Mainkan Kartu Bom Lagi, Trump Dukung Serangan Baru "Israel" ke Iran
Story Code : 1220353
US Secretary of State Marco Rubio, President Donald Trump, Defense Secretary Pete Hegseth, and US Ambassador to Israel Mike Huckabee
Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Zionis "Israel" Benjamin Netanyahu di Gedung Putih pada hari Senin (7/7), Presiden AS Donald Trump menyatakan harapannya agar tidak ada lagi tindakan militer AS terhadap Iran, dengan mengatakan: “Saya tidak bisa membayangkan ingin melakukan itu.”
Namun, menurut pejabat tinggi AS yang dikutip oleh The Wall Street Journal, Netanyahu secara pribadi memberi tahu Trump bahwa jika Iran kembali melanjutkan upaya pengembangan senjata nuklir—yang sejauh ini tidak pernah terbukti—maka Zionis "Israel" akan mempertimbangkan serangan militer tambahan.
Trump, meskipun mendorong penyelesaian diplomatik dengan Tehran, tidak menentang sikap agresif Zionis "Israel".
Diskusi mereka menyoroti perbedaan strategi antara AS, Zionis "Israel", dan Iran setelah serangan terbaru terhadap fasilitas nuklir Iran oleh AS.
Trump mengandalkan ancaman aksi militer lebih lanjut untuk menekan Iran agar kembali ke meja perundingan nuklir, sementara Zionis "Israel" tetap skeptis bahwa diplomasi bisa mencegah kemajuan rahasia program nuklir Iran, menurut WSJ.
Trump ‘Tidak Peduli’ dengan Penilaian Intelijen yang Menyebut Iran Tak Mengejar Senjata Nuklir
Meski begitu, Trump secara terbuka menolak penilaian intelijen utama yang menyatakan bahwa Iran tidak mengejar senjata nuklir, dan justru lebih sejalan dengan sikap agresif rezim pendudukan Zionis Israel.
Penilaian tersebut, yang disampaikan pada Maret oleh Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard, dengan tegas menyatakan bahwa Iran saat ini tidak mengembangkan senjata nuklir dan bahwa Pemimpin Tertinggi Sayyid Ali Khamenei tidak pernah mengaktifkan kembali program senjata tersebut sejak dihentikan pada 2003.
Namun ketika Trump dihadapkan dengan penilaian itu, ia dengan enteng menepisnya, meskipun datang dari pejabat yang ia angkat sendiri.
“Saya tidak peduli dengan apa yang dia katakan,” ujar Trump saat itu.
Sementara itu, Tehran, yang telah berulang kali menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai, kini menuntut jaminan bahwa tidak akan ada serangan militer tambahan jika mereka melanjutkan pembicaraan dengan Washington.
Tantangan Dalam Melanjutkan Negosiasi
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, bersama para pejabat tinggi lainnya, baru-baru ini menyatakan bahwa Tehran terbuka untuk melanjutkan pembicaraan nuklir dengan AS, tetapi hanya jika mereka mendapatkan jaminan tidak akan ada serangan tambahan selama negosiasi berlangsung.
Iran juga menegaskan haknya untuk terus memperkaya uranium untuk tujuan damai.
Para pejabat Zionis "Israel" kini mengklaim bahwa serangan udara telah menunda ambisi nuklir Iran, meskipun mereka juga mengakui bahwa sebagian cadangan uranium tingkat tinggi Iran di fasilitas Isfahan tetap selamat dari serangan.
Tekanan terhadap Trump dan Zionis "Israel"
Analis memperingatkan bahwa Zionis "Israel" dapat menentukan langkah berikutnya dalam strategi terhadap Iran, yang dapat menjadi bahaya tersendiri bagi Trump.
“Saya rasa Trump hanya ingin masalah Iran ini lenyap begitu saja,” kata Gabriel Noronha, mantan pejabat kebijakan Iran pada pemerintahan Trump pertama.
“Dia jelas tidak ingin ada pengayaan uranium atau senjata nuklir. Tapi dia bersedia fleksibel dalam hal lain.”
Banyak pakar percaya bahwa jika Iran memutuskan membangun kembali program nuklirnya, mereka kemungkinan akan melakukannya secara diam-diam melalui fasilitas pengayaan bawah tanah yang tidak diumumkan, alih-alih fasilitas yang sudah diketahui dunia.
“Mencapai kesepakatan itu sudah sulit sebelum serangan. Sekarang, hal itu jadi jauh lebih sulit,” kata Dan Shapiro, mantan duta besar AS untuk Zionis "Israel" yang juga terlibat dalam negosiasi Iran di bawah pemerintahan Biden.
“Trump tidak bisa mundur dari sikap nol pengayaan, dan Iran merasa tidak bisa menyerah begitu saja setelah diserang.”
Ali Vaez, direktur proyek Iran di Crisis Group, mengatakan bahwa kelompok pejabat Iran yang mendukung diplomasi serius kini menjadi minoritas setelah serangan-serangan tersebut. Ia mencatat tingkat ketidakpercayaan yang meningkat terhadap Trump, karena kekhawatiran bahwa tujuan Washington bisa berubah sewaktu-waktu.
Mencari kesepakatan dengan harga berapa pun, terutama yang menuntut diakhirinya program pengayaan Iran, kini tampak semakin mustahil, ujarnya.
Sementara itu, pemerintah Eropa kembali mengancam akan mengaktifkan kembali sanksi yang sebelumnya dicabut dalam kesepakatan nuklir 2015, kecuali Iran sepenuhnya bekerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Batas waktu Oktober semakin dekat bagi Inggris, Prancis, dan Jerman untuk memutuskan apakah akan memberlakukan kembali sanksi tersebut.
Menanggapi itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa upaya Eropa untuk menerapkan mekanisme snapback akan mengakhiri peran Eropa dalam isu nuklir Iran, dan menegaskan bahwa kerja sama Iran dengan IAEA belum berhenti, tetapi telah berubah bentuk.[IT/r]