0
Saturday 6 September 2025 - 02:39
SCO di China:

Hari Ketika Dunia Berbalik ke Timur

Story Code : 1231435
The Day the World Turned East
The Day the World Turned East
Ini bukan sekadar unjuk kekuatan, tetapi juga momen penuh simbolisme mendalam. Saat sebagian besar dunia masih sibuk dengan drama lama dari tatanan unipolar yang memudar, sebuah peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya berlangsung di Beijing. Puluhan pemimpin dunia—dari Rusia dan Korea Utara hingga negara-negara Asia, Afrika, dan Eropa—berkumpul untuk menyaksikan parade militer terbesar yang pernah digelar oleh China, dalam rangka memperingati berakhirnya Perang Dunia II.
 
Ini lebih dari sekadar peringatan sejarah. Ini adalah momen yang diatur secara cermat untuk menunjukkan pengaruh diplomatik yang kian meluas dan kekuatan militer China yang kian matang. Dunia menyaksikan China memamerkan beragam perangkat militer canggih—mulai dari rudal hipersonik anti-kapal, drone, tank berbasis AI, kendaraan bawah laut otonom, hingga kekuatan nuklir lengkap. Jelaslah bahwa pergeseran mendasar dalam keseimbangan kekuatan global sedang terjadi. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah China sedang bangkit, tetapi apa makna kebangkitannya bagi dunia—dan khususnya bagi Amerika Serikat. 
 
Era Baru Kompetisi Kekuatan Besar
Selama beberapa dekade, Amerika Serikat telah berperan sebagai satu-satunya negara adidaya dunia, memimpin sistem global yang dibangun atas kekuatan ekonomi, militer, dan diplomatiknya. Namun, parade militer yang digelar di Beijing baru-baru ini menyampaikan pesan yang lantang dan jelas: era itu telah berakhir.
 
Meski banyak yang mempertanyakan apakah kita sedang memasuki Perang Dingin baru, momen ini bukanlah cerminan dari rivalitas AS–Uni Soviet di masa lalu. Ekonomi global saat ini saling terhubung secara mendalam, berbeda dari sistem tertutup dan terpisah pada era Perang Dingin klasik. Ini bukan pertarungan ideologis nol-sum, melainkan perebutan pengaruh dalam ranah hati, pikiran, dan rantai pasok global.
 
Momen ini lebih tepat digambarkan sebagai "multipolaritas konstruktif"—dunia di mana kekuatan strategis tersebar di antara berbagai blok kekuatan, bukan didominasi oleh satu poros yang dipimpin Barat. Negara-negara berpengaruh seperti India, meski absen dalam parade, tetap memainkan peran sebagai penyeimbang antara China, Barat, dan Rusia.
 
Unjuk kekuatan China juga merupakan pesan pencegahan langsung kepada Washington. Rudal anti-kapal generasi terbaru dirancang untuk menghalau kekuatan laut AS, khususnya jika terjadi konflik terkait Taiwan. Para ahli menyebut kemampuan ini dimaksudkan untuk membuat AS berpikir dua kali sebelum melakukan intervensi militer. Pergeseran postur militer ini mencerminkan fokus utama China, seperti dijelaskan oleh analis di Lowy Institute: mencapai dominasi di kawasan regional, bukan membangun kekuatan ekspedisi global seperti AS. 
 
Kebangkitan Ekonomi yang Penuh Kesabaran
Hal yang paling mencolok adalah bagaimana China merancang kebangkitannya dengan sangat hati-hati. Berbeda dengan Uni Soviet yang bergantung pada kekuatan militer dan ekonomi komando yang rapuh, kebangkitan China bersifat bertahap dan terintegrasi secara mendalam dengan sistem global. Selama bertahun-tahun, China berperan sebagai “bengkel dunia”, pilar penting dalam rantai pasok global yang dipimpin AS. Fondasi ekonomilah—bukan ideologi—yang menjadi mesin pengaruh utama Beijing.
 
Selain itu, China menghindari konfrontasi ideologis langsung, dan mengembangkan pengaruh melalui diplomasi dan hubungan ekonomi. Melalui inisiatif seperti Belt and Road Initiative (BRI), China membangun jaringan proyek infrastruktur dan jalur perdagangan di Asia, Afrika, dan Eropa. Strategi geo-ekonomi ini bertujuan menciptakan keterhubungan dan menempatkan Beijing sebagai pusat dari tatanan dunia yang baru. Ditambah dengan kepemimpinan dalam teknologi 5G dan kecerdasan buatan, China menawarkan alternatif nyata terhadap model pembangunan ala Barat. 
 
Dampak Trump dan Perpecahan di Barat
Meskipun strategi jangka panjang China sudah lama disusun, namun ia menemukan pendorong besar dalam kebijakan “America First” selama masa pemerintahan Donald Trump. Meskipun Trump tidak mengatur parade tersebut, gaya dan retorikanya memberikan makna simbolis. Penekanannya pada hubungan pribadi dengan Xi Jinping—meski ia juga menyayangkan ketidakhadiran AS dalam narasi besar China—menyoroti pendekatan yang transaksional, berbeda dengan diplomasi berbasis aliansi.
 
Saat Washington menarik diri dari berbagai perjanjian dan memperlemah aliansi tradisional, China mengisi kekosongan itu. Para analis dari Council on Foreign Relations mencatat bahwa ketidakpastian AS telah mengasingkan banyak negara, memberi ruang bagi Beijing untuk menguatkan pengaruhnya. Parade tersebut mempertegas jurang ini: para pemimpin Barat absen, sementara Vladimir Putin dan Kim Jong Un berdiri di sisi Xi Jinping. Bagi banyak pihak, gambar ini menangkap realitas pergeseran poros kekuatan global. 
 
Momen Kritis, Bukan Perang yang Tak Terelakkan
Parade kemenangan China adalah unjuk pamer dan pernyataan strategis: kematangan militer, kekuatan ekonomi, dan tekad politik berpadu dalam satu momen. Ini menandakan bahwa China tak lagi gentar akan intimidasi dan siap memimpin—baik dalam ranah militer maupun ekonomi.
 
Apakah ini merupakan Perang Dingin baru bukanlah pertanyaan utama. Yang lebih penting adalah pengakuan bahwa era baru kompetisi antar-kekuatan besar telah tiba. Apa yang terjadi selanjutnya akan ditentukan oleh respons Amerika Serikat. Apakah AS akan membangun kembali aliansinya, memodernisasi strategi pencegahan, dan mendiversifikasi hubungan ekonominya—atau justru mundur ke dalam isolasionisme, membiarkan tatanan multipolar baru mengeras dengan minimnya pengaruh Barat?
 
Jalur yang dipilih akan menentukan babak berikutnya dalam sejarah global.[IT/r]
 
 
Comment