0
Friday 7 November 2025 - 15:15
Lebanon vs Zionis Israel:

Warga Lebanon Selatan Tantang Serangan Israel yang Kian Gencar, Gaungkan Janji Hezbollah untuk Melawan

Story Code : 1245392
Israeli strike on a residential area in southern Lebanon
Israeli strike on a residential area in southern Lebanon
Laporan media lokal menyebutkan bahwa sejumlah daerah di Lebanon selatan dibombardir pada hari Kamis, termasuk desa Taybeh dan Aita al-Jabal di dekat perbatasan Lebanon.
 
Pasukan pendudukan Israel mengeluarkan perintah evakuasi untuk beberapa desa dan kota di Lebanon selatan. Sebuah pabrik kayu di antara kota Tura dan Abbasiya juga diserang, dan setidaknya satu orang dilaporkan tewas dalam serangan tersebut.
 
Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) mengonfirmasi adanya serangan udara baru Zionis Israel di dekat kota Toura dan Aabbasiyyeh di wilayah Tyre, serta di kawasan selatan Taybeh.
 
Dalam pernyataan Kementerian Kesehatan Lebanon disebutkan bahwa terdapat korban dalam serangan yang menargetkan distrik Tyre itu. Media lokal juga melaporkan pesawat tempur Zionis Israel terbang rendah di atas wilayah pinggiran selatan Beirut.
 
Di sepanjang perbatasan Lebanon dengan wilayah yang diduduki Zionis Israel, rezim tersebut terus melakukan penghancuran dan serangan meski perjanjian gencatan senjata dengan gerakan perlawanan Hezbollah masih berlaku sejak tahun lalu. Serangan-serangan Zionis Israel terhadap Lebanon itu melanggar gencatan senjata yang ditengahi AS pada November 2024.
 
“Rakyat Kami Tidak Akan Pergi”
Farid Nanoo, wali kota Tayr Debba di distrik Tyre, dalam wawancara dengan jaringan berita al-Mayadeen yang berbasis di Lebanon, menegaskan bahwa serangan Zionis Israel yang tak henti-hentinya “gagal menakut-nakuti rakyat setempat.”
 
“Musuh belum memahami hingga saat ini bahwa serangan dan bombardirnya tidak menakuti rakyat kami. Kami akan tetap tinggal di tanah kami,” ujar Nanoo.
 
Ia membantah laporan bahwa serangan Zionis Israel membuat warga mengungsi dari wilayah tersebut.
“Bertentangan dengan klaim media Barat, tidak ada seorang pun dari kota kami atau daerah sekitar yang meninggalkan rumah mereka,” katanya.
 
Nanoo menambahkan bahwa para pekerja bersama warga kini telah memulai operasi pembersihan puing-puing, dan sistem listrik serta komunikasi akan segera dipulihkan dalam beberapa jam mendatang.
 
Hezbollah Tegaskan Hak untuk Membela Diri
Dalam pernyataannya pada Kamis (6/11), Hezbollah menegaskan akan membela diri dari agresi Zionis Israel.
 
“Kami menegaskan kembali hak sah kami untuk mempertahankan diri dari musuh yang memaksakan perang terhadap negara kami,” demikian isi pernyataan tersebut.
 
“Kami menegaskan hak sah kami untuk melawan pendudukan dan agresi, berdiri bersama tentara dan rakyat kami demi melindungi kedaulatan negara,” lanjutnya.
 
Gerakan itu juga dengan tegas menolak setiap bentuk negosiasi politik dengan Zionis Israel, menyatakan bahwa pembicaraan semacam itu “tidak melayani kepentingan nasional.”
 
Hezbollah menegaskan bahwa meski Lebanon terikat oleh gencatan senjata, negara itu tidak berkewajiban untuk terseret dalam negosiasi politik dengan Zionis Israel.
 
Dalam surat kepada pemerintah Lebanon, Hezbollah telah menolak keras gagasan pelucutan senjata sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata November 2024 dengan Zionis Israel, menyebut tuntutan tersebut sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima. Gerakan itu menegaskan tidak akan tunduk pada “pemerasan dan tekanan Zionis Israel.”
 
Tekanan Politik Barat dan Seruan AS
Perkembangan ini terjadi bersamaan dengan kampanye intimidasi media Barat yang berpihak pada Zionis Israel terhadap Lebanon, serta meningkatnya tekanan politik dari Amerika Serikat untuk mendorong Beirut agar terlibat dalam negosiasi langsung dengan rezim Zionis Israel.
 
Berbicara dalam Forum Dialog Manama di Bahrain, Tom Barrack, utusan khusus AS untuk Suriah, mengklaim bahwa stabilitas regional bergantung pada pelucutan kekuatan militer Hezbollah dan kemajuan pembicaraan perbatasan dengan Zionis Israel.
 
Seruan Barrack agar Hezbollah dilucuti muncul sementara rezim Zionis Israel selama bertahun-tahun terus melanggar kedaulatan Lebanon melalui serangan udara, pengintaian drone, dan serangan lintas batas.
 
Serangan Berlanjut Meski Gencatan Senjata Berlaku

Zionis Israel dipaksa menerima gencatan senjata dengan Hezbollah pada 27 November 2024, setelah menderita kerugian besar di medan perang dan gagal mencapai tujuannya, meski telah menewaskan lebih dari 4.000 orang di Lebanon.
 
Sejak itu, militer Zionis Israel terus menyerang Lebanon hampir setiap hari dan menolak menarik pasukan pendudukannya dari wilayah Arab tersebut.
 
Pasukan pendudukan Israel masih menempati lima lokasi di dalam wilayah Lebanon, dan terus menembaki bagian selatan dan timur Lebanon serta pinggiran selatan Beirut.
 
Menurut data pemerintah Lebanon, agresi Zionis Israel sejak gencatan senjata November telah menewaskan sekitar 300 orang dan melukai lebih dari 650 lainnya, termasuk perempuan dan anak-anak.
 
Kecaman atas Peran Amerika Serikat
Sekretaris Jenderal Hezbollah, Sheikh Naim Qassem, pada Jumat mengecam peran AS di Lebanon, menuduh Washington bukan sebagai mediator netral, melainkan sebagai pendukung agresi.[IT/r]
 
 
Comment