Sheikh Qassem dari Hezbollah: AS Hendak Serahkan Lebanon pada ‘Israel’
Story Code : 1232560
A Lebanese man waves a Hezbollah flag during a protest against Tom Barrack, US envoy to the Middle East
Dalam pidatonya memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, Sheikh Naim Qassem menegaskan bahwa “sejak berdirinya Lebanon modern, Zionis Israel telah memiliki ambisi serakah untuk menguasai negeri ini dan kota-kotanya.”
“Bentuk patriotisme tertinggi adalah membela Lebanon,” tegasnya.
Sheikh Qassem menekankan bahwa Perlawanan telah membayar harga yang sangat mahal untuk mempertahankan Lebanon, dengan pengorbanan terbesar termasuk gugurnya Sayyid Hassan Nasrallah dan Sayyed Hashim Safieddin.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa Perlawanan telah memainkan peran penting dalam membentuk penghalang yang tidak dapat ditembus terhadap ambisi “Zionis Israel” dan mencegahnya meraih tujuan. Ia juga menegaskan kontribusi Perlawanan dalam menciptakan stabilitas di Lebanon dan membuka era baru, termasuk memfasilitasi terpilihnya Presiden Aoun serta menghadapi musuh.
Sheikh Qassem menegaskan bahwa “kehancuran di Lebanon disebabkan oleh korupsi dan kegagalan dalam menerapkan Perjanjian Taif,” seraya menambahkan bahwa “agresi Zionis Israel mendorong keadaan semakin menuju keruntuhan.”
Ia menyoroti bahwa tujuan perjanjian gencatan senjata November adalah menghentikan agresi dan mendorong negara mengambil tanggung jawab untuk mengusir penjajah; namun, hingga kini, tidak ada satu pun dari tujuan tersebut yang tercapai.
Sesi Pemerintah Tak Sah
Menanggapi sidang pemerintah Lebanon pada 5 dan 7 Agustus yang membahas rencana Angkatan Darat Lebanon untuk menegakkan eksklusivitas senjata di tangan negara, Sheikh Qassem menyebut bahwa sidang itu tidak sah.
Ia menegaskan bahwa dialog tidak bisa dilakukan di luar kerangka strategi pertahanan nasional, yang merupakan satu-satunya jalan menuju solusi.
Dalam konteks ini, Sheikh Qassem menegaskan bahwa pembangunan Lebanon bertumpu pada tiga pilar: pertama, mencapai kedaulatan dengan mengusir “Zionis Israel” dan menolak dominasi Arab-Amerika; kedua, menata ulang kerja negara dan memulai rekonstruksi; dan ketiga, memerangi korupsi.
Ia menggambarkan kondisi Lebanon dengan mengatakan bahwa “ada masalah internal yang diwujudkan oleh pihak-pihak yang ingin menyerahkan senjata, dan ada masalah eksternal berupa agresi Israel yang berkelanjutan.”
Sheikh Qassem menuding sejumlah aktor domestik bekerja sesuai agenda ZionisIsrael, dan menyerukan agar mereka “bertindak sebagai mitra dalam negeri, bukan sebagai penyedia dalih bagi musuh.”
Ia juga menasihati pihak-pihak domestik untuk menunggu hingga masalah eksternal terselesaikan sebelum beralih ke diskusi mengenai strategi keamanan nasional.
Dalam hal ini, ia menegaskan bahwa mencari kekuasaan melalui “Israel” tidak akan membawa manfaat, dan menyeru seluruh rakyat Lebanon, baik Muslim maupun Kristen, untuk bersama-sama membangun bangsa.
AS Siap Serahkan Lebanon kepada ‘Zionis Israel’
Sheikh Qassem mempertanyakan mengapa pemerintah ingin melepaskan sumber kekuatan utama Lebanon sementara tidak memiliki alternatif untuk pertahanan nasional.
“Pada saat yang sama, Amerika Serikat lebih dari bersedia menyerahkan Lebanon sepenuhnya kepada Israel,” ia memperingatkan.
“Baik Amerika Serikat maupun musuh memiliki tujuan yang sama, yakni melucuti kekuatan Lebanon sehingga menjadi mangsa empuk bagi proyek ekspansionis besar Israel,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa AS telah mundur dari komitmennya terhadap Lebanon, dan kini prioritasnya adalah melucuti senjata Hezbollah sebelum musuh melakukan langkah apa pun.
Ia juga menegaskan bahwa Barat tidak peduli pada Lebanon, melainkan hanya pada “Israel,” sambil menekankan: “Bagi kami, Lebanon adalah tanah kami, masa depan kami, dan masa depan generasi kami.”
“Kami tidak akan menyerah pada tekanan, betapapun beratnya, dan kami tidak akan pernah tunduk,” tegasnya.
Agresi terhadap Qatar Bagian dari Proyek ‘Zionis Israel Raya’
Menanggapi agresi terhadap Qatar, Sheikh Qassem menyatakan bahwa itu adalah “agresi murni Amerika-Zionis Israel, yang dilakukan dengan lampu hijau dari AS.” Ia menambahkan: “Kami berdiri bersama Qatar dalam menghadapi agresi ini, yang bukan insiden terpisah melainkan bagian integral dari proyek ‘Zionis Israel Raya.’”
Sheikh Qassem mempertanyakan mengapa negara-negara Arab tidak mendukung Perlawanan, padahal satu-satunya hal yang menunda langkah tegas proyek ‘Zionis Israel Raya’ adalah keberadaan Perlawanan yang terus bertahan.
Ia langsung menyapa bangsa-bangsa Arab dengan bertanya apa yang bisa mereka lakukan jika Perlawanan dihabisi.
Dalam konteks ini, ia menegaskan bahwa “mereka yang tidak ingin mendukung Perlawanan setidaknya jangan menyerangnya atau memberi tekanan, karena tidak ada satu pun yang mampu menghadapi Israel selain Perlawanan.”
Sheikh Qassem menambahkan, “Persatuan yang berlandaskan kebenaran akan membawa persatuan nasional di seluruh negeri kita.”
Perlawanan Tetap Teguh
Sheikh Naim Qassem menyampaikan salam khusus kepada “Yaman yang agung dan berani,” yang ia sebut sedang memikul beban besar demi menegakkan persatuan dan berdiri kokoh mendukung perjuangan Palestina. Ia menegaskan bahwa mendukung Palestina adalah bentuk tertinggi persatuan Islam.
Sheikh Qassem menegaskan bahwa isu Palestina tetap menjadi persoalan sentral yang paling dalam mencerminkan persatuan umat Islam, sambil mengingatkan pada sikap tegasnya selama ini dalam berkorban dan berdiri bersama rakyat Palestina di setiap tahap.
Di tengah agresi yang sedang berlangsung, ia menyeru untuk “berdiri bersama rakyat kami di Gaza dan Tepi Barat dalam menghadapi agresi kriminal Amerika-Israel,” seraya menegaskan bahwa “rakyat Palestina tetap teguh, dan Perlawanan tetap bertahan meskipun ada segala tantangan dan kesulitan.”
Menutup pidatonya, Sheikh Naim Qassem menyinggung operasi “Ramot” dekat Al-Quds sebagai contoh keberanian dan keteguhan rakyat Palestina, menegaskan bahwa rakyat Palestina memegang kendali atas kehidupan dan perlawanan mereka sendiri, betapapun dahsyat konspirasi yang menimpa mereka.[IT/r]