan optimisme terhadap perdamaian dan kemakmuran Lebanon setelah Beirut merespons proposal Washington mengenai kepemilikan senjata eksklusif oleh negara.
 
Kunjungan dua harinya ke Beirut bertujuan mengamankan respons resmi Lebanon terhadap proposal AS tertanggal 19 Juni, yang menyerukan "pelucutan senjata semua aktor non-negara, terutama Hizbullah" sebagai imbalan atas penarikan “Israel” dari pos perbatasan selatan yang tersisa, pertukaran tahanan yang dimediasi PBB, dan bantuan rekonstruksi internasional.
 
Setelah bertemu Presiden Joseph Aoun, Barrack berkata:
“Rakyat Lebanon sekarang memiliki peluang nyata seiring kawasan mengalami perubahan besar,” seraya menyebut bahwa ia “cukup puas” dengan respons Lebanon dan menggambarkannya “masih dalam cakupan” yang diharapkan Washington.
Ia juga menambahkan bahwa Lebanon tidak diwajibkan mengikuti tenggat waktu yang ketat, selama terus menunjukkan kemajuan menuju penyelesaian syarat kesepakatan. “Pertemuan kami sangat produktif dan penting,” ujarnya.
 
Saat ditanya apakah AS akan berupaya “membubarkan Hizbullah sebagai partai politik”, Barrack menjawab:
“Apakah Anda pikir AS atau Prancis akan datang untuk membubarkan Hizbullah, partai politik di Lebanon? Ini sepenuhnya masalah dalam negeri Lebanon, dan rakyat Lebanon yang harus menanganinya.”
 
Sebelumnya, pada 6 Juni, sumber yang dikutip oleh Al Mayadeen menyatakan bahwa Lebanon belum merampungkan pembahasan internal mengenai proposal pelucutan senjata yang diajukan AS. Sumber itu menyebut bahwa tanggapan Lebanon akan mencerminkan sikap nasional terpadu berdasarkan konsultasi antar pemimpin politik utama negara.[IT/r]
 
 
Comment