DK PBB Soroti Operasi Militer AS di Dekat Pantai Venezuela, Serukan Penahanan Diri
Story Code : 1239416
DK PBB menggelar pertemuan darurat pada Jumat atas permintaan Venezuela setelah serangkaian serangan militer AS terhadap kapal-kapal di dekat pantai negara tersebut, yang oleh Washington dituduh membawa narkotika. Sebanyak 21 orang dilaporkan tewas sejak AS memulai serangan pada 2 September, setelah pengerahan besar-besaran armada maritim Amerika di Karibia dalam apa yang disebut pemerintahan Trump sebagai “perang melawan kartel.”
Asisten Sekretaris Jenderal PBB, Miroslav Jenča, dalam pemaparannya kepada anggota DK PBB, mengatakan bahwa otoritas Venezuela tetap dalam keadaan siaga tinggi sejak laporan pertama mengenai pengerahan militer AS muncul pada Agustus lalu.
Ia menegaskan bahwa operasi militer AS telah meningkatkan ketegangan di kawasan, dan menekankan bahwa upaya pemberantasan narkotika “harus dilakukan sesuai dengan hukum internasional, termasuk Piagam PBB.”
PBB, kata Jenča, akan terus mendukung dialog diplomatik dan langkah-langkah pencegahan eskalasi lebih lanjut, serta menyerukan kepada Washington dan Caracas untuk mengutamakan de-eskalasi dan keterlibatan konstruktif.
‘AS Ingin Gulingkan Maduro’
Venezuela memandang serangan AS sebagai persiapan menuju serangan bersenjata dan menuduh pemerintahan Trump berupaya menggulingkan Presiden Nicolás Maduro, serta mengancam “perdamaian, keamanan, dan stabilitas di tingkat regional dan internasional.”
“Tindakan dan retorika agresif pemerintah AS secara objektif menunjukkan bahwa kita tengah menghadapi situasi di mana sangat rasional untuk mengantisipasi serangan bersenjata terhadap Venezuela dalam waktu dekat,” ujar Duta Besar Venezuela untuk PBB, Samuel Moncada, dalam pertemuan tersebut, dikutip oleh AP.
Moncada mendesak DK PBB untuk mengambil langkah-langkah guna mencegah memburuknya situasi dan mengesahkan resolusi yang mewajibkan semua anggota, termasuk AS, untuk menghormati kedaulatan dan integritas teritorial Venezuela.
Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily Nebenzia, dalam sesi yang sama mengatakan bahwa Venezuela telah menghadapi tekanan dan ancaman invasi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ia juga menuding AS sebagai ancaman terhadap perdamaian dan keamanan internasional melalui aktivitas militernya di lepas pantai Venezuela. [IT/G]