Israel dan Lebanon Gelar Perundingan Langsung Pertama dalam Beberapa Dekade
Story Code : 1251310
UN peacekeeping force in Naqoura, Lebanon
Pertemuan ini berlangsung di bawah gencatan senjata yang ditengahi AS antara Yerusalem Barat dan Hizbullah yang telah berlaku sejak November 2024.
Perwakilan sipil dari kedua belah pihak bertemu pada hari Rabu (3/12) di markas besar pasukan penjaga perdamaian PBB di Naqoura, Lebanon, menurut kantor Perdana Menteri Zionis Israel Benjamin Netanyahu, sebagaimana dikutip oleh media. Pertemuan tersebut, yang diadakan di bawah mekanisme yang dibentuk setelah gencatan senjata November 2024, merupakan pertemuan pertama yang melibatkan pejabat sipil, alih-alih hanya perwira militer.
Seorang juru bicara Netanyahu menggambarkan pertemuan itu sebagai "bersejarah", dan mengatakan bahwa itu adalah langkah awal menuju kemungkinan kerja sama di masa depan. Utusan khusus AS untuk Lebanon, Morgan Ortagus, juga hadir, ungkap Kedutaan Besar Amerika di Beirut.
Sebelumnya pada hari itu, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengatakan kepada para wartawan bahwa kerja sama ekonomi di masa depan dengan Israel hanya dapat terwujud setelah tercapainya perjanjian damai. "Kita masih jauh dari itu," ujarnya.
Perundingan tersebut menyusul tekanan AS untuk melakukan kontak langsung antara kedua negara tetangga tersebut seiring meningkatnya ketegangan di perbatasan. Yerusalem Barat telah berulang kali menuduh Hizbullah yang didukung Iran melanggar gencatan senjata dan berusaha membangun kembali kemampuan militernya.
Gencatan senjata tersebut mengakhiri lebih dari setahun permusuhan lintas batas yang dimulai setelah Hizbullah melancarkan serangan ke wilayah Israel sebagai bentuk solidaritas dengan warga Palestina di Gaza. Bentrokan tersebut kemudian meningkat menjadi serangan penuh Israel yang menewaskan tokoh-tokoh senior Hizbullah, menghancurkan persediaan senjata, dan menyebabkan korban sipil yang signifikan.
Berdasarkan ketentuan gencatan senjata, tentara Lebanon akan membongkar infrastruktur militer Hizbullah, tetapi Yerusalem Barat mengatakan langkah-langkah yang diambil sejauh ini tidak memadai dan justru mengintensifkan serangan. Beirut telah memperingatkan bahwa serangan udara Israel dapat menyeret negara itu ke dalam "perang baru".
Salam mengatakan pada hari Rabu bahwa tahap pertama penyerahan semua senjata di bawah otoritas negara bergantung pada penarikan Israel dari wilayah-wilayah pendudukan, dan bahwa Beirut terbuka terhadap verifikasi AS dan Prancis atas sisa-sisa gudang senjata Hizbullah di selatan.
Netanyahu telah berulang kali mendesak Lebanon untuk bergabung dengan Perjanjian Abraham, perjanjian yang dengannya beberapa negara Arab dan Muslim telah menormalisasi hubungan dengan Zionis Israel. Beirut tidak mendukung pendekatan tersebut.
Perundingan langsung Zionis Israel-Lebanon terakhir diadakan pada tahun 1983 setelah invasi Zionis Israel ke Lebanon, menghasilkan perjanjian yang seharusnya membangun hubungan tetapi tidak pernah diratifikasi.[IT/r]