0
Friday 5 December 2025 - 03:37
Iran dan Regional:

Penasihat Pertahanan Imam Khamenei Peringatkan Blok Teluk Persia untuk Tidak Bermain-main dengan 'Garis Merah' Iran

Story Code : 1251304
Ali Shamkhani, a representative of Leader of the Islamic Revolution Ayatollah Seyyed Ali Khamenei to the Defense Council
Ali Shamkhani, a representative of Leader of the Islamic Revolution Ayatollah Seyyed Ali Khamenei to the Defense Council
Ali Shamkhani mengeluarkan peringatan tersebut dalam sebuah unggahan di akun X miliknya pada hari Kamis sebagai reaksi atas komunike akhir KTT GCC ke-46, yang diselenggarakan di Bahrain pada hari Rabu (3/12).
 
Dalam komunike tersebut, dewan menegaskan kembali posisi lamanya terkait Pulau Tunb Besar, Tunb Kecil, dan Abu Musa di Teluk Persia, memperbarui dukungan penuhnya terhadap klaim kedaulatan UEA atas ketiga pulau tersebut. Dewan menekankan bahwa pulau-pulau ini merupakan bagian integral dari wilayah UEA. Komunike tersebut juga mengklaim bahwa seluruh kepemilikan ladang gas Arash berada di perairan teritorial Kuwait, dan bahwa semua sumber daya alamnya semata-mata berada di dalam Zona Terendam Terbagi Kuwait-Saudi.
 
Dalam postingannya, Shamkhani menggambarkan isu-isu tersebut sebagai garis merah Iran.
 
"Peran negara tetangga adalah menciptakan keamanan, bukan mempermainkan garis merah bangsa Iran," ujarnya.
 
Ia memperingatkan bahwa klaim "tidak konstruktif" GCC terkait kepulauan Iran dan ladang Arash kembali dimunculkan di tengah tindakan jahat Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel.
 
Perwakilan Pemimpin tersebut menekankan bahwa Iran menahan diri selama 12 hari perang Zionis Israel-Amerika pada pertengahan Juni meskipun beberapa negara mendukung agresi tersebut, dan memperingatkan "kekuatan Iran di Teluk Persia tidak boleh disalahartikan."
 
Kepulauan Abu Musa dan Tunb Besar dan Tunb Kecil di Teluk Persia secara historis merupakan milik Iran, sebuah fakta yang diperkuat oleh berbagai catatan sejarah, hukum, dan geografis baik di Iran maupun internasional. Namun, Uni Emirat Arab telah berulang kali mengklaim kepulauan tersebut.
 
Kepulauan tersebut jatuh di bawah kendali Inggris pada tahun 1921, tetapi pada 30 November 1971, sehari setelah pasukan Inggris meninggalkan wilayah tersebut dan hanya dua hari sebelum UEA resmi menjadi federasi, kedaulatan Iran atas kepulauan tersebut dipulihkan.
 
Perselisihan ladang gas Arash, yang oleh Kuwait disebut al-Durra, bermula pada tahun 1960-an ketika Iran dan Kuwait diberikan konsesi lepas pantai yang tumpang tindih untuk ladang tersebut setelah penemuannya.
 
Ladang tersebut diperkirakan memiliki cadangan gas sebesar 20 triliun kaki kubik, dengan kapasitas produksi satu miliar kaki kubik per hari. Hampir 40% ladang gas Arash terletak di perairan Iran.[IT/r]
 
Comment