Pernyataan Garda Revolusi Islam (IRGC) Menyebut Solusi Dua Negara sebagai Rencana Jahat
Story Code : 1224698
The Islamic Revolutionary Guards Corps (IRGC)
Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada hari Sabtu (2/8), Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa eskalasi kejahatan rezim Zionis dalam mencegah rakyat Gaza yang tertindas mengakses sumber daya dasar seperti air, makanan, dan obat-obatan merupakan pelanggaran nyata terhadap hak asasi manusia dan hukum internasional, serta kejahatan terhadap kemanusiaan.
Kejahatan besar dan tidak manusiawi ini, yang meskipun dibungkam dan didukung oleh beberapa negara Barat yang mengaku sebagai pembela hak asasi manusia, telah menyebabkan meluasnya protes global terhadap tindakan rezim Zionis, tambah pernyataan tersebut.
Mengecam tindakan kriminal rezim Zionis atas pembunuhan mantan Ketua Politbiro Hamas, Ismail Haniyeh, di Tehran.
Haniyeh merupakan tamu parlemen Iran dan aparat diplomatik negara tersebut untuk menghadiri upacara pelantikan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Pernyataan tersebut mempertimbangkan potensi perlawanan sebagai penjamin kemenangan Gaza dan rakyat Palestina, kekalahan rezim Zionis palsu dan pembunuh anak-anak, serta penghinaan bagi para pendukungnya.
Pernyataan tersebut selanjutnya menyatakan bahwa "Berbeda dengan imajinasi musuh Zionis yang keji dan keji serta para pendukungnya yang jahat, Operasi 'Penyerbuan Al-Aqsa' bukan sekadar peristiwa sejarah dan mukjizat pada titik tertentu dalam sejarah perlawanan.
Sebaliknya, dengan jaminan darah suci para martir di jalan menuju pembebasan Al-Quds, khususnya Ismail Haniyeh dan Yahya Sinwar, operasi ini merupakan sekolah dan strategi operasional untuk menentukan nasib medan perang ini."
IRGC juga mengingatkan penolakan mantan Kepala Politbiro Hamas Ismail Haniyeh terhadap solusi dua negara sebagai rencana jahat, dan menyatakan bahwa umat Islam tidak boleh mengakui rezim Zionis.[IT/r]