0
Friday 8 August 2025 - 13:46

India Harus Mencontoh Iran: Saatnya Berhenti Jadi Boneka dalam Drama Geopolitik AS

Story Code : 1225720
India Harus Mencontoh Iran: Saatnya Berhenti Jadi Boneka dalam Drama Geopolitik AS
Dalam wawancara eksklusif dengan Press TV, Naqvi tak segan menyebut langkah diplomatik India terhadap Amerika Serikat sebagai "salah perhitungan besar," dan menyindir keras kecenderungan New Delhi untuk menjadi “proksi Amerika” sambil tetap berharap diperlakukan setara.

“Lihatlah Iran. Mereka tidak peduli sama sekali. Mereka menolak tunduk, tetap berdikari. Tapi di sini, di New Delhi, kami menyerah sepenuhnya, bahkan dengan cara-cara intelektual yang paling halus,” ujar Naqvi, tajam.

Baru-baru ini, Presiden AS Donald Trump mengenakan tarif 25 persen atas produk India, dengan dalih bahwa India masih membeli minyak dari Rusia dan mempertahankan tarif tinggi atas barang-barang AS. Langkah ini—yang oleh banyak pengamat disebut sebagai bentuk “pemaksaan ekonomi”—mengejutkan India, yang selama bertahun-tahun menampilkan diri sebagai mitra strategis utama AS di kawasan Indo-Pasifik.

Namun alih-alih mendapat perlakuan istimewa, India justru dijatuhi hukuman. Tarif ini, menurut Naqvi, bukan hanya sekadar sanksi dagang, tetapi peringatan keras bagi siapa pun yang mencoba berpijak di dua perahu geopolitik.

“Ini adalah cara AS menjaga agar India tidak terlalu dekat dengan BRICS,” ujarnya. “Sebuah pembalasan ekonomi untuk memastikan dunia tetap unipolar, tetap di bawah kendali Washington.”

Naqvi juga mengkritik tajam orientasi Barat yang mengakar dalam kalangan elit India, terutama di ranah kebijakan luar negeri. Menurutnya, sejak runtuhnya Uni Soviet, India perlahan-lahan meninggalkan warisan non-blok dan menyesuaikan diri ke orbit AS.

“Menteri luar negeri kita tampaknya percaya bahwa AS adalah awal dan akhir dari segala sesuatu. Ia pikir duduk bersama Barat akan membawa keuntungan besar—padahal yang terjadi justru pengkhianatan dalam bentuk tarif dan tekanan,” sesalnya.

Naqvi menambahkan bahwa media India juga turut berperan dalam kemandegan intelektual ini, karena tidak memahami dinamika urusan luar negeri secara kritis, dan terlalu sibuk mengekor narasi Barat.

Menggunakan perumpamaan yang tajam, Naqvi menyatakan bahwa India saat ini hanya terlihat seperti “monyet di antara dua kucing”—mencoba menyeimbangkan antara AS dan Rusia, tanpa benar-benar tahu ke mana arah kebijakan strategisnya.

Ia memperingatkan bahwa otonomi strategis bukanlah slogan, tapi harus dibuktikan dengan tindakan nyata, termasuk dalam menghadapi tekanan dari sekutu yang berubah menjadi penekan.
“Anda tidak bisa mengklaim otonomi strategis jika tidak mampu melindungi harga diri negara Anda sendiri.”

Jalan Keluar: Kalibrasi Ulang, Jangan Tunduk Lagi
Naqvi menyerukan kalibrasi ulang besar-besaran dalam pendekatan diplomatik India. Ketergantungan pada Barat, menurutnya, hanya akan membawa kekecewaan demi kekecewaan.
“Jika India tidak siap melepas ketergantungan pada AS, maka jangan kaget bila terus dijadikan alat dalam permainan besar geopolitik mereka.”

Dengan banyak negara kini berbondong-bondong menuju BRICS dan G7 makin kehilangan daya tariknya, Naqvi menegaskan bahwa India harus memilih jalannya sendiri: apakah tetap menjadi pion dalam papan catur Washington, atau berdiri sebagai kekuatan independen seperti Iran—tegas, konsisten, dan tak mudah digertak.[IT/AR]
Comment