Kelaparan, Pembantaian, dan Serangan Tanpa Henti Menjadikan Gaza ‘Tanah Tandus’
Story Code : 1233497
Palestinians inspect the rubble of a residential building after an Israeli military strike in Gaza City
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengumumkan dalam laporan harian pada Minggu (14/9) bahwa rumah sakit menerima jenazah 68 syuhada dan 346 korban luka hanya dalam waktu 24 jam. Banyak korban masih terjebak di bawah reruntuhan dan di jalanan, sulit dijangkau akibat terus berlanjutnya pengeboman.
Sejak 7 Oktober 2023 hingga 14 September 2025, jumlah korban tewas akibat genosida Israel di Gaza telah melonjak menjadi 64.871 jiwa, dengan 164.610 lainnya terluka.
Sejak 18 Maret 2025, total korban bertambah menjadi 12.321 terbunuh dan 51.569 terluka.
Selain itu, ketika kelaparan buatan Israel melanda Gaza, 10 warga Palestina meninggal karena kelaparan dan lebih dari 18 lainnya terluka sejak pagi hari saat mencoba menerima bantuan di “titik distribusi bantuan” yang ditunjuk, sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit.
Jumlah total warga Palestina yang terbunuh saat mencari bantuan pangan di zona distribusi kini mencapai 2.494 jiwa, dengan lebih dari 18.135 lainnya terluka.
Laporan tersebut juga menambahkan bahwa jumlah korban meninggal akibat kelaparan dan malnutrisi di Jalur Gaza yang terkepung telah meningkat menjadi sedikitnya 422 jiwa, termasuk 145 anak-anak.
Genosida Zionis Israel berlanjut
Setidaknya 48 warga Palestina tewas pada Minggu (14/9) akibat pengeboman Zionis Israel yang tiada henti di seluruh Jalur Gaza, termasuk 23 di Kota Gaza, menjadikannya salah satu eskalasi paling mematikan sejak genosida Israel dimulai pada 7 Oktober 2023.
Koresponden Al Mayadeen melaporkan bahwa sejak pagi, sedikitnya 12 serangan menargetkan gedung perumahan, tempat penampungan, dan menara tinggi di bagian barat Kota Gaza.
Di Gaza bagian selatan, jet tempur Israel mengebom Menara Al-Kawthar, gedung pencakar langit tertua di lingkungan Tal al-Hawa, dengan lima rudal, meratakannya hingga menjadi puing. Serangan lain menghantam Menara Mhanna di dekatnya, sementara blok perumahan tambahan turut dibom, menimbulkan banyak korban. Rumah Sakit al-Quds melaporkan telah menerima 12 jenazah dan 77 korban luka sejak pagi.
Video yang beredar di media sosial merekam momen pasukan pendudukan Israel mengebom dan menghancurkan Menara Al-Kawthar di #KotaGaza.
Menara tersebut, menurut koresponden #AlMayadeen, merupakan menara tertua di Kota Gaza, dan "Zionis Israel" menghancurkannya dengan lima bom berkekuatan tinggi.… pic.twitter.com/MpH5NJyAy4
— Al Mayadeen English (@MayadeenEnglish) September 14, 2025
Jet Zionis Israel juga menghancurkan Sekolah Ortodoks Yunani beserta gerejanya di Kota Gaza. Di dekat Rumah Sakit Al-Shifa, seorang warga Palestina tewas dan lainnya terluka saat sebuah kendaraan sipil menjadi sasaran. Lebih jauh ke barat, serangan udara menghantam rumah tamu keluarga Bakr di Jalan Aydiyah, sementara serangan drone melukai beberapa orang di lingkungan al-Tuffah.
Pengeboman juga meluas ke Universitas Islam, tempat sebuah gedung yang menampung keluarga pengungsi paksa dihancurkan. Pasukan pendudukan Israel kemudian melancarkan serangan kedua ke gedung Universitas Islam di Gaza barat setelah warga berkumpul pasca-serangan pertama, sehingga menimbulkan pembantaian.
Di Jalur Gaza tengah, sedikitnya dua orang tewas dan lainnya terluka akibat serangan dekat pasar di kamp pengungsi al-Maghazi.
Di Khan Younis, Gaza selatan, artileri berat Israel menghantam wilayah kota. Seorang warga Palestina tewas di dekat Lapangan Abu Hamid akibat tembakan artileri dan senjata api. Di utara Rafah, empat warga Palestina yang kelaparan tewas dan 25 lainnya terluka saat menunggu bantuan kemanusiaan.
Serangan paling brutal sejak 7 Oktober
Koresponden Al Mayadeen menggambarkan serangan hari ini sebagai yang paling ganas sejak 7 Oktober, mencatat tembakan artileri intensif di Tal al-Hawa yang bertujuan mempercepat pengungsian paksa. Serangan juga menghantam lingkungan al-Zaytoun dan al-Shujaiyya di Kota Gaza, serta sejumlah distrik barat.
Di Deir al-Balah, Gaza tengah, serangan udara Zionis Israel mengenai tenda yang menampung warga sipil pengungsi paksa, menewaskan enam orang termasuk perempuan dan anak-anak, menurut Rumah Sakit al-Aqsa Martyrs.
Patut dicatat bahwa pada Sabtu sebelumnya, serangan udara Zionis Israel menghancurkan tiga sekolah UNRWA di Kota Gaza, memaksa ribuan pengungsi Palestina untuk kembali melarikan diri setelah berbulan-bulan dibombardir, menurut kantor berita Anadolu.
Para saksi mengatakan serangan tersebut menargetkan sekolah Sit Sura, Al-Alya, dan Shaheiber di kamp pengungsi al-Shati’, tempat banyak warga Palestina berlindung setelah melarikan diri dari serangan sebelumnya.
Rumah Sakit Nasser di Gaza memperingatkan tak mampu menampung korban baru
Para dokter dan staf di Kompleks Medis Nasser, rumah sakit terbesar yang masih berfungsi di Gaza, memperingatkan mereka tidak akan mampu menangani lonjakan pasien jika ratusan ribu warga Palestina melarikan diri dari utara di tengah genosida Israel yang meningkat, lapor The Guardian.
Dr. Mohammed Saqr, direktur keperawatan di rumah sakit tersebut, mengatakan fasilitasnya sudah kewalahan, dengan jumlah staf yang terlalu sedikit serta pasokan obat dan bahan bakar yang semakin menipis.
“Kami telah bekerja lebih dari 23 bulan dalam situasi darurat sehingga semua orang kelelahan,” kata Saqr dalam pesan suara dari rumah sakit pada Jumat. “Sebagian dari kami masih dipenjara Israel, sebagian dibunuh di dalam maupun di luar rumah sakit, dan sebagian lainnya terpaksa meninggalkan Jalur Gaza untuk menyelamatkan diri dari kematian, sehingga jumlah kami tidak lagi seperti sebelum perang.”
Gaza menjadi ‘tanah tandus’
Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan pada Minggu bahwa Jalur Gaza berubah menjadi “tanah tandus” di tengah genosida Zionis Israel yang semakin intensif.
Dalam sebuah unggahan di X, badan itu menyatakan:
“Gaza sedang dihancurkan sepenuhnya. Ia menjadi tanah tandus, dan tampaknya semakin lama semakin tidak layak huni.”
UNRWA menambahkan:
“Anak-anak kelaparan. Keluarga-keluarga dipaksa mengungsi. Orang-orang hidup dalam ketakutan,” seraya menegaskan bahwa ketika serangan besar-besaran terus berlanjut, “kemauan politik dan pengambilan keputusan lebih dibutuhkan daripada sebelumnya.” [IT/r]