0
Saturday 8 November 2025 - 04:17
Perjuangan Poros Perlawanan:

Konferensi Nasional Arab di Beirut Tegaskan Sentralitas Perlawanan

Story Code : 1245535
The 34th Arab National Conference was launched in Beirut
The 34th Arab National Conference was launched in Beirut
Konferensi Nasional Arab ke-34 dibuka di Beirut pada hari Jumat dengan dihadiri lebih dari 250 tokoh Arab, yang menekankan bahwa perlawanan tetap menjadi sarana utama dalam menghadapi pendudukan Zionis Israel dan proyek ekspansionisnya di Palestina serta kawasan.
 
Para peserta menyoroti pentingnya menjaga persatuan dunia Arab serta menolak segala bentuk perpecahan politik, sektarian, maupun teritorial.
 
Bashour: Perlawanan sebagai Dasar Kebangkitan
Ma‘an Bashour, presiden sekaligus pendiri Arab National Forum, mengatakan bahwa gagasan perlawanan merupakan fondasi bagi kebangkitan bangsa, dengan menegaskan bahwa perlawanan bukan sekadar konsep militer, melainkan juga kerangka politik, kultural, dan sosial yang esensial untuk merebut kembali hak dan kedaulatan.
 
Sabahi: Menantang Mentalitas Kekalahan
Sekretaris Jenderal Arab National Conference (ANC) Hamdeen Sabahi menegaskan bahwa prioritas saat ini adalah melawan klaim bahwa dunia Arab telah kalah, dengan mengatakan:
“Konfrontasi yang dituntut dari kita hari ini adalah membantah propaganda yang menyatakan bahwa bangsa ini telah kalah.”
 
Ia menegaskan:
“Kami mengatakan bahwa bangsa ini telah menang, dan hari pembebasan Palestina sudah dekat.”
Sabahi menambahkan bahwa pada tahap berikutnya,
“pena, suara, dan gambar akan memainkan peran sepenting senjata, karena perjuangan ini masih terbuka.”
 
Ia menolak semua seruan untuk melucuti senjata Perlawanan di Palestina dan Lebanon, dengan menggambarkan senjata Perlawanan sebagai martabat bangsa.
 
Lebih lanjut, ia berpendapat bahwa masa depan kawasan bergantung pada keterlibatan langsung rakyat dalam perjuangan, seraya menambahkan bahwa Operasi Banjir Al-Aqsa telah menunjukkan bahwa upaya memecah belah kawasan dan menormalisasi hubungan dengan pendudukan Israel mengalami kemunduran besar.
 
“Pelajaran paling penting dari Operasi Banjir Al-Aqsa adalah bahwa konferensi ini harus berada di garis depan konfrontasi,” ujar Sabahi, seraya menambahkan bahwa terpilihnya Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York merupakan salah satu tanda awal perubahan sentimen global terhadap Palestina.
 
Al-Hayya: ‘Badai Al-Aqsa’ Mengembalikan Sentralitas Palestina
Khalil al-Hayya, kepala gerakan Hamas di Gaza, menyatakan bahwa
“Banjir Al-Aqsa adalah respons terhadap upaya menghapuskan perjuangan Palestina dan membangun Timur Tengah baru,”
seraya mencatat bahwa 7 Oktober merupakan momen bersejarah di mana seluruh umat bersatu untuk Gaza.
 
Ia menegaskan:
“Memang, Gaza terluka hari ini, tetapi ia tetap tegak berdiri,” dan menyerukan persatuan berkelanjutan dalam memperjuangkan tujuan nasional yang sah.
“Palestina akan terus berdiri kokoh seperti Gaza, meskipun berada di bawah agresi, dengan lautnya, laki-lakinya, perempuan dan anak-anaknya — dan ketidakadilan itu pada akhirnya akan berakhir,” ujar al-Hayya.
 
Al-Nakhalah: Gaza Melawan Koalisi Internasional
Ziyad al-Nakhalah, Sekretaris Jenderal Palestinian Islamic Jihad (PIJ), mengatakan bahwa Gaza menghadapi koalisi internasional yang dipimpin oleh Amerika Serikat, dan menegaskan bahwa situasi di Gaza telah melampaui kemampuan pendudukan Israel untuk mengendalikannya.
 
Ia menyatakan:
“Kami keluar dari pertempuran ini dengan senjata di tangan. Semua faksi Perlawanan berdiri bersatu menghadapi agresi.”
Lebih lanjut, al-Nakhalah menjelaskan bahwa rencana Trump menciptakan banyak hambatan dan syarat yang tidak dapat dilaksanakan, karena setiap klausulnya memerlukan prosedur yang rumit.
Pemimpin PIJ itu juga menyampaikan terima kasih kepada para pendukung regional dari Iran, Lebanon, Yaman, Mesir, dan Qatar, serta memperingatkan bahwa
“apa yang dihadapi rakyat kami di Tepi Barat adalah pertempuran nyata yang mengancam keberadaan Palestina di sana.”
 
Mezher: Memperbarui Komitmen untuk Melawan Pendudukan Zionis Israel
Jamil Mezher, Wakil Sekretaris Jenderal Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP), menyerukan penolakan terhadap
“segala bentuk perwalian atas rakyat Palestina dan upaya perubahan demografis apa pun.”
 
Ia menyatakan bahwa pertemuan ini merupakan penegasan kembali komitmen terhadap perlawanan, dengan mengatakan:
“Kita berkumpul untuk memperbarui janji melawan musuh Israel dan sekutunya,”
dan menegaskan bahwa perjuangan masih terus berlanjut.
“Tank-tank pendudukan mungkin berdiri di dekat Damaskus hari ini, tetapi kita masih melawannya,” tambah Mezher.
 
Pejabat PFLP itu menekankan perlunya beralih dari solidaritas ke aksi nyata, dan dari slogan ke program praktis. Ia juga mendesak Liga Arab untuk mengambil peran utama dalam memfasilitasi rekonsiliasi Palestina yang komprehensif serta restrukturisasi arena politik Palestina, dengan menegaskan bahwa
“tantangan hari ini lebih besar dari sebelumnya — begitu pula tanggung jawabnya.”
 
Al-Mousawi: Perlawanan Akan Membentuk Masa Depan
Amar al-Mousawi, kepala Departemen Hubungan Arab dan Internasional Hizbullah, menyatakan bahwa gerakannya turut bergabung dalam front pendukung Gaza karena keyakinan akan legitimasi dan kebenaran perjuangan ini, dan bahwa mereka tidak menyesali keputusan tersebut.
 
Ia menegaskan bahwa posisi Perlawanan, yang telah “membayar harga mahal dalam bentuk pengorbanan,” adalah bahwa tidak ada pembahasan apa pun sebelum pendudukan Israel memenuhi kewajibannya. Ia mencatat bahwa upaya pemerintah Lebanon untuk memberlakukan eksklusivitas senjata berasal dari intervensi Arab dan Barat.
 
Al-Mousawi mengatakan bahwa pengalaman bertahun-tahun menunjukkan bahwa Perlawanan di Lebanon dan Palestina telah melewati krisis yang jauh lebih berat daripada yang dihadapi saat ini, dan bahwa Perlawanan yang telah melahirkan para pemimpin syahid mampu melahirkan generasi baru kembali.
 
“Perlawanan inilah yang akan membentuk masa depan, dari Palestina hingga Lebanon,” tegasnya.
 
Pejabat Hizbullah itu juga mengkritik Presiden AS Donald Trump karena memuji pasukan pendudukan Zionis Israel, dengan mengatakan bahwa Trump “mengakui kemitraan dengan musuh dalam semua perang yang dilancarkannya terhadap rakyat kawasan.”
 
Al-Mousawi juga menyoroti peran Yaman dalam mendukung Gaza, dengan menegaskan bahwa
“apa yang dilakukan Yaman untuk mendukung Gaza merupakan kewajiban moral yang menentukan bagi kita semua, serta bagi bangsa Arab dan Islam.”
 
Ia turut menyampaikan terima kasih kepada pemerintah dan rakyat Amerika Latin, termasuk Brasil, Venezuela, Kolombia, Kuba, dan lainnya.
 
Sayyid al-Houthi: Front Dukungan Memainkan Peran Sentral
Sayyed Abdul-Malik Badreddine al-Houthi, pemimpin Ansar Allah, menyatakan bahwa
“peran front dukungan sangat menonjol dalam putaran penting selama dua tahun ini.”
 
Ia mengatakan bahwa Hizbullah berada di garis depan front dukungan, dengan keteguhan, kontribusi kepemimpinan yang besar, pengaruh kuat, dan pengorbanan luar biasa.
 
Al-Houthi menegaskan bahwa pendudukan Zionis Israel, bekerja sama dengan Amerika Serikat, berupaya memaksakan ‘doktrin pelanggaran’ sambil terus menyalahkan korban.
 
Ia menambahkan bahwa pendudukan Zionis Israel berusaha melucuti Lebanon dari senjata yang melindunginya serta melemahkan kemampuan yang telah mencegahnya menguasai Gaza selama dua tahun terakhir.
 
Menurutnya, mereka yang bekerja sama dengan pendudukan Zionis Israel “melakukannya tanpa memedulikan kerugian besar yang ditimbulkannya bagi kawasan,” dan menegaskan bahwa rencana kolonial yang lebih luas masih bertujuan mewujudkan apa yang disebut sebagai ‘Zionis Israel Raya.’
 
Terkait operasi militer dari Yaman untuk mendukung Gaza, Sayyid al-Houthi mengungkapkan bahwa:
“Sebanyak 1.830 operasi telah dilakukan, mencakup rudal balistik dan jelajah, pesawat nirawak, serta operasi laut.”
 
Ia menambahkan bahwa “228 kapal yang terhubung dengan musuh menjadi target dalam operasi maritim,” yang memaksa pendudukan Israel menutup pelabuhan Umm al-Rashrash selama dua tahun, sehingga menimbulkan kerugian ekonomi besar.
 
Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa dalam menghadapi agresi Amerika yang mendukung rezim Israel, 22 pesawat MQ-9 berhasil ditembak jatuh, dan pasukan Ansar Allah terlibat pertempuran dengan lima kapal induk AS beserta kapal pengiringnya, hingga memaksa mereka mundur.
 
Ia juga menambahkan bahwa serangan udara Amerika dan Zionis Israel terhadap Yaman telah mencapai hampir 3.000 serangan.[IT/r]
 
 
Comment