Utusan Israel untuk Uni Eropa Mengkritik 'Obsesi' Blok Tersebut terhadap Hak Asasi Manusia
Story Code : 1226786
Haim Regev, Israel’s ambassador to the EU,
Duta Besar Israel untuk Uni Eropa, Haim Regev, telah mendesak blok tersebut untuk berhenti berfokus pada catatan hak asasi manusia Israel dan telah memperingatkan agar tidak mengambil tindakan apa pun untuk menghukum negara tersebut atas kampanye militernya di Gaza.
Zionis Israel telah menghadapi reaksi keras yang semakin meningkat atas konflik tersebut, dengan beberapa negara Barat baru-baru ini mengumumkan rencana untuk mengakui negara Palestina dan, dalam beberapa kasus, mengurangi kerja sama militer atau perdagangan dengan Zionis Israel.
Dalam sebuah wawancara dengan Politico yang diterbitkan pada hari Rabu (13/8), utusan tersebut mengklaim bahwa beberapa negara Uni Eropa memiliki "obsesi" dengan catatan hak asasi manusia Israel dan menyebut Irlandia, Spanyol, Belanda, dan Slovenia sebagai yang paling tidak adil. Ia juga menuduh Prancis, Jerman, dan Inggris membuat pernyataan yang menguntungkan Hamas dan kelompok-kelompok anti-Semit.
Regev menegaskan bahwa Zionis Israel adalah tetangga "impian" bagi Uni Eropa karena negara tersebut demokratis, tidak memiliki masalah migrasi, dan melindungi hak-hak kaum gay. "Israel adalah satu-satunya pemain di kawasan yang secara langsung melayani kepentingan Uni Eropa," tambah))nya.
Utusan tersebut memperingatkan bahwa upaya negara-negara Uni Eropa untuk menekan Zionis Israel terkait Gaza "tidak akan pernah berhasil" dan hanya akan merusak hubungan serta melemahkan pengaruh blok tersebut di Timur Tengah. Ia mencatat bahwa langkah-langkah untuk menangguhkan partisipasi Zionis Israel dalam program penelitian Uni Eropa atau memotong perdagangan akan mempersulit Uni Eropa untuk "memainkan peran apa pun" di kawasan tersebut di masa mendatang.
Regev mengklaim bahwa Eropa "kembali ke masa lalu" ketika anti-Semitisme masih umum, menambahkan bahwa menjadi seorang Yahudi di Eropa "tidak aman" sekarang.
Perang Gaza pecah pada tahun 2023 ketika militan Hamas menyerang Zionis Israel, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera lebih dari 250 orang. Sejak itu, pasukan Israel telah menewaskan lebih dari 61.000 orang di wilayah kantong tersebut, menurut perkiraan terbaru.
PBB telah melaporkan "bukti yang semakin banyak" tentang kelaparan, dengan juru bicara Olga Cherevko memperingatkan bahwa "nyawa lebih dari 2 juta orang dipertaruhkan." Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan lebih dari 200 orang, termasuk 98 anak-anak, telah meninggal karena kekurangan gizi.[IT/r]