Laporan: Komandan Pertahanan Udara Israel Diganti setelah Serangan Rudal Iran
Story Code : 1221180
The Israeli regime’s PM Benjamin Netanyahu visits the site of the Weizmann Institute of Science, in the central city of Rehovot
“Juru bicara [IOF] mengumumkan bahwa Brigadir Jenderal K. telah mengambil alih posisi komandan jajaran pertahanan udara, menggantikan Brigjen G., yang telah menjabat selama empat tahun terakhir,” lapor Yedioth Ahronoth pada hari Rabu (16/7).
Upacara serah terima jabatan diadakan di Sekolah Pertahanan Udara, di bawah kepemimpinan Panglima Angkatan Udara Mayor Jenderal Tomer Bar.
Pergantian kepemimpinan ini terjadi hanya satu hari setelah Pasukan Pendudukan Israel (IOF) mengumumkan tujuh pengangkatan senior untuk Staf Umumnya.
Pengangkatan tersebut, yang dilakukan oleh Kepala Staf Letnan Jenderal Eyal Zamir dan disetujui oleh Menteri Perang Israel Katz, akan berlaku efektif dalam beberapa bulan mendatang, menurut militer.
Perombakan ini menyusul dampak perang 12 hari AS-Zionis Israel melawan Iran, yang ditandai dengan saling serang rudal yang intens.
Selama agresi tak beralasan oleh rezim tersebut, Iran melancarkan serangan balasan berturut-turut terhadap wilayah-wilayah yang diduduki Zionis Israel.
Serangan tersebut mengakibatkan kerusakan yang meluas, puluhan kematian, dan lebih dari 3.000 orang dilaporkan terluka, merusak infrastruktur militer secara parah, dan memicu evakuasi massal.
The Wall Street Journal melaporkan pada hari Rabu bahwa Iran telah meningkatkan kinerja strategisnya selama perang 12 hari tersebut dengan menyempurnakan teknik peluncuran rudalnya dan mengidentifikasi celah dalam sistem pertahanan udara Zionis Israel melalui uji coba.
Para analis pertahanan rudal yang dikutip dalam laporan tersebut memeriksa puing-puing dan data sumber terbuka, menyimpulkan bahwa Teheran meluncurkan rudal jarak jauh dan lebih canggih dari jangkauan geografis yang lebih luas jauh di dalam wilayah Iran.
Dengan memperbaiki waktu dan penyebaran target, Iran meningkatkan efektivitas serangannya.
"Seiring berlanjutnya perang, Iran menembakkan lebih sedikit rudal, tetapi tingkat keberhasilannya meningkat," catat laporan tersebut, berdasarkan data yang dianalisis oleh lembaga pemikir yang berbasis di Israel dan Washington.[IT/r]