Mesir Mediasi Pembicaraan untuk Memulihkan Kerja Sama Nuklir Iran-IAEA
Story Code : 1244223
IranianFM Abbas Araghchi
Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty, mengadakan percakapan telepon terpisah pada hari Jumat dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, untuk membahas perkembangan terkait program nuklir Iran dan upaya meredakan ketegangan regional.
Menurut laporan media Mesir, pembicaraan tersebut berfokus pada upaya memulihkan kerja sama penuh Teheran dengan IAEA dan mempromosikan dialog sebagai cara untuk memastikan keamanan dan stabilitas regional.
Abdelatty menegaskan komitmen Mesir untuk mendukung solusi damai dan diplomatik, serta menggarisbawahi pentingnya melanjutkan dan memperkuat kerja sama antara Iran dan IAEA sesuai dengan kesepakatan yang ditandatangani di Kairo pada 9 September lalu.
Ia juga menekankan bahwa komunikasi yang berkelanjutan antara semua pihak yang relevan sangat penting untuk menjaga stabilitas dan menghindari eskalasi lebih lanjut di Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Mesir itu mencatat bahwa pembicaraan ini dilaksanakan atas arahan Presiden Abdel Fattah el-Sisi, yang telah berulang kali menekankan perlunya de-eskalasi regional dan pencarian dialog ketimbang konfrontasi.
Baik Araghchi maupun Grossi mengapresiasi peran mediasi Kairo dan menegaskan komitmen mereka untuk terlibat secara konstruktif guna menjaga transparansi dan kerja sama dalam kerangka perjanjian internasional yang mengatur kegiatan nuklir Iran.
Iran Komitmen pada Diplomasi
Awal bulan ini, Araghchi menegaskan bahwa Tehran terus berupaya mencari solusi diplomatik yang adil dan seimbang untuk masalah nuklirnya, dengan mengkritik negara-negara Barat yang dianggapnya menghalangi negosiasi melalui tuntutan yang “tidak masuk akal” dan “berlebihan”.
Dalam pertemuan dengan duta besar dan kepala misi luar negeri di Teheran, Araghchi menjelaskan posisi Iran terkait langkah-langkah terbaru negara-negara Barat di Dewan Keamanan PBB (DK PBB) dan penerapan mekanisme snapback, yang mengembalikan sanksi internasional terhadap Iran.
Araghchi menegaskan bahwa pendekatan Iran selalu mengutamakan dialog daripada konfrontasi, menambahkan bahwa ancaman militer dan tekanan politik berulang kali gagal menyelesaikan masalah ini.
“Pengalaman telah membuktikan bahwa tidak ada solusi selain solusi diplomatik dan yang dinegosiasikan untuk program nuklir Iran,” ujarnya.
“Dalam beberapa tahun terakhir, ada ancaman serangan militer yang berulang, tetapi pendekatan ini gagal menyelesaikan masalah apapun. Eropa juga mengancam akan mengaktifkan mekanisme snapback, tetapi seperti halnya opsi militer, langkah ini terbukti tidak efektif dan hanya membuat proses negosiasi menjadi lebih rumit dan sulit,” tegasnya.
Dukungan Global terhadap Perilaku Iran yang Bertanggung Jawab
Menyinggung kerja sama Iran dengan IAEA, Araghchi mengumumkan bahwa Teheran telah mencapai kerangka kerja sama teknis baru dengan badan tersebut untuk menggantikan perjanjian Kairo yang lama, yang menurutnya “sudah tidak memadai dalam kondisi saat ini, termasuk ancaman keamanan dan mekanisme snapback”.
Mengenai dampak dari serangan baru-baru ini terhadap Iran, Araghchi menyoroti bahwa “lebih dari 120 negara dan hampir semua organisasi internasional” mengutuk agresi tersebut dan menyatakan dukungannya terhadap Teheran. Ia mengaitkan hal ini dengan “kebijaksanaan, kewajaran, dan kecerdasan” Iran sebagai aktor yang bertanggung jawab dan berkomitmen pada diplomasi.
“Hari ini, Iran sekali lagi menunjukkan bahwa, sambil mempertahankan hak-haknya, negara ini sepenuhnya siap untuk solusi apapun yang dapat mengamankan kepentingan kedua belah pihak dan menciptakan kepercayaan pada program nuklir damai negara ini,” kata Araghchi.[IT/r]