0
Friday 12 September 2025 - 17:08
Yaman dan Dunia Arab:

Houthi Kecam Negara-negara Arab atas Respons Lemahnya terhadap Serangan Israel di Qatar

Story Code : 1232897
Leader of Yemen’s Ansarullah resistance movement Abdul-Malik al-Houthi in the Yemeni capital, Sana’a
Leader of Yemen’s Ansarullah resistance movement Abdul-Malik al-Houthi in the Yemeni capital, Sana’a
Ia menyatakan bahwa ketidakpedulian mereka—termasuk kegagalan mereka untuk memutuskan hubungan diplomatik—melanggar martabat seluruh kawasan.
 
Berbicara dalam pidato yang disiarkan televisi pada hari Kamis (11/9), Abdul-Malik al-Houthi menyatakan penyesalannya atas posisi negara-negara Arab yang membatasi diri untuk mengeluarkan pernyataan sebagai tanggapan atas agresi rezim Zionis Israel terhadap Qatar.
 
Pada hari Selasa (9/9), pesawat tempur Zionis Israel melancarkan serangan udara ke markas besar gerakan perlawanan Hamas di ibu kota Qatar, Doha, dalam apa yang digambarkan oleh media Zionis Israel sebagai "operasi pembunuhan."
 
Serangan udara tersebut terjadi ketika para pemimpin Hamas dilaporkan bertemu untuk membahas proposal terbaru AS untuk gencatan senjata di Gaza. Houthi mencatat bahwa menargetkan Qatar merupakan agresi terhadap negara "yang memiliki kedaulatan, status regional, dan partisipasi aktif dengan berbagai negara, termasuk dalam negosiasi terkait Gaza."
"Tindakan ini juga dianggap sebagai agresi terhadap semua negara di Teluk Persia," tambahnya.
 
Menurut Houthi, agresi Israel terhadap Qatar merupakan dua kejahatan: pertama, penargetan tim negosiasi Palestina, dan kedua, serangan terhadap kedaulatan Qatar.
 
Ia menyatakan tujuan dari tindakan-tindakan ini adalah untuk "memperluas persamaan agresi" terhadap negara-negara di kawasan.
 
Ia menggarisbawahi bahwa Zionis Israel melakukan kejahatan tersebut dengan kepastian mutlak akan dukungan AS, yang sangat diandalkannya. Zionis Israel sedang berusaha menyelesaikan proses membangun "dominasi penuh atas seluruh Palestina dan kemudian memperluas wilayahnya melampaui batas-batasnya," ujarnya, merujuk pada rencana rezim tersebut untuk mengambil alih Kota Gaza.
 
Ia menambahkan bahwa Tel Aviv sedang melakukan kegiatan-kegiatan destruktif di negara-negara tetangga, termasuk Lebanon dan Suriah, dan sedang mengejar konspirasi melawan Yordania, Mesir, dan Irak.
 
Sementara itu, AS memandang penghancuran negara-negara di kawasan dan memfasilitasi proyek "Zionis Israel Raya" sebagai "misi suci dan sangat penting", kata Houthi. "Bahaya serius dari pihak tertentu dengan sejarah yang diketahui dan tujuan yang jelas membahayakan Umat Islam," ujarnya.
 
Ia memperingatkan bahwa mengabaikan bahaya ini merupakan tanda "kekeliruan dan sikap yang lemah," dan mendesak Umat Islam untuk secara cermat dan penuh pertimbangan memeriksa "motif tersembunyi di balik posisi Amerika dalam isu-isu regional, khususnya terkait Palestina."
 
Houthi mengidentifikasi ketiadaan langkah-langkah praktis dari pemerintah Arab dan Islam sebagai sumber perilaku intimidasi Israel, dengan menyatakan bahwa kekosongan ini telah memungkinkan para penjajah menjadi semakin arogan.
 
"Bangsa kami telah mengibarkan bendera jihad untuk mendukung rakyat Palestina sementara banyak pihak telah menjadi lemah dan mundur dalam menghadapi penindasan ini," tegasnya.
 
Sejak Zionis Israel melancarkan perang genosida di Gaza pada Oktober 2023, pasukan Yaman telah melakukan berbagai serangan sebagai bentuk solidaritas dengan Palestina, yang menargetkan bandara, pelabuhan, dan lokasi lain di seluruh wilayah pendudukan.
 
Yaman telah berulang kali bersumpah bahwa serangan-serangan ini akan terus berlanjut selama perang dan blokade Israel di jalur yang terkepung tersebut masih berlanjut.
 
Di bagian lain pernyataannya, Houthi menyatakan bahwa melabeli AS sebagai "pendukung perdamaian" adalah kejahatan dan dosa besar, dengan alasan bahwa "sebutan ini sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan dan peran Washington dalam mendukung agresi Israel."[IT/r]
 
Comment