0
Saturday 15 November 2025 - 03:34
Pertahanan Iran:

Komandan Kedirgantaraan IRGC Janjikan Respons Telak terhadap Setiap Agresi di Masa Depan

Story Code : 1246981
Brigadier General Seyyed Majid Mousavi, chief commander of the IRGC Aerospace Force
Brigadier General Seyyed Majid Mousavi, chief commander of the IRGC Aerospace Force
Brigadir Jenderal Sayyid Majid Mousavi, komandan tertinggi Pasukan Kedirgantaraan IRGC, menyampaikan pernyataan tersebut pada hari Kamis (13/11) di sela-sela sebuah acara di Teheran untuk menghormati para syuhada pasukan tersebut.
 
Mousavi menegaskan bahwa siapa pun yang berpotensi melakukan agresi harus berpikir dua kali sebelum mempertimbangkan tindakan permusuhan terhadap bangsa Iran. Ia berjanji untuk menjaga warisan para syuhada, yang ia sebut sebagai “fondasi utama kemampuan pertahanan Iran.”
 
Dalam sambutannya, Mousavi memberikan penghormatan kepada Syahid Hassan Tehrani Moghaddam, memuji visi strategisnya dalam mengidentifikasi dan melawan ancaman.
 
Tehrani Moqaddam dikenal sebagai “bapak program rudal Iran”, seorang perencana militer visioner yang mendahului zamannya. Ia memainkan peran penting dalam mengembangkan kemampuan rudal dalam negeri Iran selama perang yang dipaksakan pada 1980-an dan melatih banyak komandan kedirgantaraan yang melanjutkan misinya.
 
Jenderal Mousavi kini memimpin divisi kedirgantaraan IRGC setelah kesyahidan Jenderal Amirali Hajizadeh, pendahulunya, dalam agresi militer Zionis Israel terhadap Iran pada bulan Juni. Hajizadeh merupakan salah satu murid terbaik dari sekolah pemikiran Tehrani Moqaddam dan melanjutkan misinya hingga ia gugur awal tahun ini.
 
Mousavi pada hari Kamis (13/11) menekankan bahwa pengaruh Tehrani Moghaddam yang abadi berasal dari kemampuannya yang luar biasa dalam mengenali bahaya dan mengambil tindakan tegas.
 
“Syahid ini meninggalkan warisan bagi seluruh rakyat Iran, yang dikenal sebagai poros kekuatan pertahanan negara,” ujar Mousavi.
 
Acara tersebut tidak hanya memperingati para komandan yang gugur, tetapi juga meneguhkan kembali komitmen Iran untuk meningkatkan kekuatan pertahanannya.
 
Mousavi menekankan bahwa pengorbanan para syuhada memainkan peran penting dalam membentuk kekuatan militer Iran, dan ia berjanji untuk terus mengikuti jalan mereka.
 
Ia juga menyoroti bahwa kemampuan Iran telah diperkuat oleh kontribusi Syahid Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh, komandan Divisi Kedirgantaraan IRGC, serta Kepala Staf Angkatan Bersenjata Mayor Jenderal Mohammad Bagheri.
 
“Kami akan melanjutkan warisan para syuhada dengan tekad, dan akan membuat musuh bertekuk lutut jika mereka melakukan kesalahan sekecil apa pun,” tegasnya.
 
Brigadir Jenderal Abolfazl Shekarchi, juru bicara senior angkatan bersenjata Iran, menggemakan pernyataan Mousavi, menegaskan bahwa Iran tidak akan melemah dalam upayanya memperkuat kemampuan pertahanan.
 
“Kami tidak akan melemah dalam keadaan apa pun,” kata Shekarchi.
 
Ia juga mengulangi keinginan kuat Tehrani Moghaddam untuk menyaksikan kehancuran rezim Zionis, dan menyatakan keyakinannya bahwa ambisi tersebut pada akhirnya akan terwujud.
“Darah syuhada seperti Amir Ali Hajizadeh mengalir di nadi bangsa kami dan pasukan ini, memberi kami kekuatan,” ujar juru bicara Angkatan Bersenjata tersebut, menekankan bahwa setiap kehilangan justru memperkuat tekad dan komitmen Iran terhadap keamanan nasionalnya.
 
Tehrani Moqaddam pernah berpesan: “Saat aku mati, tulislah di nisanku: di sini bersemayam orang yang ingin menghancurkan Zionis Israel.”
 
Pada 13 Juni, Zionis Israel melancarkan agresi terang-terangan dan tanpa provokasi terhadap Iran, memicu perang 12 hari yang menewaskan sedikitnya 1.064 orang, termasuk komandan militer, ilmuwan nuklir, dan warga sipil.
 
Amerika Serikat juga memasuki perang dengan membombardir tiga situs nuklir Iran, sebuah pelanggaran berat terhadap hukum internasional.
 
Sebagai respons, Angkatan Bersenjata Iran menargetkan situs-situs strategis di wilayah pendudukan serta pangkalan udara al-Udeid di Qatar, pangkalan militer terbesar AS di Asia Barat.
 
Pada 24 Juni, melalui operasi balasan yang sukses terhadap rezim Israel dan AS, Iran berhasil menghentikan serangan teroris tersebut.
 
Sebuah situs berita independen terkemuka AS, The Grayzone, baru-baru ini mengungkapkan bahwa selama perang 12 hari di bulan Juni, Iran menargetkan sebuah menara di pusat Tel Aviv yang berada di atas bunker intelijen rahasia Zionis Israel–AS yang dikenal sebagai Site 81, yang terletak di bawah kompleks apartemen Da Vinci.
 
Serangan tersebut sangat presisi, menghantam berbagai situs militer dan intelijen strategis, termasuk universitas-universitas yang terkait dengan lembaga militer seperti Institut Weizmann, yang mengalami kerusakan senilai $570 juta.
 
Sensor ketat di Israel mencegah peliputan detail serangan ini; media dibungkam dan jurnalis dihalangi mendekati lokasi dampak. Serangan tersebut menunjukkan tingkat akurasi rudal Iran dan menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur militer sensitif Zionis Israel.
 
Kemampuan Iran melancarkan serangan seperti itu, meski ada upaya Zionis Israel dan AS untuk mengganggu situs peluncuran rudal, menunjukkan program rudal yang tangguh dan adaptif. Hal ini menegaskan kesiapan operasional Tehran untuk melakukan serangan balasan profil tinggi kapan pun diperlukan.[IT/r]
 
 
Comment