0
Thursday 6 November 2025 - 04:31
China - Zionis Israel:

Perang yang Mengubah Aturan Permainan: Beijing di Ambang Perubahan Besar terhadap Tel Aviv?

Story Code : 1245135
An aerial view of the Gaza Port
An aerial view of the Gaza Port
Menurut laporan EkoIran, meskipun hubungan itu belum sepenuhnya runtuh, perkembangan terkini telah menimbulkan bayangan berat atas dinamika antara Israel dan kekuatan besar Asia tersebut.
 
Menurut Middle East Council on Global Affairs, kebijakan China terhadap konflik Zionis Israel–Palestina selama ini sejalan dengan konsensus internasional. Sejak menjalin hubungan diplomatik resmi dengan Zionis Israel pada tahun 1992—bersamaan dengan proses perdamaian Madrid—Beijing selalu berusaha menjaga keseimbangan hati-hati: di satu sisi mempertahankan hubungan dengan Zionis Israel, namun di sisi lain tetap mendukung solusi dua negara berdasarkan perbatasan sebelum tahun 1967, termasuk pembentukan negara Palestina merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
 
Sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, China kerap memanfaatkan posisinya dan kedekatannya dengan negara-negara Muslim serta Dunia Selatan untuk menyoroti isolasi relatif Amerika Serikat dalam isu Palestina. Dengan cara itu, Beijing memperkuat citranya sebagai pembela multipolaritas dan hukum internasional.
 
“Perang ini tidak mendefinisikan ulang peran China di Timur Tengah — ia justru memperjelasnya.”
Sejak peristiwa 7 Oktober 2023, China secara konsisten menyatakan bahwa tindakan Zionis Israel di Gaza merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional dan mengecamnya keras. Selama dua tahun terakhir, Beijing juga berulang kali mengutuk serangan Zionis Israel terhadap Yaman, Iran, Suriah, Qatar, dan Lebanon, menyebutnya sebagai tindakan agresif yang mengancam stabilitas kawasan. Khususnya setelah serangan  Zionis Israel terhadap Iran pada Oktober 2024 dan Juni 2025, China mengeluarkan pernyataan tegas membela Tehran dan menyerukan pengendalian diri di kawasan tersebut.
 
Meski demikian, terlepas dari kecaman kerasnya terhadap perilaku Zionis Israel, Beijing sejauh ini menahan diri untuk tidak mengambil langkah-langkah hukuman nyata—seperti sanksi ekonomi, pengusiran diplomat Zionis Israel, atau penurunan tingkat hubungan bilateral—dan lebih memilih mempertahankan status quo diplomatik serta ekonomi.
 
Sementara reaksi China terbatas pada pernyataan simbolis dan kritik diplomatik, pemerintah Benjamin Netanyahu dalam beberapa bulan terakhir justru meningkatkan retorika keras terhadap Beijing. Netanyahu bahkan menuduh bahwa China turut berperan dalam meningkatnya isolasi internasional Zionis Israel dan menjadikannya negara yang “dibenci”. Kini, ketika gencatan senjata rapuh di Gaza mulai berlaku, masa paling tegang dalam hubungan Tiongkok–Israel tampaknya mulai mereda. Namun, situasi di Gaza dan kawasan sekitarnya masih jauh dari stabil, dan kemarahan Dunia Selatan terhadap Israel juga belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
 
Dinamika Strategis yang Saling Bertaut
Meningkatnya ketegangan antara China dan Zionis Israel harus dilihat dalam kerangka geopolitik yang lebih luas dari sekadar hubungan bilateral. Dua faktor utama berada di pusat dinamika ini: hubungan Beijing yang semakin erat dengan rival utama Israel, yakni Teheran, serta meningkatnya kompetisi global antara China dan Amerika Serikat. Keduanya berpengaruh langsung terhadap lingkungan strategis Zionis Israel.
 
Meskipun China dan Iran bukan sekutu resmi, kemitraan strategis mereka didasarkan pada kepentingan bersama. Beijing melihat Teheran sebagai pemain kunci di Asia Barat dan unsur penting dalam inisiatif Belt and Road. Kedua negara juga sama-sama memosisikan diri sebagai penantang terhadap tatanan dunia unipolar yang dipimpin Amerika Serikat. Perhitungan strategis China didasarkan pada keinginan kuat untuk mempertahankan stabilitas Iran dan kawasan Teluk, yang menjelaskan penolakan keras Beijing terhadap setiap tindakan militer Zionis Israel atau AS terhadap Iran.
Walau China tidak mendukung ambisi nuklir Iran, Beijing selalu menyerukan penyelesaian diplomatik bagi isu tersebut dan secara terbuka menolak serangan sepihak Zionis srael terhadap wilayah Iran. Tiongkok bahkan membantu Iran dalam menghindari sanksi dan, menurut sejumlah laporan, berperan dalam membantu pemulihan kemampuan militer Iran setelah operasi Israel pada Oktober 2024 dan perang 12 hari pada Juni 2025. Zionis Israel kini memandang perkembangan hubungan Tiongkok–Iran dengan kekhawatiran yang meningkat, yang pada gilirannya memengaruhi sikap Tel Aviv terhadap Beijing.
 
Tekanan dari Washington
Sejak kembalinya Donald Trump ke Gedung Putih pada Januari lalu, kebijakan luar negeri Amerika Serikat kembali memprioritaskan upaya menahan pengaruh global China —termasuk di Timur Tengah. Pendekatan ini mengingatkan pada masa jabatan pertama Trump, ketika pejabat tinggi pemerintah, terutama mantan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, menekan Israel agar mengurangi interaksi dengan Beijing.
 
Dalam beberapa tahun terakhir, tekanan meningkat dari Washington mendorong Israel untuk membatasi transfer teknologi ke China, terutama di sektor-sektor sensitif seperti kecerdasan buatan, industri pertahanan, dan semikonduktor.
 
Antara tahun 2020 dan 2022, ekspor semikonduktor Zionis Israel ke Tiongkok menurun hampir setengahnya—indikasi langsung dari dampak tekanan AS. Pembatasan ini mengurangi akses perusahaan teknologi Israel ke pasar China dan menimbulkan kerugian besar bagi negara yang ingin menjadi pusat teknologi global tersebut.
 
EkoIran mencatat bahwa Turki muncul sebagai salah satu pemain utama dalam menstabilkan gencatan senjata awal di Jalur Gaza, dengan harapan dapat berperan dalam masa depan wilayah tersebut melalui kekuatan militernya, perusahaan konstruksi berpengalaman, serta hubungannya dengan Hamas. Namun, Israel sangat menentang hal ini. 
 
Strategi Netanyahu dan Polarisasi Baru
Upaya Netanyahu menyalahkan China atas meningkatnya isolasi Israel tampaknya merupakan langkah strategis untuk memperkuat keselarasan negaranya dengan Washington dan menarik dukungan dari politisi anti- China di Kongres AS. Langkah ini menunjukkan bahwa Israel kini semakin menyesuaikan diri dengan pembelahan geopolitik antara blok Barat dan Timur yang sedang terbentuk di Washington.
 
Dengan semakin dekatnya Zionis Israel ke AS dan beberapa ibu kota Eropa, tampak bahwa negara tersebut mulai meninggalkan kebijakan keseimbangan hati-hati antara Washington dan Beijing. Ini bukan sekadar perubahan kebijakan luar negeri, melainkan cerminan dari pergeseran geopolitik yang lebih dalam—yang sebagian besar dipicu oleh perang Gaza dan meningkatnya polarisasi global.
 
Dalam dunia yang semakin terbelah antara Timur dan Barat, sikap Zionis Israel menunjukkan bahwa rezim tersebut merasa tak lagi bisa bersikap netral dan harus memilih pihak.
 
Dalam konteks ini, langkah simbolis Zionis Israel untuk mendekat ke Taiwan menjadi perhatian khusus. Pada September 2025, anggota Knesset Boaz Toporovsky mengunjungi Taipei dan, setelah bertemu pejabat tinggi, menyebut Taiwan sebagai “sahabat sejati Zionis Israel”. Meskipun kunjungan itu tampak sebagai diplomasi parlemen biasa, pesan geopolitiknya kepada Beijing sangat jelas.
 
Pemerintah China segera mengecam langkah tersebut, menyebut Toporovsky sebagai petualang politik dan menuduh Israel melanggar prinsip “Satu China” — pilar utama kebijakan luar negeri Beijing. Tiongkok memperingatkan bahwa kunjungan itu akan berdampak negatif pada hubungan bilateral. Xiao Junzheng, Duta Besar China untuk Zionis Israel, bahkan secara terbuka mengecam perjalanan itu melalui pernyataan resmi di media sosial—sebuah reaksi yang sangat jarang dan mencerminkan ketegangan nyata.
 
Meski demikian, hubungan China –Zionis Israel tetap menunjukkan ketahanan di banyak bidang. Perdagangan bilateral kedua negara tahun lalu mencapai 16,3 miliar dolar AS, meningkat 11,7 persen dibanding tahun 2023—menunjukkan bahwa kepentingan ekonomi masih memiliki logika dan dinamika tersendiri yang sebagian besar tahan terhadap gesekan politik.
 
Namun, apakah hubungan ini akan tetap stabil di masa depan bergantung pada berbagai faktor: jalannya konflik antara Zionis Israel dan Iran, perkembangan hubungan China –Iran, arah kompetisi China –AS terutama di bidang kecerdasan buatan, serta keberlanjutan gencatan senjata di Gaza.
 
Meskipun ketegangan antara China dan Zionis Israel sejauh ini masih terbatas pada ranah diplomatik dan belum memutus hubungan ekonomi, hal itu tidak bisa dianggap remeh. Sebaliknya, situasi ini mencerminkan perubahan struktural yang lebih mendalam dalam tatanan global—perubahan yang membatasi fleksibilitas strategis Zionis Israel.
 
Genosida di Gaza telah mengubah citra Israel di mata Dunia Selatan, kawasan di mana China berupaya menempatkan dirinya sebagai pemimpin. Dalam konteks seperti ini, kerja sama pragmatis antara kedua negara mungkin secara bertahap akan berkurang.
 
Selama ini, kepentingan ekonomi melindungi hubungan China –Israel dari dampak besar konflik. Namun ke depan, kelangsungan hubungan ini akan ditentukan oleh apakah kedua pihak dapat terus memisahkan perbedaan politik dari kerja sama ekonomi — atau justru polarisasi yang semakin tajam, aksi militer Zionis Israel, dan meningkatnya ketegangan geopolitik akan menjauhkan mereka satu sama lain.[IT/r]
 
 
Comment