‘Generasi yang Terbuang dalam Pertumpahan Darah’: Perang di Gaza Menggemakan Kesia-siaan Invasi Lebanon
Story Code : 1220352
IOF soldiers mourn at the grave of Sgt. First Class Roi Sasson, who was killed in action in the Gaza Strip
Media Zionis "Israel" kini secara terbuka menyatakan bahwa tentara Zionis "Israel" tewas sia-sia di Gaza, karena perang di Jalur Gaza terus berlarut-larut melewati 18 bulan tanpa hasil nyata, dengan salah satu outlet berita secara blak-blakan menyebut bahwa perang ini telah "kehilangan tujuannya."
Channel 12 membandingkan situasi di Gaza dengan invasi ke Lebanon pada tahun 1982, menggambarkan keduanya sebagai perang sia-sia di mana tentara gugur tanpa hasil, dan menyebut periode 1982–2000 sebagai “generasi yang terbuang dalam pertumpahan darah.”
Barak Sari, penasihat strategis untuk Channel 12, mengatakan:
“Saat itu, tentara terus mati hanya untuk akhirnya kita menarik diri sepenuhnya dari Lebanon, dan apa yang terjadi di Gaza saat ini tampak sangat mirip. Ini tidak menghasilkan apa-apa, sia-sia, dan jujur saja membuat putus asa karena kita tidak melihat hasil apa pun dan para sandera belum kembali."
Ia mengakui bahwa tekanan militer gagal membebaskan para tawanan, meskipun Zionis "Israel" mengklaim telah menguasai 80% wilayah Jalur Gaza.
Sari juga mengkritik tujuan dan hasil dari perang yang dimulai pada 7 Oktober 2023 tersebut, dengan mengatakan:
“Tidak ada yang benar-benar paham ke mana perang ini akan membawa kita.”
Korban Tentara Bertambah, Pasukan IOF Alami Kelelahan
Menambah deretan kritik, mantan anggota Knesset, Ofer Shelah, mengakui bahwa perang di Gaza sudah lama melewati titik di mana tujuan yang berarti bisa dicapai, karena tidak menunjukkan hasil nyata selama lebih dari satu tahun.
Dalam wawancaranya dengan penyiar publik "Israel", Kan, Shelah menggambarkan perang di Gaza sebagai:
“siklus kematian tentara dan kelelahan militer tanpa akhir yang terlihat.”
Menanggapi rencana Zionis “Israel” untuk memindahkan paksa warga Palestina dari Gaza, Shelah menyatakan dengan tegas bahwa, meskipun ada harapan dari beberapa tokoh Zionis Israel, "penduduk Gaza tidak akan pergi ke mana-mana."
Shelah menyerukan penghentian perang, dan mengkritik pendekatan Zionis “Israel” dalam negosiasi, mencatat bahwa:
"Zionis Israel bahkan menolak untuk memenuhi tuntutan minimum Hamas, yang sebenarnya tidak berubah sejak 8 Oktober 2023."
Ia menjelaskan bahwa titik temu antara tuntutan maksimal Zionis “Israel” dan tuntutan minimum Hamas adalah mengakhiri perang saat ini dan mengamankan kesepakatan untuk memulangkan semua sandera.
“Selama opsi itu tidak ada di atas meja, dan selama pemerintah Zionis Israel terus mencari alternatif dari mengakhiri perang, tidak akan ada kesepakatan untuk membawa pulang semua sandera,” ujarnya.
Ketegangan Dalam Negeri Terkait Pengecualian Haredi dari Wajib Militer
Dalam konteks terkait, ketidakpuasan meningkat di kalangan militer Zionis Israel karena kerugian yang terus bertambah, dan krisis mengenai pengecualian Yahudi ultra-Ortodoks (Haredi) dari wajib militer memperdalam ketegangan, menurut laporan Sabtu oleh surat kabar Maariv.
Tentara Zionis "Israel" menyampaikan frustrasi kepada Maariv, menuduh pemerintah Netanyahu mengirim mereka berperang di Gaza sementara puluhan ribu Haredi dibebaskan dari dinas militer.
Mereka menuduh pemerintah:
“Lemah dan tidak berdaya terhadap tekanan dari rabi dan politisi Haredi,”
dan menilai bahwa sistem yang tidak adil ini:
“memberi beban yang semakin besar pada tentara di medan tempur.”
Maariv juga melaporkan bahwa para tentara khawatir jika mereka terus berperang dalam kondisi ini tanpa solusi nyata dan dukungan berarti, maka itu akan:
“secara perlahan melumpuhkan kami hingga titik kehancuran,”
dan menyerukan perombakan total kebijakan saat ini.
Laporan sebelumnya di media Zionis "Israel" menyoroti krisis kekurangan personel militer, memaksa militer untuk mengembalikan tentara yang didiagnosis PTSD ke zona tempur.
Surat kabar Haaretz mengutip seorang komandan militer yang mengatakan:
“Dengan banyak tentara enggan bertempur, kami terpaksa merekrut individu yang secara psikologis tidak layak untuk bertugas,”
dan menambahkan:
“Kami bertempur dengan tenaga yang ada, meskipun kami tahu kondisi mental mereka tidak stabil.”[IT/r]