Jalur Bebas Pajak Menuju “Timur Tengah Baru” Versi Amerika Serikat
Story Code : 1220804
Ingrid Chahine dalam artikel yang dimuat di situs Al-Akhbar pada hari Minggu menyimpulkan hal tersebut.
Di awal tulisannya, ia menyebutkan bahwa kemitraan antara Brookings Institution dan The Saban Family Foundation telah melahirkan Saban Center for Middle East Policy. Lembaga ini telah menghasilkan 33 monograf, 32 ringkasan kebijakan, dan 16 buku. Salah satu ringkasan kebijakan yang paling terkenal berjudul “Which Path to Persia? Options for a New American Strategy toward Iran” disusun oleh para pakar Saban Center—yang sebagian besar, jika bukan semuanya, adalah mantan agen CIA.
Secara esensial, dokumen ini bukan sekadar kumpulan strategi untuk menghadapi “musuh-musuh AS.” Ia adalah contoh konkret bagaimana keputusan kebijakan didasarkan pada kerangka strategis yang mapan, meski agresif. Paradigma ini, meski dipromosikan oleh Saban Center di Brookings, juga sangat dipengaruhi dan didukung oleh think tank pro-AS lainnya, yang sebagian besar dibiayai jaringan filantropi berpengaruh, sering kali berbasis keluarga.
Saban Family Foundation (Nomor Identifikasi Pemberi Kerja/EIN: 954769273) adalah organisasi amal yang berbasis di Los Angeles, dengan anggaran hibah sekitar $7.230.346 per tahun. Didirikan pada 1999–2000 oleh pasangan Haim dan Cheryl Saban, misi utamanya adalah membentuk dunia televisi dengan mendidik generasi baru profesional TV—terlihat dari keterlibatannya dalam acara FOX Kids seperti Mighty Morphin Power Rangers dan X-Men. Di sisi lain, yayasan ini mengklaim mendukung program kesehatan, anak-anak, dan pendidikan.
Dari segi personel, Saban Family Foundation hanya memiliki dua karyawan bergaji pada 2022 dan 2023: Bronner Jesse, Manajer Senior, dengan gaji tahunan antara $224.659–$224.770 (sekitar $18.721–$18.731 per bulan), serta Manevich Micha, Manajer Hibah, dengan gaji tahunan $115.830–$120.007 (sekitar $9.652–$10.000 per bulan). Selebihnya, para pengurus bekerja secara pro bono—karena tak ada yang lebih mencerminkan “filantropi” selain mensubsidi mesin perang: mulai dari Presiden Cheryl Saban, Wakil Presiden Senior Haim Saban, Direktur Eksekutif, Penasihat Hukum, hingga Sekretaris Asisten.
Makalah analisis Saban Center ini juga mendapat dukungan dana dari Smith Richardson Foundation dan Crown Family Foundation. Salah satu penerima utama dana Smith Richardson adalah Foundation for Defense of Democracies (FDD), yang dituduh memainkan peran penting dalam membentuk intervensi AS di Iran—termasuk peristiwa pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani tahun 2020. Kedua yayasan juga menjadi sponsor lembaga riset seperti American Enterprise Institute (AEI), RAND Corporation, Center for Strategic and International Studies (CSIS), dan lainnya yang fokus pada kebijakan luar negeri AS, khususnya terhadap Iran pasca-revolusi.
Sebagai contoh, AEI memperluas kajian bertema “Republik Radioaktif Iran” sejak 2005, padahal publikasi terakhir mereka soal Iran sebelumnya adalah tahun 1987—tepat setelah skandal Iran-Contra di masa Presiden Reagan, bertepatan dengan meningkatnya minat Presiden Bush terhadap Iran. RAND mengeluarkan ringkasan riset tentang paradigma baru kebijakan AS terhadap Iran tahun 2009, sementara CSIS menerbitkan komentar Stephan Johnson tahun 2011 terkait pengeboman di Argentina tahun 1992 dan 1994 yang menargetkan Kedutaan Besar Israel dan pusat komunitas Yahudi AMIA. Ia juga merilis laporan lanjutan soal pengaruh Iran di benua Amerika pada Maret 2012.
Publikasi yang lebih mutakhir termasuk makalah CSIS Oktober 2021 oleh Eric Brewer mengenai program nuklir Iran yang terus berkembang, serta laporan RAND 2021 tentang jaringan ancaman Iran dan intervensi militer Iran.
Akhirnya, pelajaran yang bisa dipetik dari "buku pedoman" Brookings adalah: tidak semua jalan mengarah ke Persia—sekalipun dibungkus dalam niat amal dan retorika dermawan. Namun, AS dan sekutunya tampaknya tak pernah lelah menempuh jalan-jalan tersebut—jalan yang dibangun oleh yayasan bebas pajak dan para “filantropis” bersemangat seperti keluarga Saban. Kembalinya diskusi tentang “Which Path to Persia?” bukan sekadar ironi sejarah.
Ia adalah bukti nyata bahwa dunia Barat jarang bergerak spontan; dan lembaga-lembaga seperti Smith Richardson Foundation akan terus mendaur ulang narasi dan membungkus intervensi terencana dalam balutan penyelamatan dan altruism.[IT/AR]