0
Tuesday 15 July 2025 - 13:12

Riyadh di Persimpangan Jalan—Antara Iran, AS, dan Kepentingan Nasional

Story Code : 1220836
Riyadh di Persimpangan Jalan—Antara Iran, AS, dan Kepentingan Nasional
Arab Saudi kini berada dalam dilema historis: apakah akan tetap menjadi mitra strategis AS seperti selama ini, ataukah mulai berani mengambil jalur independen yang lebih selaras dengan peta geopolitik baru yang sedang terbentuk di kawasan, terutama pasca normalisasi dengan Iran yang dimediasi oleh China pada 2023.

Pasca kegagalan intervensi agresif di Yaman, Suriah, dan Lebanon, Riyadh berupaya menampilkan wajah baru: stabil, moderat, dan pro-integrasi regional. Namun realitas di lapangan berkata lain. Keterlibatan diam-diam Saudi dalam tekanan terhadap Hizbullah dan pengaruh Iran di Lebanon, ditambah dugaan peran sistem radar Teluk dalam serangan terbaru ke Iran, menunjukkan bahwa “netralitas” Riyadh belum sepenuhnya konsisten.

Ketika para komandan militer Iran menyiratkan bahwa beberapa negara Teluk telah memfasilitasi serangan terhadap negaranya—melalui penyediaan data intelijen atau dukungan logistik udara—semua mata tertuju pada Saudi. Diamnya Riyadh sejauh ini hanya mempertebal kecurigaan.

Bagi sebagian elit Saudi, konflik langsung antara Iran dan AS bisa menjadi peluang emas untuk melemahkan “Poros Perlawanan” yang dipimpin Iran. Namun mereka juga sadar, setiap eskalasi militer akan menyeret Arab Saudi ke pusaran konflik. Serangan balasan seperti yang terjadi terhadap fasilitas Aramco pada 2019 bisa terulang dengan skala lebih luas—mengguncang pasar energi dan menghancurkan iklim investasi yang vital bagi Vision 2030.

Saudi juga berada dalam tekanan baru dari Washington, yang menginginkan peran aktif kerajaan dalam mengisolasi Iran. Tetapi terlalu dekat dengan agenda destruktif AS dan Israel bisa merusak hubungan strategis Saudi dengan China dan Rusia—dua mitra penting dalam BRICS yang kini menjadi jalan alternatif dari hegemoni Barat.

Jika Iran mengkonfirmasi keterlibatan Saudi dalam serangan terhadap wilayahnya, maka segala pencapaian pasca normalisasi—seperti pembukaan kembali kedutaan dan kunjungan diplomatik—dapat runtuh seketika. Iran telah menunjukkan bahwa ia tidak akan ragu membalas; serangan terhadap pangkalan AS di Qatar tahun lalu menjadi preseden.

Kebijakan "kesabaran strategis" Iran ada batasnya. Jika Riyadh tetap ambigu atau menyokong operasi anti-Iran, bukan tidak mungkin Arab Saudi sendiri akan menjadi target dalam skenario eskalasi berikutnya. Dalam hal ini, netralitas pasif justru dapat menciptakan risiko aktif.

Arab Saudi perlu membaca ulang peta strategis kawasan secara realistis. Ketundukan buta pada AS bukan lagi pilihan aman. Justru, penyelamatan kredibilitas regional Saudi ada pada langkah-langkah seperti:
- Menyatakan secara terbuka bahwa Riyadh tidak terlibat dalam serangan terhadap Iran
- Mengambil posisi jelas dalam forum-forum seperti BRICS untuk mengecam aksi militer Israel dan AS
- Memperkuat dialog dengan Iran dan negara-negara Poros Perlawanan guna mencegah konflik terbuka
- Mendorong solusi diplomatik jangka panjang demi stabilitas Teluk.

Arab Saudi berada di ambang keputusan strategis yang akan menentukan posisinya dalam tatanan baru Timur Tengah. Menjadi satelit kebijakan destruktif AS dan Israel hanya akan menjerumuskan kerajaan ke dalam lingkaran konflik yang tidak menguntungkan secara politik maupun ekonomi. Sebaliknya, berani mengambil posisi netral aktif—yang menolak intervensi dan mengedepankan de-eskalasi—adalah satu-satunya jalan bagi Saudi untuk menjadi aktor berpengaruh dan kredibel dalam arsitektur keamanan regional baru.[IT/AR]
Comment