Kemendagri Mengatakan Telah Melakukan Operasi Terhadap Sel-Sel ISIS di Suriah
Story Code : 1245896
Syrian security forces rest near a damaged building as they deploy in Busra al-Harir village, in southern Syria
Kementerian Dalam Negeri Suriah mengatakan bahwa pasukan keamanannya, bersama dengan Direktorat Intelijen Umum, telah melaksanakan operasi besar-besaran terhadap sel-sel ISIS di beberapa provinsi, berdasarkan intelijen yang sangat rinci dan pengawasan terus-menerus terhadap pergerakan mereka, menurut laporan dari SANA.
Dalam sebuah pernyataan yang dirilis melalui saluran Telegram-nya, kementerian menjelaskan bahwa operasi ini merupakan bagian dari upaya nasional yang lebih luas untuk memerangi terorisme dan menangkal plot-plot yang mengancam keamanan negara serta keselamatan warga negara.
Pernyataan tersebut menyebutkan bahwa razia tersebut mengakibatkan pembongkaran beberapa sel teroris, penangkapan sejumlah individu yang dicari, dan penyitaan bahan-bahan serta bukti yang terkait dengan aktivitas mereka, yang saat ini sedang dianalisis dalam proses penyelidikan yang terus berlanjut.
Menurut pernyataan tersebut, operasi ini mencerminkan tingkat koordinasi yang tinggi antara lembaga-lembaga keamanan dan efektivitas mereka dalam mengatasi ancaman secara proaktif, serta menegaskan komitmen mereka untuk melindungi keamanan dan stabilitas negara.
Ancaman ISIS di Suriah Terus Berlanjut Meski Telah Terpukul Secara Teritorial
Meskipun ISIS telah kehilangan wilayah yang dikuasainya, ancaman yang ditimbulkan oleh kelompok ini tetap ada di Suriah. Kelompok ini telah beralih dari mengendalikan wilayah menjadi beroperasi melalui sel-sel terdesentralisasi, yang terutama berada di daerah-daerah terpencil dan tidak stabil. Menurut Peace Research Institute Frankfurt (PRIF), sekitar 2.500 pejuang ISIS masih aktif di Suriah dan Irak, mempertahankan kemampuan kelompok tersebut untuk merencanakan dan melancarkan serangan.
ISIS memanfaatkan fragmentasi kontrol di Suriah untuk membangun kembali posisi di daerah-daerah seperti gurun al-Safa dan sebagian wilayah timur Homs. Pada bulan Oktober, kelompok ini mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang menargetkan pasukan pemerintah di Sweida, yang menandai operasi pertama mereka dalam beberapa bulan terakhir. Daerah-daerah ini memberikan kebebasan relatif bagi para militan untuk berlatih, berkumpul kembali, dan menghindari deteksi.
Ancaman ini juga melampaui perbatasan Suriah. Sebuah laporan dari European Union Agency for Asylum (EUAA) memperingatkan bahwa ketidakstabilan di Suriah dapat memungkinkan para jihadist untuk bermigrasi ke barat atau mengaktifkan sel-sel tidur di luar negeri. Intelijen Prancis juga telah mengangkat kekhawatiran mengenai upaya ISIS untuk berkoordinasi dengan afiliasi-afiliasi asing, yang semakin memperbesar potensi ancaman transnasional kelompok ini.
Sementara itu, kamp-kamp penahanan di Suriah timur laut, seperti al-Hol dan Roj, menampung ribuan individu yang terafiliasi dengan ISIS, termasuk wanita dan anak-anak. Banyak yang masih berkomitmen secara ideologis, dan para ahli keamanan terus menggambarkan fasilitas-fasilitas ini sebagai risiko keamanan jangka panjang karena potensi pelarian atau rekrutmen di masa depan.
ISIS Melancarkan Serangan Sporadis di Suriah
Dalam salah satu insiden paling mematikan dalam beberapa bulan terakhir, sebuah bom bunuh diri menargetkan Gereja Nabi Elias di dekat Damaskus pada 22 Juni 2025, yang menewaskan sedikitnya 22 orang. Serangan tersebut, yang diklaim oleh ISIS, menandai eskalasi yang mengkhawatirkan dalam kelompok ini yang menargetkan ruang publik sipil.
Pada 16 Oktober 2025, sebuah perangkat peledak meledak di sebuah bus yang mengangkut personel Kementerian Energi dekat Deir Az Zor, menewaskan empat orang dan melukai sembilan lainnya. Media negara Suriah menyalahkan ISIS atas ledakan tersebut, yang terjadi di area yang sudah dikenal dengan aktivitas militan sebelumnya.
Pasukan Demokratik Suriah (SDF) melaporkan pada 1 November 2025 bahwa mereka menangkap sel ISIS yang terdiri dari lima orang di utara Raqqa, dan mencatat bahwa kelompok tersebut diduga berada di tahap akhir dalam merencanakan serangan terhadap instalasi keamanan di wilayah tersebut.
Menurut laporan Reuters pada 12 Juni 2025, para pejabat keamanan di Suriah dan Irak telah menggagalkan lebih dari selusin plot ISIS tahun ini. Intelijen menunjukkan bahwa kelompok ini sedang aktif mengumpulkan senjata dan mengaktifkan kembali sel-sel tidur untuk persiapan serangan lanjutan.[IT/r]