0
Tuesday 15 July 2025 - 13:05

Kunjungan Al-Sharaa ke Azerbaijan Isyaratkan Pembentukan Blok Anti-Iran

Story Code : 1220835
Kunjungan Al-Sharaa ke Azerbaijan Isyaratkan Pembentukan Blok Anti-Iran
Dalam pertemuannya dengan para pejabat Azerbaijan, sebuah nota kesepahaman (MoU) di bidang energi ditandatangani, yang menyatakan bahwa Azerbaijan akan mengekspor gas ke Suriah melalui Turki dalam waktu dekat. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan energi Suriah. Media melaporkan bahwa Baku meyakinkan Damaskus bahwa mereka mampu membantu memulihkan sektor energi Suriah.

Menurut Middle East Eye, al-Jolani dalam pertemuannya dengan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev berusaha meyakinkan agar perusahaan minyak nasional Azerbaijan, SOCAR, dapat berpartisipasi dalam proyek-proyek minyak di wilayah timur Suriah.
Sejak berkuasa di Suriah, Al-Sharaa berusaha membentuk citra politik yang lebih moderat. Perubahan pendekatan ini muncul di tengah tekanan regional dan internasional serta kebutuhan akan aliansi strategis. Namun dalam praktiknya, gerakan yang ia pimpin masih mengikuti pola ideologis Hayat Tahrir al-Sham, termasuk dalam perlakuan kekerasan terhadap minoritas dan dominasi penuh atas kekuasaan politik.

Di sisi lain, Azerbaijan dalam beberapa tahun terakhir secara aktif berupaya mengubah situasi geopolitik di wilayah Karabakh dan Asia Tengah melalui perang dan ketidakstabilan. Baku berusaha memperluas pengaruh politik, ekonomi, dan keamanannya dengan memanfaatkan letak geografis strategisnya di persimpangan Asia Barat, Kaukasus, dan Eropa. Ambisi ekspansionis dan proyek koridor Zangezur telah mendorong negara ini membentuk aliansi dengan rezim Israel, yang selama ini berupaya memperluas pengaruhnya di Asia Tengah, termasuk mendekati perbatasan Iran.
Dalam konteks ini, kunjungan Al-Sharaa ke Baku memiliki dimensi yang melampaui hubungan bilateral dan menyentuh langsung kepentingan keamanan Iran.

Kunjungan yang Tak Sekadar Urusan Dua Negara
Meski kunjungan ini secara resmi berfokus pada kerja sama energi dan hubungan bilateral, ada agenda yang jauh lebih luas. Menurut laporan media, kunjungan ini tidak hanya melibatkan pejabat Baku, tetapi juga mencakup pertemuan dengan perwakilan rezim Israel di Azerbaijan.

Pembicaraan rahasia antara pejabat Suriah dan Israel bukanlah hal baru. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah pertemuan telah berlangsung di berbagai negara. Sebelumnya, UEA memainkan peran penting dalam mencairkan hubungan pemerintahan sementara Suriah dengan Tel Aviv. Kini tampaknya peran sensitif ini dilimpahkan kepada Baku, yang memiliki hubungan erat dengan Tel Aviv, hubungan hangat dengan Ankara, dan saluran rahasia dengan beberapa faksi oposisi Suriah—menjadikannya platform ideal untuk pembicaraan semacam ini.

Baku telah menjalin kerja sama erat dengan rezim pendudukan Israel dalam beberapa tahun terakhir. Tel Aviv menjadi salah satu mitra utama Azerbaijan di bidang teknologi, militer, dan energi. Kolaborasi ini terlihat dalam proyek-proyek militer dan ekonomi bersama, termasuk dalam perang Karabakh kedua tahun 2020, di mana Azerbaijan menggunakan drone buatan Israel untuk menyerang sasaran di Armenia.

Menurut berbagai laporan, hubungan strategis dengan Tel Aviv berkembang tidak hanya di bidang militer dan intelijen, tetapi juga dalam konteks budaya dan sosial. Komunitas Yahudi di Azerbaijan, dengan dukungan Tel Aviv, secara bertahap membentuk struktur seperti diaspora dan memainkan peran aktif dalam memperdalam pengaruh Israel. Pembentukan kelompok sosial dan ekonomi ini merupakan bagian dari strategi besar Israel untuk kehadiran permanen di perbatasan utara Iran dan pengaruh dalam dinamika regional.

Saat ini, Azerbaijan tidak hanya menjadi tuan rumah pertemuan rahasia antara pemerintah sementara Suriah dan Israel, tetapi juga mencoba memainkan peran sebagai mediator dalam proses normalisasi hubungan antara kedua pihak. Pengembangan kerja sama dengan Tel Aviv dan hubungan yang membaik dengan oposisi Suriah, bersama pembangunan infrastruktur energi dan transportasi, memberikan keuntungan ekonomi dan keamanan bagi Baku.
Azerbaijan tengah berupaya memperluas pengaruh politik dan ekonominya di kawasan dengan menjadi penghubung antara Damaskus dan Tel Aviv, serta memanfaatkan aliansi ini untuk mendukung agendanya di Karabakh.

Menuju Pembentukan Blok Anti-Iran
Dengan keterlibatan simultan Israel dalam kemitraan strategis dengan Azerbaijan dan kontak informal dengan sejumlah pejabat Suriah, kunjungan Al-Sharaa ke Baku tak bisa dianggap sebagai peristiwa bilateral semata. Menurut pengamat regional, Baku memainkan peran fasilitator dalam rencana yang lebih besar untuk mendefinisikan ulang tatanan keamanan di Kaukasus Selatan dan Asia Barat. Tatanan baru ini berfokus pada pembatasan pengaruh Iran, bahkan kemungkinan mengepung secara geopolitik melalui jalur keamanan, politik, perbatasan, dan sektarian.

Koalisi baru yang sedang terbentuk ini dipimpin oleh Tel Aviv, didukung oleh Baku, dan melibatkan tokoh-tokoh seperti Al-Sharaa. Mereka berupaya mengubah lanskap dan geometri tatanan keamanan-politik kawasan.
Oleh karena itu, kunjungan presiden sementara Suriah ke Baku harus dilihat sebagai bagian dari rangkaian gerakan baru ini—sebuah langkah yang, meski masih bersifat taktis saat ini, bisa menjadi fondasi pembentukan front anti-Iran di kawasan dalam waktu dekat.

Meskipun pejabat Azerbaijan berulang kali menegaskan bahwa mereka tidak akan mengizinkan wilayahnya digunakan untuk mengancam integritas teritorial Iran, dan selalu mencoba menampilkan diri sebagai netral dalam ketegangan antara Tehran dan Barat, bukti di lapangan menunjukkan hal yang sebaliknya. Terutama selama perang 12 hari yang dilancarkan Israel terhadap Iran, beberapa laporan menyebut bahwa drone Israel menggunakan wilayah udara Azerbaijan untuk menyerang wilayah Iran.

Dalam situasi seperti ini, keterbukaan Baku terhadap musuh-musuh regional Iran dan perannya dalam skenario anti-Iran menciptakan jalur berbahaya yang dapat memaksa Iran untuk merespons secara tegas dan strategis.

Di tengah dinamika geopolitik ini, Iran memerlukan strategi komprehensif dan canggih yang memadukan kekuatan keras, kekuatan lunak, kehadiran lapangan yang efektif, dan diplomasi infrastruktur yang terarah.

Semakin dalamnya jejak Tel Aviv di Kaukasus Selatan dan meluasnya pengaruhnya dalam kepemimpinan baru Suriah menjadi tantangan langsung terhadap kepentingan keamanan dan strategi Iran. Saat kekuatan saingan secara aktif membentuk ulang keseimbangan kawasan, ketidakaktifan Tehran bukan hanya berarti kehilangan peluang, tapi juga menyerahkan inisiatif kepada lawan. Sikap pasif seperti ini mengancam posisi Iran sebagai pemain regional yang menentukan di kawasan.[IT/AR]
Comment