Opini: Dunia Melihat Gaza Kelaparan, Tapi Memilih Berkedip
Story Code : 1225310
Seorang anak GAza yang malnutrisi berat.
Sayangnya, yang tidak masuk dalam bingkai kamera adalah 1.054 warga sipil yang tewas saat mencoba mendapatkan bantuan di tempat yang sama. Tampaknya, di mata dunia yang terkoordinasi dengan baik oleh lensa media Barat, roti dan air kini disalurkan lewat peluru dan drone.
Sejak diumumkannya "koridor kemanusiaan" oleh Israel pada 26 Juli lalu, jumlah korban melonjak lebih dari dua kali lipat. Tapi dunia tetap tenang, karena “setidaknya bantuan sudah dijatuhkan dari udara.” Airdrop dari negara-negara Arab juga digambarkan sebagai “langkah besar untuk kemanusiaan”—meskipun banyak paket jatuh ke laut atau daerah berbahaya. Tapi hei, niat baik tetap bisa dijual di konferensi internasional, bukan?
Gaza Humiliation Front: Garis Depan “Kemanusiaan”
GHF—singkatan dari Gaza Humanitarian Foundation—didirikan dengan penuh semangat oleh pihak-pihak yang sebelumnya mendanai blokade dan sekarang ingin disebut “penyelamat.” Nama lembaga ini mungkin terdengar mulia, tetapi di lapangan, penduduk Gaza justru menyebutnya Gaza Humiliation Front. Tempat distribusi makanan tak lebih dari panggung penghinaan massal, di mana orang-orang harus mempertaruhkan nyawa demi sekantong tepung.
Donald Trump, dalam gaya khasnya, membanggakan sumbangan USD 60 juta ke GHF—“investasi” yang nyatanya lebih cocok disebut uang darah. Dana ini telah membiayai infrastruktur yang memastikan bantuan tidak sampai ke tangan yang membutuhkan, atau kalaupun sampai, dikawal oleh sniper.
“Tidak Ada Kelaparan”... Asalkan Anda Menutup Mata
Steve Witkoff, utusan khusus AS, dengan lantang menyatakan bahwa “tidak ada kelaparan di Gaza” usai kunjungannya ke pusat distribusi yang—tentu saja—dipilih dengan sangat hati-hati. Ia menolak mengunjungi rumah sakit atau kamp pengungsian, dan malah memilih lokasi yang aman untuk berfoto dan menyampaikan kesimpulan yang sudah ditulis sebelum ia mendarat.
Pernyataan tersebut adalah contoh sempurna dari confirmation bias—mencari hanya yang ingin dilihat dan mengabaikan sisanya. Ironisnya, kebenaran ada beberapa kilometer dari tempatnya berdiri: anak-anak yang hanya bisa menggigit tangan kurus mereka sendiri, bayi yang meninggal karena dehidrasi, dan ibu-ibu yang menguburkan anak-anak mereka dengan tangan kosong.
Blokade Bukan Kesalahan Sistem Distribusi
Media Barat terus memainkan narasi klasik: bahwa bantuan tidak sampai karena sistem distribusi yang “buruk.” Mereka gagal menyebutkan satu fakta krusial: bantuan hanya tidak bisa masuk karena Israel mencegahnya. Tanpa blokade, PBB dulu mengelola lebih dari 400 titik distribusi makanan. Kini, dengan “bantuan” dari GHF, hanya empat yang dibuka. Bukan karena tidak ada makanan, tapi karena tidak diizinkan masuk.
Namun media ini—yang selalu dengan sigap mengkritik pemimpin dunia lain seperti Trump atau Xi Jinping—tiba-tiba menjadi sangat sabar dan lunak saat menghadapi kebohongan dari Tel Aviv.
Kapan Dunia Akan Berkata Cukup?
Tampaknya, satu-satunya waktu dunia bersatu dalam empati adalah ketika seorang tawanan Israel terekam terlihat kurus. Seolah satu tubuh kurus lebih bernilai dari dua juta lainnya. Tetapi foto-foto bayi Palestina yang tinggal tulang dan kulit, anak-anak yang tubuhnya buncit karena kelaparan, atau keluarga yang ditembaki saat mengambil bantuan—semua itu hanya jadi statistik tak bernyawa bagi para pemimpin dunia.
Namun, angin mulai berubah. Survei Gallup terbaru menunjukkan bahwa hanya 32% warga Amerika yang masih mendukung serangan Israel ke Gaza, sementara 60% menyatakan ketidaksetujuannya. Bahkan negara-negara Eropa seperti Prancis dan Inggris telah menyatakan niat untuk mengakui negara Palestina—sebuah langkah kecil, tapi mencerminkan meningkatnya kelelahan terhadap kebohongan yang terus-menerus.
Akhirnya, yang jadi pertanyaan bukan lagi “apakah ada kelaparan di Gaza?”—melainkan “berapa banyak lagi kebohongan yang bisa dicerna publik sebelum mereka muntah?”
Anak-anak sekarat bukan karena kekurangan makanan, tapi karena terlalu banyak kebohongan. Genosida bukan terjadi dalam sunyi, tapi di tengah siaran langsung, dengan narasi yang sudah dibentuk sebelumnya.
Dan selama para pemimpin dunia masih lebih sibuk membela ego politik dan sekutu militernya daripada menyelamatkan nyawa, Gaza akan tetap menjadi neraka terbuka—dan sejarah akan mencatat siapa yang melihat dan tetap memilih berkedip.[IT/AR]