Turki Tidak Akan Mengabaikan Sistem Rudal S-400 Rusia Meskipun Ada Tekanan dari AS
Story Code : 1245398
Russian-made S-400 missile defense systems.jpg
Perselisihan yang sedang berlangsung telah menyebabkan Turki dikeluarkan dari program F-35. Turki sekali lagi menegaskan kembali posisinya terkait penggunaan sistem pertahanan rudal S-400 buatan Rusia, menentang tekanan terus-menerus dari Amerika Serikat.
Menurut Bloomberg, para pejabat Turki telah menyatakan bahwa Ankara tidak berniat membongkar atau membuang sistem S-400. Meskipun terjadi ketegangan diplomatik yang sedang berlangsung dengan Washington, sumber-sumber yang dikutip dalam laporan tersebut mengindikasikan bahwa Turki terbuka untuk menemukan jalan tengah terkait kerangka operasional sistem tersebut.
Meskipun menolak tuntutan AS untuk sepenuhnya menghentikan sistem rudal tersebut, Ankara telah mengusulkan alternatif: pembentukan mekanisme militer bersama untuk mengawasi penggunaan S-400.
Proposal ini, menurut para pejabat Turki, dapat mengatasi kekhawatiran AS dan NATO tanpa mengorbankan otonomi strategis Turki.
Mengenai kesepakatan dan tanggapan AS
Pada tahun 2017, Turki menandatangani perjanjian senilai $2,5 miliar dengan Rusia untuk membeli empat sistem rudal permukaan-ke-udara S-400.
Kesepakatan tersebut selesai pada Oktober 2019, dengan Rosoboronexport, eksportir senjata negara Rusia, mengonfirmasi keberhasilan pengiriman set resimen tersebut.
Langkah ini menandai perubahan signifikan dalam strategi pengadaan pertahanan Ankara dan menimbulkan kekhawatiran di NATO, karena sistem S-400 tidak kompatibel dengan arsitektur pertahanan NATO.
Setelah akuisisi S-400, AS membalas dengan mengeluarkan Turki dari program jet tempur siluman F-35, dengan alasan masalah keamanan.
Washington berpendapat bahwa integrasi teknologi Rusia dapat membahayakan keamanan platform F-35, terutama tanda radar dan kerahasiaan operasionalnya.
Implikasi strategis bagi NATO, pertahanan regional
Kegigihan Turki untuk mempertahankan sistem S-400 meskipun ada keberatan dari AS terus menimbulkan pertanyaan tentang keselarasan jangka panjangnya dengan NATO.
Ankara menegaskan bahwa keputusan pertahanannya merupakan masalah kedaulatan nasional dan independensi strategis.
Mekanisme pengawasan bersama yang diusulkan merupakan upaya untuk menyeimbangkan kepentingan tersebut dengan realitas komitmen aliansi dan tekanan internasional, tetapi apakah Washington akan menerima kompromi tersebut masih belum pasti.[IT/r]