Israel dan “Hasbara”: Mesin Propaganda Efektif untuk Membungkam Suara Lawan
Story Code : 1244448
Namun, seiring berjalannya perang di Gaza, mekanisme yang sebelumnya mampu membentuk narasi global tersebut mulai runtuh di hadapan arus gambar dan video kehancuran yang tidak dapat disembunyikan bahkan oleh mesin pencari terbesar sekalipun.
Asal-usul dan Tujuan Awal “Hasbara”
Kata Hasbara, yang dalam bahasa Ibrani berarti “penjelasan”, muncul pada awal abad ke-20 sebagai bagian dari strategi gerakan Zionis untuk melegitimasi ekspansi kolonial di Palestina.
Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh pemimpin Zionis Nahum Sokolow, yang ingin mengganti istilah “propaganda” — yang memiliki konotasi negatif — dengan istilah yang lebih dapat diterima oleh publik Barat.
Sokolow membayangkan Hasbara sebagai jembatan komunikasi antara ambisi Zionis dan audiens Barat, dengan menggunakan sejarah panjang anti-Semitisme di Eropa sebagai tameng retoris untuk membenarkan pendirian “tanah air bagi orang Yahudi”.
Awalnya, Hasbara bersifat defensif, bertujuan melawan penentangan lokal maupun internasional terhadap pendirian permukiman Yahudi di tanah Palestina. Namun pada dekade 1980-an, kebijakan ini berkembang menjadi proyek institusional berskala global.
Dari Sabra dan Shatila ke Doktrin Propaganda Global
Titik balik penting terjadi setelah invasi Israel ke Lebanon pada tahun 1982 dan pembantaian di kamp pengungsi Sabra dan Shatila yang menewaskan hingga 3.500 warga sipil.
Kecaman dunia atas tragedi tersebut mendorong kelompok pro-Israel dan para ahli media untuk menggelar konferensi besar di al-Quds (Yerusalem) pada tahun 1983. Di sinilah Hasbara secara resmi diformalkan sebagai doktrin hubungan masyarakat untuk memperbaiki citra Israel di dunia internasional.
Sejak saat itu, narasi publik Israel berubah drastis: isu utama bukan lagi pendudukan atau pelanggaran hak asasi manusia, melainkan anti-Semitisme.
Kritik terhadap kebijakan Israel pun dikonstruksikan ulang sebagai bentuk kebencian terhadap orang Yahudi — sebuah label yang digunakan untuk membungkam jurnalis, aktivis HAM, dan lembaga internasional.
Koordinasi Global antara Pemerintah, Media, dan Lobi Barat
Dalam beberapa dekade berikutnya, Hasbara berkembang menjadi kerja sama besar antara kementerian Israel, media Barat, dan jaringan lobi swasta. Tujuannya jelas: mengelola persepsi global tentang Israel.
Era digital kemudian memperkuat mesin ini. Setelah perang Lebanon 2006 dan agresi besar-besaran di Gaza tahun 2008–2009, Hasbara berevolusi dari strategi komunikasi reaktif menjadi senjata ofensif dalam “perang informasi”.
Rezim Israel membentuk unit media dan siber khusus yang menggunakan akun palsu, konten berbayar, dan manipulasi algoritma untuk membanjiri media sosial dengan narasi pro-Israel, sekaligus menekan suara-suara yang berseberangan.
Operasi Siber dan “Tentara Digital”
Laporan menunjukkan bahwa sistem Hasbara berkoordinasi dengan raksasa media sosial, mantan perwira intelijen, serta jaringan relawan yang disebut “tentara digital”.
Taktiknya meliputi:
Mengendalikan hasil pencarian mesin pencari,
Membuka laman multibahasa seperti “Israel Speaks Arabic”,
Menawarkan beasiswa kepada mahasiswa asing sebagai imbalan menyebarkan konten pro-Israel di dunia maya.
Buku panduan seperti Defeating Anti-Israel Propaganda juga digunakan untuk melatih aktivis agar menstigma para pengkritik — termasuk aktivis Yahudi sendiri — sebagai “anti-Semit” atau “simpatisan teroris”.
Kementerian Urusan Strategis Israel bahkan mengalokasikan jutaan dolar setiap tahun untuk melawan apa yang mereka sebut “kampanye delegitimasi”, serta untuk menghadang gerakan Boycott, Divestment, and Sanctions (BDS).
Dalam beberapa tahun terakhir, lebih dari 100 pusat data, 120 ruang operasi, dan 40 organisasi mitra telah dikerahkan untuk mempertahankan citra Israel di seluruh dunia.
Keterbatasan Hasbara di Era Genosida Gaza
Namun, genosida di Gaza yang dimulai pada 7 Oktober 2023 mengungkap batas kemampuan Hasbara.
Meskipun ada koordinasi besar dan upaya penyensoran daring, rekaman pembantaian, rumah sakit yang hancur, serta anak-anak yang tertimbun puing menyebar lebih cepat dari narasi resmi Israel.
Untuk pertama kalinya, Hasbara gagal mengendalikan arus informasi.
Narasi “pembelaan diri” dan “perang melawan terorisme” tak lagi mampu menutupi kenyataan yang kini banyak pihak sebut sebagai genosida.
Perubahan Opini Publik Dunia
Perubahan opini publik global pun tak terhindarkan.
Menurut survei Pew Research Center tahun 2025, mayoritas penduduk di 20 dari 24 negara kini memiliki pandangan negatif terhadap Israel — termasuk 93% di Turki, 80% di Indonesia, 78% di Belanda, dan 75% di Spanyol serta Swedia.
Bahkan di Amerika Serikat, sekutu terdekat Israel, pandangan negatif meningkat dari 42% pada tahun 2022 menjadi 53% pada 2025, terutama di kalangan Demokrat (69%) dan warga usia di bawah 30 tahun (71%).
Krisis Kredibilitas dan Runtuhnya Narasi Lama
Meskipun memiliki dana besar dan teknologi digital yang maju, Hasbara kini menghadapi krisis kredibilitas.
Media sosial — yang dulu menjadi senjata terkuatnya — kini berubah menjadi pedang bermata dua, tempat narasi buatan Israel beradu dengan kesaksian langsung dari Gaza.
Semakin gencar propaganda disebarkan, semakin nyata pula kontradiksi di dalamnya.
Dunia kini menyaksikan runtuhnya sebuah narasi dominan yang selama puluhan tahun berhasil membungkus pendudukan dengan dalih “keamanan nasional” dan “anti-Semitisme”.
Pada akhirnya, dari akar ideologinya di gerakan Zionis hingga bentuk sibernya di era modern, Hasbara memang berhasil memengaruhi wacana Barat selama beberapa dekade.
Namun, perang Gaza menjadi titik balik sejarah — saat kebenaran yang tak terbantahkan menghancurkan benteng propaganda paling kuat di dunia modern.
Seiring empati global yang kian mengarah pada korban Palestina, mesin propaganda Israel kini terbuka sepenuhnya di hadapan dunia, tak lagi mampu menutupi realitas pendudukan dan kejahatan perang di balik label “anti-Semitisme”. [IT/G]