Kesepakatan F-35 AS dengan Arab Saudi Mengancam Superioritas Udara Israel
Story Code : 1244963
A Royal Air Force F-35 lands at the Farnborough International Air Show in Farnborough, England
Hanya beberapa hari menjelang kunjungan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman ke Washington, Reuters melaporkan bahwa Departemen Pertahanan AS telah memajukan kesepakatan potensial untuk menjual 48 jet tempur siluman F-35 ke Arab Saudi.
Menurut outlet Zionis Israel Yedioth Ahronoth, langkah ini dapat secara signifikan mengubah keseimbangan kekuatan regional.
Sumber-sumber Amerika mengatakan Riyadh mengajukan permintaan tersebut langsung kepada Presiden Donald Trump awal tahun ini.
Setelah peninjauan ekstensif, Pentagon menyelesaikan evaluasi teknis, dan berkas tersebut sekarang menunggu persetujuan akhir dari Menteri Pertahanan, pejabat pemerintah, dan Kongres.
Meskipun belum ada keputusan final, kemajuan kesepakatan tersebut menandakan semakin terbukanya AS untuk mempersenjatai Arab Saudi dengan persenjataan canggih—menandai potensi perubahan dari kebijakan senjata yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
'Zionis Israel' Khawatir atas 'Keunggulan Militer Kualitatif'
Di Tel Aviv, penjualan yang diusulkan telah memicu kekhawatiran. Kesepakatan tersebut dapat merusak komitmen jangka panjang AS untuk mempertahankan "keunggulan militer kualitatif Zionis Israel" di kawasan tersebut.
Saat ini, Israel merupakan satu-satunya entitas di Timur Tengah yang mengoperasikan jet F-35.
Yedioth Ahronoth mencatat bahwa kesepakatan potensial tersebut merupakan bagian dari upaya Saudi yang lebih luas untuk mengamankan pakta pertahanan dengan AS—termasuk jaminan keamanan dan kerja sama nuklir sipil—yang dibingkai oleh Washington sebagai bagian dari "aliansi regional baru."
Pergeseran Kebijakan AS dan Perlombaan Senjata
Secara tradisional, AS telah menahan penjualan senjata canggih ke negara-negara Arab yang belum menormalisasi hubungan dengan "Zionis Israel."
Jika kesepakatan F-35 disetujui, hal itu dapat menciptakan preseden baru dan memicu perlombaan senjata baru di Timur Tengah.
Lockheed Martin, produsennya, mengonfirmasi bahwa penjualan semacam itu akan menjadi "perjanjian antarpemerintah," sementara Gedung Putih dan Pentagon menolak berkomentar.
Dengan kunjungan Putra Mahkota bin Salman yang akan datang ke Washington dan anggota parlemen AS yang semakin kritis terhadap penjualan senjata ke Arab Saudi, kesepakatan itu kemungkinan akan memicu perdebatan di Capitol Hill.
Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa, jika disetujui, kesepakatan ini dapat dikenang sebagai titik balik bersejarah, yang mengakhiri supremasi udara Israel selama beberapa dekade di wilayah tersebut.[IT/r]