Kepala UNESCO Mengutuk Israel atas Pembunuhan Pekerja Media Iran
Story Code : 1221575
Plumes of black smoke billowing up in the air after the Israeli aggression against Iran's state broadcaster
Pada hari Kamis (17/7), Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay menyerukan penyelidikan menyeluruh dan transparan atas insiden tersebut.
Ia menekankan bahwa infrastruktur media di setiap negara dilindungi oleh hukum humaniter internasional, karena diklasifikasikan sebagai lembaga sipil.
Azoulay merujuk pada Resolusi Dewan Keamanan PBB 2222, yang mengamanatkan perlindungan pekerja media selama konflik bersenjata.
Serangan Israel tersebut merenggut nyawa Nima Rajabpour, pemimpin redaksi saluran berita IRIB, dan Masoumeh Azimi, seorang administrator. Serangan itu juga melukai beberapa personel media lainnya.
Pada 16 Juni, rezim Israel melakukan tindakan agresi dengan menargetkan sebuah gedung milik Lembaga Penyiaran Republik Islam Iran (IRIB) di Tehran.
Serangan tersebut melibatkan setidaknya empat bom, yang menghantam fasilitas utama yang menampung departemen berita IRIB saat siaran langsung sedang berlangsung. Siaran langsung sempat terhenti sebelum Hassan Abedini, direktur berita dan deputi urusan politik IRIB, mengudara untuk mengutuk serangan tersebut.[IT/r]
Pada saat pemboman terjadi, pembawa berita Sahar Emami sedang menyampaikan berita. Meskipun getaran akibat serangan awal, ia tetap mengudara dan melanjutkan siaran. Beberapa saat kemudian, ledakan lain memenuhi studio dengan asap dan debu, memaksanya untuk mengungsi. Ia kembali tak lama kemudian untuk bergabung dengan Abedini dan menceritakan pengalaman mengerikannya.
Eskalasi ini menyusul agresi Israel sebelumnya pada 13 Juni, di mana serangkaian serangan mengakibatkan gugurnya banyak komandan militer berpangkat tinggi, ilmuwan nuklir, dan warga sipil di Iran.
Seminggu kemudian, Amerika Serikat meningkatkan eskalasi konflik dengan mengebom tiga lokasi nuklir Iran, melanggar Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa, hukum internasional, dan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT).
Sebagai balasan, Angkatan Bersenjata Iran menargetkan lokasi-lokasi strategis di wilayah pendudukan serta pangkalan udara al-Udeid di Qatar, pangkalan militer Amerika terbesar di Asia Barat.
Pada 24 Juni, Iran, melalui operasi balasannya yang sukses terhadap rezim Israel dan AS, berhasil menghentikan serangan ilegal tersebut.[IT/r]