GCC Kecam Serangan Israel di Suriah sebagai Pelanggaran Berat Hukum Internasional
Story Code : 1251175
Dalam komunike akhir sesi ke-46 Dewan Tertinggi GCC di Manama, Bahrain, pada Rabu, blok kawasan Teluk itu menentang agresi Israel yang terus berlangsung di Suriah, menyebutnya sebagai serangan “terang-terangan” terhadap kedaulatan dan stabilitas negara tersebut.
GCC menegaskan bahwa tindakan agresi tersebut merusak keamanan, kesatuan, integritas wilayah, serta kesejahteraan rakyat Suriah.
Blok itu kembali menegaskan bahwa Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel merupakan bagian dari wilayah Suriah, mengecam ekspansi Israel di kawasan strategis itu, rencana perluasan permukiman, serta pendudukan zona penyangga di sepanjang perbatasan Suriah sebagai “pelanggaran berat” terhadap Piagam PBB, hukum internasional, dan resolusi Dewan Keamanan yang relevan.
GCC mendesak Dewan Keamanan PBB dan komunitas internasional untuk memenuhi tanggung jawab hukum dan moral mereka dengan menghentikan serangan terhadap wilayah Suriah dan memastikan penarikan penuh Israel dari seluruh tanah Suriah yang diduduki.
Menurut data rezim Hay’at Tahrir al-Sham (HTS) yang berkuasa di Suriah, Israel telah melakukan lebih dari 1.000 serangan udara di negara itu dan lebih dari 400 pelanggaran lintas batas ke provinsi-provinsi selatan sejak Desember 2024.
Dalam pelanggaran terbaru terhadap kedaulatan Suriah, drone Israel menyerang sebuah area di pinggiran Damaskus pada Rabu.
Kantor berita lokal Al-Ikhbariyah Syria melaporkan bahwa serangan drone menargetkan Tel Bat al-Warda, dekat desa Beit Jinn di pinggiran Damaskus.
Selain itu, Kantor Berita Arab Suriah (SANA) melaporkan beberapa serangan drone terjadi di sekitar Beit Jinn.
Belum ada laporan mengenai korban jiwa atau besaran kerusakan akibat serangan tersebut.
Menurut SANA, pesawat pengintai Israel melakukan penerbangan intensif di wilayah barat Damaskus dan wilayah utara Quneitra.
Israel telah berulang kali melancarkan operasi agresif di Suriah sejak runtuhnya pemerintahan mantan Presiden Bashar al-Assad pada akhir tahun lalu.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah memerintahkan pasukannya untuk maju lebih jauh ke wilayah Suriah sejak itu, dengan menargetkan penguasaan sejumlah lokasi strategis.
Israel juga meningkatkan kehadirannya di Suriah dengan mengambil alih zona penyangga yang memisahkan Dataran Tinggi Golan yang diduduki dari wilayah Suriah lainnya—melanggar ketentuan perjanjian pemisahan tahun 1974.
Para analis mengatakan bahwa sikap permisif rezim HTS telah mendorong rezim Israel meningkatkan pendudukan teritorialnya di Suriah dan memperbanyak serangan udara di kawasan tersebut. [IT/G]