Kemenangan Zohran Mamdani di New York dan Dampaknya bagi Politik AS serta Dunia
Story Code : 1245560
Mayor-Elect Zohran Mamdani speaks during a press conference at the Unisphere, in the Queens borough of New York City
Mamdani, seorang progresif muda keturunan Uganda–India, adalah putra dari akademisi terkemuka Mahmoud Mamdani dan pembuat film Mira Nair. Latar belakang multikulturalnya dan sikap politiknya yang tegas menempatkannya di jantung gerakan baru yang menghubungkan perjuangan keadilan sosial di dalam negeri dengan perjuangan pembebasan di luar negeri—terutama di Palestina dan Gaza.
Siapa Zohran Mamdani?
Mamdani, 33 tahun, pertama kali terjun ke dunia politik sebagai anggota Majelis Negara Bagian New York yang mewakili Astoria, Queens. Dikenal karena energinya, keterus-terangannya, dan daya tarik akar rumputnya, ia telah menjadi salah satu tokoh paling menonjol dalam sayap progresif Partai Demokrat yang tengah berkembang.
Lahir di Kampala, Uganda, dan dibesarkan di New York, Mamdani mewujudkan pengalaman seorang imigran yang merasakan ketidakadilan sistemik sekaligus memiliki kewajiban moral untuk melawannya. Ia berulang kali menegaskan bahwa politiknya didorong oleh empati dan solidaritas—nilai-nilai yang ia telusuri dari kisah keluarganya sendiri tentang pengungsian dan ketahanan.
Kemenangannya bukan sekadar keberhasilan politik; ia merupakan simbol perlawanan moral, sebuah pernyataan yang menantang sikap diam Washington terhadap Gaza dan struktur penindasan global yang menopangnya.
“Keadilan,” sering dikatakan Mamdani, “tidak boleh selektif. Jika tidak mencakup Gaza, maka itu bukan keadilan.”
Kampanye yang Berakar pada Kemanusiaan
Kampanye Mamdani dibangun di atas platform keadilan perumahan, kesetaraan ekonomi, reformasi keamanan publik, dan transportasi umum gratis. Ia berjanji akan memberlakukan pembekuan sewa, memperluas perumahan sosial, serta mengalihkan anggaran publik dari kepolisian ke pendidikan dan investasi komunitas.
Dalam wawancaranya dengan Al-Jazeera, ia menggambarkan kampanyenya sebagai “perjuangan bagi kelas pekerja,” menegaskan bahwa New York harus melayani rakyatnya, bukan para miliardernya. Ia juga menyerukan penyelarasan moral baru dalam pemerintahan kota—yang menempatkan martabat manusia di atas keuntungan.
Elemen penting lainnya dari kampanyenya adalah transparansi dan akuntabilitas dalam kepolisian, dengan komitmen untuk membatasi pengawasan dan memulihkan kepercayaan masyarakat—sikap yang membuatnya menuai pujian sekaligus kritik keras dari kalangan elit politik.
Isu-isu Krusial yang Akan Diperjuangkannya
Mamdani telah mengidentifikasi perumahan terjangkau, reformasi transportasi umum, dan kesetaraan sosial sebagai prioritas domestik utamanya. Namun, ia juga menekankan pentingnya kepemimpinan moral dalam isu internasional, terutama terkait Palestina.
Ia termasuk sedikit politisi AS yang secara terbuka menyebut tindakan Israel di Gaza sebagai “genosida”, istilah yang kerap ia gunakan sejak serangan Zionis Israel pada 2024. Ia bersikeras bahwa diam di hadapan kekejaman seperti itu berarti turut berkomplot, pernyataan yang menggema kuat di kalangan komunitas Arab dan Muslim, serta di antara kaum progresif muda Amerika yang menuntut konsistensi antara etika kebijakan domestik dan luar negeri.
Kekhawatiran Zionis Israel: Lonceng Peringatan di ‘Tel Aviv’
Reaksi Israel terhadap kemenangan Mamdani diwarnai kegelisahan dan kekhawatiran. Harian Zionis Israel Yedioth Ahronoth menulis:
“Kemenangan Zohran Mamdani sebagai wali kota New York bukanlah peristiwa sepele. Ini mencerminkan tren yang semakin meluas yang mempertanyakan legitimasi negara Yahudi itu sendiri dan haknya untuk menentukan nasibnya sendiri.”
“Sungguh mencengangkan bahwa New York—kota yang menyaksikan serangan 11 September dan menjadi rumah bagi komunitas Yahudi terbesar di dunia—memilih seorang tokoh Muslim yang dikenal karena kritik tajamnya terhadap Zionis Israel.”
“Kemenangan ini membuktikan bahwa Zionis Israel tidak lagi menikmati konsensus di dalam masyarakat Amerika, di tengah meningkatnya pengaruh kaum Demokrat progresif,” tambah surat kabar Zionis tersebut.
Selain itu, Menteri Urusan Diaspora Zionis Israel juga menyampaikan kekhawatiran, menyatakan bahwa “Terpilihnya Zohran Mamdani sebagai wali kota New York adalah peristiwa global, bukan sekadar peristiwa Amerika.”
Pernyataan-pernyataan tersebut mencerminkan ketakutan yang tumbuh di ‘Tel Aviv’ bahwa benteng konsensus pro-Zionis Israel di Amerika mulai retak—bukan melalui slogan, tetapi melalui pilihan demokratis jutaan pemilih.
Pernyataan Mamdani tentang Pendudukan Zionis Israel Menuai Sorotan
Selama kampanyenya, Zohran Mamdani mengatakan bahwa jika terpilih sebagai wali kota, ia akan menangkap Perdana Menteri Zionis Benjamin Netanyahu jika mengunjungi New York, dengan mengacu pada surat perintah penangkapan Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Netanyahu kemudian menepis pernyataan itu sebagai “ancaman konyol,” menurut New York Post.
Dalam sebuah forum pada Mei 2025, Mamdani menyatakan bahwa ia percaya entitas pendudukan Zionis Israel “memiliki hak untuk eksis,” meskipun ia menghindari menyebutnya sebagai “negara Yahudi”—sikap yang menuai reaksi beragam dari pendukung maupun pengkritiknya. Times of Israel mencatat bahwa ia membingkai pandangannya dalam konteks “hak yang setara bagi semua.”
Mamdani juga aktif dalam advokasi pro-Palestina, sebelumnya mengkritik Departemen Kepolisian New York (NYPD) atas penanganannya terhadap protes mahasiswa di Universitas Columbia. Namun, beberapa aktivis mengatakan kepada Al-Jazeera bahwa ia telah melunakkan sebagian retorika sebelumnya sambil mempersiapkan diri untuk jabatan yang lebih tinggi.
Pada 2023, Mamdani mengutuk Operasi Badai Al-Aqsa oleh Hamas pada 7 Oktober, menyebutnya sebagai “kejahatan perang yang mengerikan.” Evolusi sikapnya mencerminkan tantangan yang dihadapi politisi progresif dalam menavigasi isu Timur Tengah di kancah politik elektoral Amerika Serikat.
Kemenangan yang Melampaui Batas
Secara hakikat, kemenangan Zohran Mamdani lebih dari sekadar peristiwa politik. Ini adalah pernyataan moral bahwa keadilan bagi Gaza, kesetaraan bagi warga New York, dan martabat bagi semua yang tertindas merupakan perjuangan yang saling terhubung.[IT/r]